Jakarta, TeropongJakarta.com – Harus jago bermain game untuk bisa punya masa depan di industri game dan esports? Anggapan tersebut mulai bergeser. Di balik pertandingan yang ditonton banyak orang, terdapat ekosistem besar yang membutuhkan developer, desainer, broadcaster, kreator konten hingga pengelola event.
Perkembangan itu menjadi salah satu pembahasan dalam JITEX 2026 melalui sesi “Level Up Jakarta: Game Development & E-Sports Future Creativity”. Forum tersebut mempertemukan Luat Sihombing, Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif; Nicko Aryo Bimo, Program Director Yayasan Odong Prestasi Indonesia; serta Devrin Cahyanto Pratama, Ketua Bidang Event Management ESI DKI Jakarta yang hadir mewakili Ketua Umum ESI DKI Jakarta Mayjen TNI Tjahjono Prasetyanto.
Pembahasan dalam forum tersebut menempatkan game dan esports bukan sekadar sebagai aktivitas hiburan, tetapi sebagai bagian dari ekonomi kreatif digital. Artinya, peluang di dalamnya tidak hanya terbuka bagi orang yang ingin menjadi atlet esports.
Salah satu gambaran mengenai potensi tersebut terlihat dari pasar game Indonesia yang disebut memiliki porsi sekitar 40 persen. Besarnya pasar menunjukkan adanya ruang ekonomi yang dapat dikembangkan jika dibarengi ekosistem industri, talenta, dan standar kompetensi yang memadai.
Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif Luat Sihombing menyoroti pentingnya peningkatan kualitas industri game nasional. Menurutnya, perkembangan industri membutuhkan standar yang semakin matang dan relevan dengan kebutuhan pasar.
Standar tersebut, kata dia, tidak dapat hanya dibangun dari sisi pemerintah. Pelaku industri juga memiliki peran karena memahami kebutuhan kompetensi tenaga kerja serta perubahan yang berlangsung di pasar game dan ekonomi digital.
“Standar industri tidak hanya dapat dibangun dari sisi pemerintah. Pelaku industri juga memiliki peran karena memahami kebutuhan kompetensi, tenaga kerja, serta perubahan pasar,” menjadi salah satu poin yang disampaikan dalam forum tersebut.
Ketika sebuah pertandingan esports berlangsung, perhatian publik biasanya tertuju kepada pemain yang bertanding. Padahal, ada banyak pekerjaan yang memastikan pertandingan tersebut dapat berjalan dan dinikmati penonton.
Nicko Aryo Bimo menekankan pentingnya melihat esports sebagai sebuah ekosistem. Pengembangan talenta tidak cukup hanya mencari pemain berbakat, tetapi juga perlu memperkenalkan berbagai profesi yang berada di belakang industri.
Mulai dari game developer, desainer, event management, broadcaster, kreator konten hingga produksi video memiliki peran masing-masing. Setiap bidang membutuhkan kompetensi berbeda dan membuka jalur karier yang tidak selalu bergantung pada kemampuan seseorang dalam memenangkan pertandingan.
Yayasan Odong Prestasi Indonesia turut mendorong ruang edukasi melalui talkshow dan program pengembangan talenta. Edukasi tersebut penting agar generasi muda memahami bahwa ketertarikan terhadap game dapat dikembangkan menjadi keterampilan yang memiliki nilai profesional.
Dengan demikian, seorang anak muda yang menyukai game tidak harus selalu bermimpi menjadi pemain profesional. Ketertarikannya dapat diarahkan ke desain, teknologi, komunikasi, produksi konten, penyelenggaraan acara maupun bidang kreatif lainnya.
Persoalan lain yang muncul adalah akses terhadap talenta di luar ibu kota. Jakarta memang memiliki keunggulan dari sisi infrastruktur, venue, dan basis audiens. Namun, potensi talenta game dan esports tidak hanya berada di Jakarta.
Dalam pembahasan JITEX 2026, pemerintah bersama stakeholder membahas program yang dapat menjangkau tujuh kota di Indonesia, mulai dari Padang hingga Ambon.
Perluasan tersebut diharapkan memberikan kesempatan kepada talenta daerah untuk memperoleh akses terhadap edukasi, kompetisi, serta pengembangan karier. Dengan begitu, industri tidak hanya bertumpu pada kota-kota besar.
Devrin Cahyanto Pratama, Ketua Bidang Event Management ESI DKI Jakarta yang hadir mewakili Mayjen TNI Tjahjono Prasetyanto, turut menyoroti pentingnya membangun ekosistem esports yang lebih luas.
Pengembangan esports tidak hanya berkaitan dengan kemampuan bermain. Pembinaan, penyelenggaraan event, serta penciptaan ruang kompetisi yang sehat menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Perhatian juga perlu diberikan kepada pemain berusia 13-15 tahun. Tekanan saat bertanding, ejekan, hingga bullying setelah mengalami kekalahan menjadi tantangan yang perlu diantisipasi dalam pembinaan talenta muda.
Kolaborasi dengan Dinas Olahraga DKI Jakarta dan ESI DKI Jakarta turut diarahkan untuk menghadirkan kegiatan serta turnamen berskala kecil, termasuk melalui gim populer seperti Mobile Legends dan Free Fire.
Pada akhirnya, perkembangan industri game dan esports membuka peluang yang jauh lebih luas daripada sekadar menjadi pemain. Game bisa menjadi pintu masuk ke berbagai profesi kreatif dan digital, selama ekosistem, pendidikan, kompetisi, dan pengembangan talenta dibangun secara berkelanjutan.
JITEX 2026 memperlihatkan satu hal penting: di industri game, masa depan tidak hanya berada di tangan mereka yang jago bermain, tetapi juga mereka yang mampu menciptakan, mengelola, menyiarkan, dan mengembangkan ekosistem di belakangnya.
