Jakarta, TeropongJakarta.com – Garis finis bukan sekadar tempat pelari mengakhiri perlombaan. Bagi Fazri Maulana, momen tersebut menjadi kesempatan untuk memberikan apresiasi kepada setiap peserta yang telah berjuang menaklukkan jarak dan batas kemampuan mereka. Berawal dari kegelisahan melihat suasana finis yang kurang meriah, ia kini menekuni profesi master of ceremonies (MC) di berbagai ajang lari nasional hingga internasional.
Perjalanan Fazri dimulai pada 2016. Saat itu, ia masih menjadi pelari rekreasional yang rutin mengikuti perlombaan. Dari pengalaman tersebut, ia melihat bahwa para pelari membutuhkan sambutan hangat setelah menyelesaikan tantangan.
“Bagi saya, garis finish bukan hanya tempat pelari menyelesaikan perlombaan, tetapi juga momen untuk menghargai perjuangan mereka yang telah berlatih keras agar bisa menyelesaikan lomba dengan sehat dan bahagia,” ujar Fazri.

Keinginan menghadirkan suasana finis yang lebih hidup mendorong Fazri mencoba menjadi MC. Ia mendapat kesempatan pertama memandu ajang Goatrun dan sejumlah perlombaan road run. Sejak itu, ia terus mengembangkan kemampuannya dalam membangun atmosfer perlombaan.
Menjadi MC olahraga lari bukan hanya tentang berbicara lantang di atas panggung. Fazri perlu menjaga stamina, kesehatan suara, serta konsistensi energi selama acara berlangsung. Ia juga harus memahami karakter peserta agar interaksi yang dibangun terasa dekat dan mampu memberikan semangat.
Menurut Fazri, tantangan terbesarnya adalah menjaga energi ribuan pelari agar tetap bersemangat dan bahagia. Tanggung jawab tersebut menuntut kesiapan fisik sekaligus kemampuan berkomunikasi dengan peserta yang memiliki pengalaman berbeda.

Untuk menciptakan suasana hangat, Fazri memilih pendekatan personal. Ia berusaha berkenalan langsung dengan para pelari agar komunikasi tidak hanya berlangsung dari atas panggung, tetapi juga melalui interaksi yang lebih akrab.
Pengalaman yang membekas bagi Fazri datang ketika bertugas dalam ajang ultra marathon. Demi menyambut peserta yang mencapai garis finis pada waktu berbeda, ia terkadang harus beristirahat seadanya, bahkan beralaskan rumput di alam terbuka.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa profesi MC lari memiliki tantangan yang tidak selalu terlihat penonton. Di balik suasana meriah, terdapat tuntutan untuk tetap siaga, menyesuaikan waktu, dan memberikan sambutan kepada pelari yang telah berjuang menyelesaikan perlombaan.
“Hal yang paling penting adalah bagaimana saya bisa menjaga semangat peserta dan membuat mereka merasa disambut, apa pun jarak yang sudah mereka tempuh,” kata Fazri.

Seiring perjalanan kariernya, Fazri telah memandu sejumlah ajang lari, antara lain Jakarta Running Festival, Jogja Marathon, Pocari Sweat Run, Siksorogo Lawu Ultra, Coast to Coast, Bali Trail Running, hingga Cameron Ultra di Malaysia.
Meski telah mendapat kesempatan tampil di berbagai ajang, Fazri masih menyimpan cita-cita besar, yaitu berkeliling Indonesia melalui profesinya. Ia ingin menjelajahi keindahan alam Nusantara, bertemu komunitas pelari dari berbagai daerah, serta mengenal kekayaan budaya lokal.
Perjalanan Fazri Maulana menunjukkan bahwa hobi dapat berkembang menjadi profesi ketika dijalani dengan konsistensi dan tujuan yang jelas. Dari seorang pelari rekreasional, ia menemukan peran baru dalam dunia olahraga: menghidupkan suasana dan menyambut perjuangan para pelari di garis finis.
