Jakarta, TeropongJakarta.com – Tidak semua pengalaman hidup mudah diceritakan, apalagi dituliskan menjadi sebuah karya. Bagi Dewi Lubis, kisah yang tersimpan dalam ingatan para pekerja migran Indonesia memiliki nilai yang tidak boleh hilang begitu saja. Berawal dari pengalamannya merantau ke Singapura pada 2019, ia terdorong membangun ruang literasi agar pengalaman sesama pekerja migran dapat didokumentasikan dan dibagikan kepada masyarakat luas.
Kehidupan di negeri orang mempertemukan Dewi dengan beragam pengalaman, percakapan, dan cerita keseharian pekerja migran Indonesia. Di balik rutinitas pekerjaan, terdapat perjalanan tentang perjuangan, kerinduan terhadap tanah air, penyesuaian budaya, hingga harapan yang terus dijaga meski jauh dari keluarga.
Dewi menyadari bahwa banyak pengalaman tersebut hanya tersimpan dalam ingatan masing-masing. Tidak sedikit orang yang memiliki cerita berharga, tetapi merasa tidak cukup mampu menuliskannya atau menganggap pengalaman pribadi mereka tidak penting untuk dibagikan.
Kesadaran inilah yang kemudian menjadi salah satu landasan perjalanan Dewi dalam mengembangkan gerakan literasi bagi pekerja migran Indonesia pada tahun 2023.
Dari kepedulian terhadap cerita-cerita yang berisiko terlupakan, Dewi menginisiasi Forum Penulis Migran Indonesia Singapura (FPMI-SG). Forum ini menjadi ruang bagi para pekerja migran untuk belajar menulis, bertukar pengalaman, dan saling mendukung dalam mengembangkan kemampuan kepenulisan.

Bagi Dewi, tantangan dalam gerakan literasi bukan hanya mengajarkan teknik menulis. Lebih dari itu, diperlukan lingkungan yang membuat seseorang merasa nyaman dan aman untuk mengungkapkan pengalaman hidupnya tanpa takut dianggap tidak menarik atau tidak layak dibaca.
“Melalui forum ini, kami membangun ruang aman untuk saling mendampingi, bukan hanya mengajarkan teknik menulis, tapi juga menjadi ruang penyembuhan dan pengembangan diri,” ujar Dewi.
Ia ingin para anggota memahami bahwa menulis tidak harus selalu dimulai dengan kemampuan merangkai kalimat yang sempurna. Pengalaman sehari-hari pun dapat menjadi bahan tulisan yang bermakna ketika disampaikan secara jujur dan bertanggung jawab.
Dukungan Asma Nadia sebagai penasihat umum turut menjadi bagian dari perjalanan komunitas tersebut. Dewi menekankan pentingnya menghargai suara asli setiap penulis agar pengalaman yang dituangkan tidak kehilangan karakter dan makna personalnya.

Perhatian Dewi terhadap pengalaman pekerja migran juga berkaitan dengan ketertarikannya pada ilmu hukum. Ia memandang kedua bidang tersebut sebagai jalan yang saling melengkapi untuk memahami kehidupan manusia, khususnya terkait hak dan keadilan.
Menurut Dewi, tulisan dapat membuka ruang bagi pengalaman yang jarang terdengar untuk memperoleh perhatian lebih luas. Sementara itu, pemahaman hukum membantu melihat persoalan di balik pengalaman tersebut melalui perspektif hak asasi manusia dan keadilan.
“Bagi saya, ilmu hukum dan literasi adalah dua hal yang saling melengkapi,” tuturnya.
Melalui pendekatan itu, kegiatan menulis tidak hanya menjadi sarana berekspresi, tetapi juga berpotensi meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai berbagai persoalan yang dihadapi pekerja migran dan perempuan Indonesia.
Selain mengembangkan komunitas, Dewi memanfaatkan penerbitan independen sebagai sarana mendokumentasikan tulisan pekerja migran dan perempuan Indonesia dari berbagai latar belakang.
Ia memandang buku bukan semata-mata sebagai pencapaian seorang penulis. Buku juga dapat menjadi arsip kolektif yang menyimpan pengalaman, pemikiran, dan perjalanan hidup untuk dibaca oleh generasi berikutnya.

Ke depan, Dewi ingin memperluas kesempatan bagi lebih banyak orang untuk menulis dan menerbitkan kisah mereka. Baginya, keberhasilan gerakan literasi bukan hanya tentang seberapa banyak karya yang dihasilkan, tetapi juga tentang berapa banyak orang yang akhirnya berani menyuarakan pengalamannya.
“Mimpi dan target saya ke depan adalah terus memperluas ruang bercerita dan berbagi inspirasi bagi lebih banyak penulis dari kalangan pekerja migran dan perempuan,” katanya.
Pesan Dewi bagi mereka yang merasa mimpinya tertunda adalah agar tidak menganggap penundaan sebagai akhir perjalanan. Kesempatan untuk bertumbuh tetap terbuka selama seseorang bersedia belajar dan mempersiapkan diri.
Perjalanan Dewi menunjukkan bahwa sebuah mimpi dapat berkembang menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Dari pengalaman merantau, ia menemukan alasan untuk menulis; dari kepedulian terhadap cerita sesama, ia membangun ruang literasi. Melalui langkah tersebut, ia berupaya menjaga agar kisah-kisah pekerja migran Indonesia tidak berhenti sebagai kenangan pribadi, tetapi menjadi bagian dari ingatan bersama dan sejarah literasi Migran yang dapat bermanfaat dan menginspirasi.
