Jakarta, TeropongJakarta.com – Mimpi menjadi prajurit TNI tidak selalu terwujud dalam sekali percobaan. Serda (K) Zahra Amalia Nurhidayati justru harus melewati serangkaian kegagalan sebelum akhirnya berhasil menjadi prajurit TNI Angkatan Darat dan dipercaya menjalankan misi perdamaian dunia bersama Kontingen Garuda.
Perjalanan itu dimulai setelah Zahra lulus dari SMAN 1 Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat, pada 2020. Pada tahun yang sama, ia mendaftarkan diri dalam seleksi TNI. Namun, langkah pertamanya belum berhasil.
Tak berhenti di sana, Zahra mencoba seleksi sekolah kedinasan STTD. Hasilnya kembali belum sesuai harapan. Pada 2021, ia kembali mencoba STTD, tetapi lagi-lagi harus menerima kegagalan.
Alih-alih menyerah, Zahra kemudian mengikuti SBMPTN dan berhasil diterima di Universitas Tidar, Magelang. Ia mengambil jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, dan menjalani perkuliahan selama hampir empat semester.

“Sejak kecil, saya telah bercita-cita menjadi seorang prajurit TNI. Saya tumbuh di lingkungan asrama TNI, sehingga terbiasa menyaksikan kehidupan dan kedisiplinan para prajurit,” ujar Zahra.
Tekad tersebut membuat Zahra kembali mempersiapkan diri untuk seleksi TNI AD pada 2022. Saat itu pandemi COVID-19 masih berlangsung dan perkuliahan dilakukan secara daring.
Di tengah kesibukan sebagai mahasiswa, Zahra rutin mengikuti bimbingan jasmani sekitar empat kali dalam sepekan. Latihannya meliputi lari, renang, ketahanan fisik, dan latihan lainnya. Ia juga mengikuti les psikologi dua kali dalam seminggu dengan perjalanan sekitar tiga jam dari Magelang ke Semarang.
“Bagi saya, tantangan terbesar sebenarnya adalah diri saya sendiri. Ada saat-saat ketika merasa lelah, jenuh, bahkan muncul kekhawatiran apakah semua usaha ini akan berhasil,” tuturnya.
Namun, Zahra memilih mempertahankan fokus pada tujuan. Dukungan orang tua dan keyakinan bahwa setiap usaha tidak akan sia-sia menjadi sumber kekuatannya.
Perjuangan itu akhirnya terbayar. Pada 2022, Zahra berhasil lolos seleksi dan menjadi bagian dari TNI AD.
Tiga tahun kemudian, perjalanan pengabdiannya membawanya ke Republik Afrika Tengah. Pada 2025 – 2026, ia dipercaya menjadi bagian dari Satgas Kizi TNI Kontingen Garuda XXXVII-L MINUSCA dalam misi perdamaian PBB.

Hampir 11 bulan berada jauh dari Tanah Air, Zahra menjalankan tugas sebagai bagian dari Tim Penerangan Satgas. Ia mendokumentasikan aktivitas prajurit Indonesia sekaligus mengabadikan kehidupan selama menjalankan misi internasional.
“Setiap gambar yang kami hasilkan memiliki cerita tentang bagaimana prajurit Indonesia menjalankan tugas dan pengabdian dalam misi perdamaian,” katanya.
Di tengah tugas tersebut, Zahra juga berkesempatan berinteraksi dengan masyarakat lokal, mengenal budaya Republik Afrika Tengah, serta bekerja bersama personel dari berbagai negara.
Baginya, pengalaman tersebut bukan sekadar penugasan ke luar negeri. Misi MINUSCA menjadi ruang untuk belajar beradaptasi, bekerja sama, sekaligus memahami bahwa setiap prajurit memiliki peran dalam pengabdian.
Sekitar satu bulan lagi, Zahra dijadwalkan menyelesaikan misi dan kembali ke Tanah Air pada November 2026.
Dari kegagalan berkali-kali hingga dipercaya membawa nama Indonesia dalam misi perdamaian PBB, perjalanan Zahra menjadi bukti bahwa sebuah cita-cita dapat membutuhkan proses panjang.
“Kesempatan seperti ini tidak dimiliki semua prajurit. Karena itu, saat kita diberikan kesempatan, kita harus melakukan yang terbaik dan bersyukur atas apa yang sudah didapatkan,” pungkasnya.
