Jakarta, TeropongJakarta.com – Perempuan Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak perubahan di berbagai sektor, mulai dari ekonomi, kepemimpinan, hingga politik. Namun, potensi tersebut dinilai belum sepenuhnya optimal akibat masih adanya stigma budaya, keterbatasan akses, serta minimnya ruang bagi perempuan untuk mengambil peran strategis. Berangkat dari kegelisahan itu, Wa Ode Suliana Kais terus menggaungkan pentingnya pemberdayaan perempuan melalui penguatan ekonomi, kepemimpinan, dan partisipasi politik.
Di tengah aktivitasnya sebagai pengusaha, Wa Ode Suliana Kais juga aktif mengemban berbagai amanah. Ia menjabat Direktur PT Tambang Indonesia Sejahtera, Direktur PT Iworth Global Mining.inc (Iworth International Singapura), Komisaris PT Gunung Bintan, Owner Barbeauderm Clinic. Dewan Penasehat Girls Squad Community, Ketua Bidang Kesetaraan Gender PP Angkatan Muda Partai Golkar, Ketua Bidang Organisasi VIII Kordinator Daerah Sulawesi Bagian Selatan DPP KNPI, serta Kompartemen Kesehatan BPP HIPMI.
Baginya, keputusan terjun ke dunia politik bukan sekadar langkah karier, melainkan bentuk pengabdian untuk menghadirkan perubahan yang lebih nyata bagi masyarakat.
“Saya percaya perubahan yang mendasar tidak cukup hanya dilakukan melalui gerakan sosial. Politik adalah ruang untuk menyusun kebijakan, menetapkan aturan, dan memastikan hak-hak perempuan maupun kelompok yang kurang terlayani mendapatkan kesempatan yang setara,” ujar Wa Ode.
Ia menilai politik harus menjadi wadah untuk menghadirkan solusi, bukan sekadar arena menyampaikan janji. Karena itu, dirinya ingin menjadi jembatan yang membawa aspirasi masyarakat, khususnya perempuan, agar dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang benar-benar memberikan dampak.
Selain aktif di dunia politik, Wa Ode mengaku pengalaman sebagai pengusaha telah membentuk karakter kepemimpinannya. Dunia usaha mengajarkannya pentingnya disiplin, keberanian mengambil keputusan, kemampuan mengelola sumber daya, serta tanggung jawab terhadap setiap hasil yang dicapai.
Menurutnya, kemandirian ekonomi merupakan fondasi utama bagi perempuan untuk memperoleh posisi yang setara.
“Ketika perempuan memiliki kemampuan mengelola usaha dan mandiri secara finansial, mereka akan memiliki suara yang lebih kuat, pilihan hidup yang lebih luas, serta martabat yang semakin terjaga,” katanya.
Pandangan tersebut sejalan dengan kondisi nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 49,6 persen penduduk Indonesia atau sekitar 142 juta jiwa merupakan perempuan. Sementara itu, data BPS yang dikutip Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menunjukkan sekitar 64,5 persen pelaku UMKM di Indonesia dikelola oleh perempuan, serta 36,32 persen perempuan Indonesia berstatus sebagai pelaku usaha. Angka tersebut menunjukkan bahwa perempuan memiliki kontribusi besar dalam menggerakkan perekonomian nasional.
Meski demikian, Wa Ode menilai masih terdapat tantangan besar yang harus dihadapi perempuan Indonesia. Budaya patriarki, stereotip terhadap perempuan, hingga belum meratanya akses terhadap pendidikan, permodalan, dan kesempatan memimpin masih menjadi hambatan yang perlu diatasi bersama.
“Perempuan sering kali masih dipandang hanya layak berada di ruang tertentu. Padahal kemampuan perempuan tidak kalah. Yang dibutuhkan adalah kesempatan yang sama serta kebijakan yang berpihak pada kesetaraan,” ungkapnya.
Karena itu, melalui berbagai organisasi yang dipimpinnya, Wa Ode terus mendorong lahirnya program-program pemberdayaan perempuan. Mulai dari peningkatan literasi digital, pelatihan kewirausahaan, akses terhadap pembiayaan, hingga pembukaan ruang kepemimpinan bagi perempuan di organisasi maupun dunia politik.
Ia juga menekankan pentingnya menciptakan ruang yang aman bagi perempuan agar dapat berkarya tanpa rasa takut terhadap diskriminasi maupun kekerasan. Menurutnya, perlindungan hukum dan kebijakan yang adil menjadi syarat penting agar perempuan mampu berkembang secara maksimal.
Bagi perempuan muda yang masih ragu memulai usaha atau terjun ke dunia politik, Wa Ode berpesan agar tidak menunggu merasa sempurna sebelum melangkah.
“Jangan menunggu sempurna untuk memulai. Mulailah dari apa yang dimiliki, yang dikuasai, dan yang disukai. Keraguan adalah hal yang wajar, tetapi jangan sampai mengalahkan keberanian. Satu langkah kecil hari ini bisa menjadi awal perubahan besar bagi diri sendiri maupun perempuan lainnya,” tuturnya.
Ke depan, Wa Ode berharap semakin banyak perempuan Indonesia berani tampil sebagai pemimpin, inovator, dan pengusaha yang mampu memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Menurutnya, ketika perempuan memperoleh kesempatan yang setara dalam pendidikan, ekonomi, teknologi, dan politik, maka Indonesia akan memiliki kekuatan besar untuk mempercepat pembangunan nasional.
“Perempuan yang berdaya bukan hanya mengubah kehidupannya sendiri, tetapi juga menggerakkan keluarga, masyarakat, hingga bangsa. Ketika perempuan maju, Indonesia pun akan melangkah lebih cepat menuju masa depan yang inklusif, berdaya saing, dan berkeadilan,” pungkasnya.
