Kupang, TeropongJakarta.com – Kesempatan belajar ke luar negeri menjadi pengalaman yang mengubah cara pandang Ni Luh Putu Elsy terhadap pendidikan dan potensi diri. Perempuan asal Kota Kupang ini pernah menjadi penerima Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (KL-YES) pada 2018–2019.
Saat berangkat ke Amerika Serikat, Elsy bahkan belum genap berusia 17 tahun. Ia menjalani kehidupan sebagai pelajar pertukaran selama sekitar 10 bulan di Oregon.
Elsy mengetahui program tersebut dari kakak tingkat di SMA Negeri 3 Kupang yang sebelumnya berangkat ke Amerika Serikat. Sekolahnya juga rutin memberikan sosialisasi mengenai program KL-YES setiap tahun.
“Awalnya saya tahu dari kakak tingkat di sekolah saya di SMA Negeri 3 Kupang yang juga berangkat ke Amerika Serikat di tahun sebelumnya,” ujar Elsy.

Ia kemudian mencoba mengikuti seleksi. Prosesnya berlangsung kurang lebih satu tahun dan mencakup berbagai tahapan.
“Proses seleksinya sendiri memakan waktu kurang lebih satu tahun, meliputi tes tulis esai, wawancara, dan FGD,” katanya.
Setelah dinyatakan lolos, Elsy tinggal bersama keluarga angkat American-Australian di Keizer, Oregon. Berada jauh dari keluarga membuatnya harus belajar mandiri sejak usia muda.
“Waktu itu belum umur 17 tahun pas berangkat. Jadi tantangan tersendiri sih karena di Oregon, Amerika Serikat waktu itu 10 bulanan,” tuturnya.
Perbedaan waktu dan bahasa juga menjadi tantangan. Ia sempat mengalami jet lag serta harus menyesuaikan diri dengan aksen dan gaya bahasa Inggris keluarga angkatnya.
Namun, menurut Elsy, tantangan terbesar adalah rasa rindu kepada keluarga di Kupang.
“Rasa kangen dengan keluarga di rumah yang ada di Kupang, NTT selama 10 bulanan,” ungkapnya.

Beruntung, keluarga angkatnya sudah terbiasa menerima pelajar internasional. Mereka telah menjadi host family program AFS/KL-YES selama empat tahun.
Elsy juga memiliki adik angkat bernama Lizzy, penerima beasiswa asal Thailand. Keduanya sering berbagi cerita selama berada jauh dari negara masing-masing.
“Kami berdua suka bercerita dan berkeluh kesah bersama, jadi lumayan meringankan,” katanya.
Pengalaman bersekolah di McNary High School menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Elsy. Ia menemukan beragam pilihan kegiatan yang membuatnya memahami bahwa kemampuan seseorang tidak hanya diukur melalui nilai akademik.
“Saya tidak tahu bahwa definisi ‘pintar’ seluas itu,” ujarnya.

Ia mencoba paduan suara, teater, psikologi dan kesehatan, aerobik hingga semi-ballet dance team. Pengalaman tersebut membuatnya menyadari banyak potensi yang bisa digali ketika pelajar mendapatkan fasilitas dan kurikulum yang suportif.
Kini, Elsy kembali mengejar kesempatan pendidikan di Amerika Serikat dengan mulai mendaftarkan diri pada program beasiswa penuh.
“Saya jujur juga tidak menyangka akan terpilih dan bahkan terpikir untuk mendaftarkan diri awalnya. Tetapi karena dukungan dari sekolah dan keluarga, saya akhirnya mencoba,” katanya.
Bagi calon penerima beasiswa, Elsy berpesan, “Do it scared, do it imperfectly.”
