Jakarta, TeropongJakarta.com – Tangis mewarnai perpisahan peserta Laboratorium Artistik Penciptaan Sastra “Dari Teks ke Panggung” setelah menjalani pelatihan selama sepuluh hari. Rangkaian yang berlangsung pada 2 – 11 September 2026 tersebut tidak hanya mengajak peserta mempelajari sastra, tetapi juga mengolah pengalaman menjadi karya dan keberanian untuk tampil di hadapan publik.
Momen perpisahan menjadi emosional karena selama sepuluh hari peserta dan para guru, mentor, pelatih, serta pendamping menjalani proses secara intensif. Mereka belajar, berdiskusi, berlatih, melakukan kesalahan, menerima koreksi, lalu mencoba kembali hingga mempersiapkan pementasan.
Kalimat “Kini kami berkumpul, esok kami berpencar” dari Aku Cinta Padamu, karya Iwan Fals dan Sawung Jabo, pun terasa menggambarkan suasana pada hari terakhir.
Bagi peserta, perpisahan bukan sekadar berakhirnya agenda. Ada pengalaman dan kedekatan yang telah terbentuk selama berada dalam satu ruang pembelajaran.
Laboratorium tersebut dirancang untuk mempertemukan sastra dengan proses artistik. Peserta tidak hanya belajar menulis, tetapi juga memahami bagaimana teks dapat berkembang menjadi suara, tubuh, gerak, dan pertunjukan.
Yon Bayu Wahyono melalui Kelas Esai mengajak peserta melihat sastra sebagai ruang untuk memperkaya pemahaman dan wawasan. Menurutnya, sastra dapat menjadi ruang bagi manusia dan kemanusiaan, sekaligus menjaga rasa dan kenangan tetap hidup.
Sementara Kurnia Effendi dalam kelas Penulisan Cerpen menekankan pentingnya menyamakan frekuensi dalam proses belajar. Kepercayaan dan komunikasi yang setara dinilai dapat membuka ruang bagi potensi peserta untuk berkembang.
Materi lainnya mencakup Orientasi dan Dasar-Dasar Sastra bersama Acha Ahiem, Penulisan Naskah Monolog dan Pemanggungan bersama Panji Gozali, serta Seni Tradisi Pantun bersama Aldo dari Santo Christoporus.
Peserta juga mengikuti Cipta dan Baca Puisi bersama Emi Suy, Penulisan Naskah Drama Satu Babak dan Pemanggungan bersama E Bahtiar Magor, Interpretasi dan Adaptasi Sastra bersama Moktavianus Masheka, serta Musikalisasi Puisi bersama Jose Rizal Manua.
Pada sesi Monolog Sastra Pemanggungan bersama Yud Sagita, peserta kembali diasah untuk mengolah vokal, tubuh, karakter, blocking, tempo, dan ritme.
Seluruh proses kemudian bermuara pada produksi, gladi bersih, dan pentas di bawah arahan Anto Ristargie dan Suyud.
Ketika ruang belajar menjadi ruang perjumpaan
Salah satu pengalaman yang paling membekas muncul dari interaksi langsung antara peserta dan pengajar.
Dalam kelas puisi, peserta diajak melihat bahwa bahan penciptaan tidak harus berasal dari peristiwa besar. Pengalaman keluarga, lingkungan, perjalanan, percakapan, hingga kegelisahan sehari-hari dapat menjadi sumber karya.
Proses tersebut membuat peserta semakin berani menyampaikan gagasan. Mereka belajar bahwa karya dapat lahir melalui percobaan, revisi, kritik, dan keberanian untuk kembali mencoba setelah gagal.
Karena itu, ketika kegiatan berakhir, beberapa peserta menangis.
Tangis tersebut menjadi gambaran bahwa sepuluh hari telah menciptakan ikatan emosional yang lebih dari sekadar hubungan antara pengajar dan peserta.
Para peserta memang harus mendapatkan dispensasi sekolah selama mengikuti rangkaian kegiatan. Namun pengalaman yang mereka peroleh diharapkan tidak berhenti sebagai sepuluh hari meninggalkan kelas.
Mereka belajar mengenali potensi, membangun karakter, mengolah pengalaman, serta melihat kehidupan sehari-hari sebagai sumber penciptaan.
Rangkaian kegiatan juga mendapat dukungan dari Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Barat. Apresiasi dan terima kasih disampaikan kepada Pak Arif Rahman selaku Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Barat (Kasudin) serta Pak Bayu selaku Kepala Seksi Pembinaan, yang turut memberikan dukungan terhadap proses pembelajaran dan pelaksanaan program.
Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam menghadirkan ruang bagi peserta untuk belajar, berekspresi, dan mengenal sastra tidak hanya sebagai teks, tetapi sebagai pengalaman yang dekat dengan kehidupan.
Setelah pelatihan pada 2 – 11 September, rangkaian kemudian berlanjut melalui Festival Sastra Jakarta Barat pada 12 – 13 September 2026.
Bagi Pengurus Kosakata, proses tersebut meninggalkan bekal yang lebih panjang daripada durasi kegiatan.
Panggung memang akhirnya dibongkar. Kursi kembali kosong dan ruang belajar kembali sunyi.
Namun kata-kata yang telah ditulis, suara yang telah dilatih, keberanian yang telah tumbuh, dan pengalaman yang telah dibagikan akan dibawa pulang oleh masing-masing peserta.
Sebab sepuluh hari boleh selesai.
Tetapi perjalanan dari teks menuju panggung, dari gagasan menuju karya, dan dari keraguan menuju keberanian, baru saja dimulai.
