Close Menu
Teropong Jakarta
    What's Hot

    Sertu Dhea, Kowal Asal Bangka yang Jadi Peacekeeper di Kongo

    Fraksi Partai Demokrat Dorong Esports Jadi Ruang Kreativitas dan Ekonomi Kreatif, 320 Pemain Ikut Turnamen MLBB

    Dari Atlet Selam hingga Psikolog, Esa Kartika Bantu Orang Bangkit dari Tekanan

    Facebook X (Twitter) Instagram
    Buy SmartMag Now
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Teropong Jakarta
    • News
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Health
    • Lifestyle
      • Entertaiment
      • Fashion
      • Food & Travel
    • Sport
    Subscribe
    Teropong Jakarta
    Beranda » Blog » Dari Jaga Lansia hingga Panggung Kompetisi, Kisah Yati Nurhayati di Hong Kong
    Food & Travel

    Dari Jaga Lansia hingga Panggung Kompetisi, Kisah Yati Nurhayati di Hong Kong

    AdminBy AdminJanuary 24, 2026No Comments3 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest Telegram LinkedIn Tumblr Email Copy Link
    Follow Us
    Google News Flipboard
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email Copy Link

    Karawang, TeropongJakarta.com – Delapan tahun bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Hong Kong membuat Yati Nurhayati akrab dengan dapur. Perempuan asal Karawang, Jawa Barat, itu tak hanya memasak untuk memenuhi kewajiban kerja, tetapi menjadikan aktivitas tersebut sebagai ruang belajar budaya, empati, dan perawatan.

    “Saya ke Hong Kong awalnya untuk bekerja menjaga kakek,” kata Yati saat diwawancarai. Setelah sang kakek meninggal dunia, Yati melanjutkan pekerjaannya merawat sang nenek. Dari hubungan kerja itu, tumbuh kedekatan yang berawal dari satu kesamaan: kegemaran memasak.

    “Nenek memang hobi masak. Awalnya saya hanya membantu, lama-lama dia mengajarkan langsung. Dari situ saya belajar banyak masakan Cina,” ujar Yati. Proses belajar itu berlangsung perlahan. Pada tahap awal, setiap masakan selalu didampingi. Seiring waktu, kepercayaan pun tumbuh. “Sampai akhirnya urusan dapur diserahkan ke saya sepenuhnya.”

    Bagi Yati, masakan Cina bukan sekadar soal teknik. Ia menemukan nilai-nilai budaya yang melekat di setiap hidangan. “Nenek sering bercerita kenapa makanan tertentu dimasak di hari tertentu, atau kenapa bahannya harus itu. Dari situ saya belajar sejarah dan kebiasaan orang Cina,” katanya.

    Pengalaman tersebut menjadi fondasi keterampilan memasak Yati. Tanpa pendidikan formal kuliner, ia mengandalkan ingatan, ketelatenan, dan praktik sehari-hari. “Saya selalu berusaha mengingat apa yang diajarkan, lalu mempraktikkan sendiri,” ujarnya.

    Perjalanan Yati kemudian membawanya ke kompetisi Master Chef yang diselenggarakan German Pool di Hong Kong. Ajang tersebut menjadi pengalaman pertamanya tampil di depan publik. “Itu tantangan besar buat saya. Saya tidak terbiasa tampil, biasanya masak hanya di rumah,” katanya.

    Tema kompetisi saat itu adalah care food, yakni menu untuk orang yang mengalami kesulitan menelan. Tema tersebut menjadi tantangan tersendiri. “Saya belum pernah membuat makanan seperti itu. Jadi harus benar-benar belajar dari nol, bukan hanya soal rasa, tapi tekstur dan keamanannya,” kata Yati.

    Kemenangannya dalam kompetisi tersebut ia maknai sebagai pintu pembuka. “Buat saya ini bukan cuma menang lomba, tapi kesempatan untuk menguji kemampuan dan berani tampil,” ujarnya.

    Saat ini, Yati juga aktif sebagai konten kreator. Ia membagikan pengalaman memasak, khususnya bagi sesama PMI yang bekerja merawat orang tua. “Saya tahu rasanya bingung menentukan menu setiap hari. Kadang makanannya tidak cocok, kadang lansia susah makan,” katanya.

    Melalui kontennya, Yati ingin membantu para pekerja lain agar lebih siap secara mental dan teknis. “Kerja merawat orang tua itu harus dari hati. Kalau tidak, capeknya bukan cuma fisik, tapi juga batin,” ujarnya. Ia kerap menampilkan momen memasak bersama sang nenek sebagai bentuk pesan empati. “Saya anggap nenek seperti orang tua sendiri.”

    Di balik aktivitasnya di Hong Kong, Yati menyimpan rencana jangka panjang. Sepulang ke Indonesia, ia ingin membuka rumah makan bertema masakan Cina yang telah dimodifikasi agar lebih sehat dan sesuai selera lokal. “Saya ingin mengenalkan masakan Cina yang lebih sehat,” katanya.

    Ia juga bercita-cita membangun merek kue sendiri. “Saya suka bikin roti dan cookies. Mudah-mudahan nanti bisa jadi usaha,” ujarnya.

    Bagi Yati, dapur di perantauan telah menjadi ruang pembelajaran yang membentuk dirinya. “Saya belajar banyak hal dari memasak tentang budaya, kesabaran, dan merawat orang lain,” kata dia.

    care food lansia jaga lansia Hong Kong kisah PMI inspiratif konten kreator PMI masakan Cina Master Chef German Pool Pekerja Migran Indonesia PMI berprestasi PMI Hong Kong TeropongJakarta.com Yati Nurhayati
    Add as Preferred on Google Follow on Google News Follow on Flipboard
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email Copy Link
    Previous ArticleVely Syukran, Merawat Makna Mendengar di Tengah Bising Informasi
    Next Article Bertumbuh di Perantauan, Nadya Azhari Memilih Setia pada Diri Sendiri
    Admin
    • Website

    Related Posts

    Sertu Dhea, Kowal Asal Bangka yang Jadi Peacekeeper di Kongo

    September 10, 2026

    Fraksi Partai Demokrat Dorong Esports Jadi Ruang Kreativitas dan Ekonomi Kreatif, 320 Pemain Ikut Turnamen MLBB

    September 9, 2026

    Dari Atlet Selam hingga Psikolog, Esa Kartika Bantu Orang Bangkit dari Tekanan

    September 9, 2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Teropong

    Hello, We’re content writer who is fascinated by content fashion, culture, food, culture and lifestyle. We helps clients bring the right content to the right people.

    Explore Topics
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Entertaiment
    • Fashion
    • Food & Travel
    • Health
    • Lifestyle
    • News
    • Sport
    Meta
    • Log in
    • Entries feed
    • Comments feed
    • WordPress.org
    Tentang

    TeropongJakarta.com

    Melihat Lebih Jauh, Menginspirasi Lebih Besar!

    Pedoman Media Siber - Kontak Kami - Susunan Redaksi - Tentang Kami

    Useful Links
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Entertaiment
    • Fashion
    • Food & Travel
    • Health
    • Lifestyle
    • News
    • Sport
    Tag Clouds

    Bandung Bekasi Berita BeritaBaru Berita Utama Bogor Conten Creator culture Diana Dewi education enterpreneur Entertainment fashion Food Gaya hidup sehat Health Health Lifestyle Hongkong Influencer Inspirasi Inspirasi perempuan Indonesia Jakarta Kesehatan Kisah inspiratif perempuan Lampung Lari Lifestyle malang media model Music news olahraga perempuan inspiratif Perempuan inspiratif Indonesia PMI Sport Surabaya Technology TeropongJakarta Teropong Jakarta TeropongJakarta.com Travel Travelling Video

    Advertisement
    Demo
    Latest Posts

    Sertu Dhea, Kowal Asal Bangka yang Jadi Peacekeeper di Kongo

    Fraksi Partai Demokrat Dorong Esports Jadi Ruang Kreativitas dan Ekonomi Kreatif, 320 Pemain Ikut Turnamen MLBB

    Dari Atlet Selam hingga Psikolog, Esa Kartika Bantu Orang Bangkit dari Tekanan

    5 Tahun Jadi Kowal, Adila Wujudkan Mimpi Masa Kecil Melihat Salju di Eropa

    Trending Posts

    Maersk CEO Vincent Clerc Speaks to ‘Massive Impact’ of the Red Sea Situation

    January 20, 2021

    These Knee Braces Help With Arthritis Pain, Swelling, and Post-Surgery Recovery

    January 15, 2021

    How to Keep Your Pets Safe During the Solar Eclipse 2024

    January 15, 2021

    Subscribe to News

    Get the latest sports news from NewsSite about world, sports and politics.

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    Facebook Instagram LinkedIn WhatsApp TikTok Threads
    © 2023 TeropongJakarta.com by PT Arunika Media Nusantara

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.