Close Menu
Teropong Jakarta
    What's Hot

    Devrin Cahyanto Pratama, Dari Event Esports hingga Menggerakkan Piala Sedulur Purworejo

    Lima Kali Gagal Seleksi, Serda (K) Kevin Akhirnya Jadi Kowad: Berangkat dari Keluarga Sederhana

    Gagal Berkali-kali, Serda Zahra Kini Bawa Nama Indonesia dalam Misi Perdamaian PBB

    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Teropong Jakarta
    • News
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Health
    • Sport
    • Lifestyle
      • Entertaiment
      • Fashion
      • Food & Travel
    Subscribe
    Teropong Jakarta
    Beranda » Blog » Sepuluh Hari dari Teks ke Panggung Berakhir Haru, Peserta Bawa Pulang Lebih dari Sekadar Karya
    Culture

    Sepuluh Hari dari Teks ke Panggung Berakhir Haru, Peserta Bawa Pulang Lebih dari Sekadar Karya

    AdminBy AdminSeptember 17, 2026Updated:October 1, 2026No Comments4 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest Telegram LinkedIn Tumblr Email Copy Link
    Follow Us
    Google News Flipboard
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email Copy Link

    Jakarta, TeropongJakarta.com – Tangis mewarnai perpisahan peserta Laboratorium Artistik Penciptaan Sastra “Dari Teks ke Panggung” setelah menjalani pelatihan selama sepuluh hari. Rangkaian yang berlangsung pada 2 – 11 September 2026 tersebut tidak hanya mengajak peserta mempelajari sastra, tetapi juga mengolah pengalaman menjadi karya dan keberanian untuk tampil di hadapan publik.

    Momen perpisahan menjadi emosional karena selama sepuluh hari peserta dan para guru, mentor, pelatih, serta pendamping menjalani proses secara intensif. Mereka belajar, berdiskusi, berlatih, melakukan kesalahan, menerima koreksi, lalu mencoba kembali hingga mempersiapkan pementasan.

    Kalimat “Kini kami berkumpul, esok kami berpencar” dari Aku Cinta Padamu, karya Iwan Fals dan Sawung Jabo, pun terasa menggambarkan suasana pada hari terakhir.

    Bagi peserta, perpisahan bukan sekadar berakhirnya agenda. Ada pengalaman dan kedekatan yang telah terbentuk selama berada dalam satu ruang pembelajaran.

    Laboratorium tersebut dirancang untuk mempertemukan sastra dengan proses artistik. Peserta tidak hanya belajar menulis, tetapi juga memahami bagaimana teks dapat berkembang menjadi suara, tubuh, gerak, dan pertunjukan.

    Yon Bayu Wahyono melalui Kelas Esai mengajak peserta melihat sastra sebagai ruang untuk memperkaya pemahaman dan wawasan. Menurutnya, sastra dapat menjadi ruang bagi manusia dan kemanusiaan, sekaligus menjaga rasa dan kenangan tetap hidup.

    Sementara Kurnia Effendi dalam kelas Penulisan Cerpen menekankan pentingnya menyamakan frekuensi dalam proses belajar. Kepercayaan dan komunikasi yang setara dinilai dapat membuka ruang bagi potensi peserta untuk berkembang.

    Materi lainnya mencakup Orientasi dan Dasar-Dasar Sastra bersama Acha Ahiem, Penulisan Naskah Monolog dan Pemanggungan bersama Panji Gozali, serta Seni Tradisi Pantun bersama Aldo dari Santo Christoporus.

    Peserta juga mengikuti Cipta dan Baca Puisi bersama Emi Suy, Penulisan Naskah Drama Satu Babak dan Pemanggungan bersama E Bahtiar Magor, Interpretasi dan Adaptasi Sastra bersama Moktavianus Masheka, serta Musikalisasi Puisi bersama Jose Rizal Manua.

    Pada sesi Monolog Sastra Pemanggungan bersama Yud Sagita, peserta kembali diasah untuk mengolah vokal, tubuh, karakter, blocking, tempo, dan ritme.

    Seluruh proses kemudian bermuara pada produksi, gladi bersih, dan pentas di bawah arahan Anto Ristargie dan Suyud.

    Ketika ruang belajar menjadi ruang perjumpaan

    Salah satu pengalaman yang paling membekas muncul dari interaksi langsung antara peserta dan pengajar.

    Dalam kelas puisi, peserta diajak melihat bahwa bahan penciptaan tidak harus berasal dari peristiwa besar. Pengalaman keluarga, lingkungan, perjalanan, percakapan, hingga kegelisahan sehari-hari dapat menjadi sumber karya.

    Proses tersebut membuat peserta semakin berani menyampaikan gagasan. Mereka belajar bahwa karya dapat lahir melalui percobaan, revisi, kritik, dan keberanian untuk kembali mencoba setelah gagal.

    Karena itu, ketika kegiatan berakhir, beberapa peserta menangis.

    Tangis tersebut menjadi gambaran bahwa sepuluh hari telah menciptakan ikatan emosional yang lebih dari sekadar hubungan antara pengajar dan peserta.

    Para peserta memang harus mendapatkan dispensasi sekolah selama mengikuti rangkaian kegiatan. Namun pengalaman yang mereka peroleh diharapkan tidak berhenti sebagai sepuluh hari meninggalkan kelas.

    Mereka belajar mengenali potensi, membangun karakter, mengolah pengalaman, serta melihat kehidupan sehari-hari sebagai sumber penciptaan.

    Rangkaian kegiatan juga mendapat dukungan dari Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Barat. Apresiasi dan terima kasih disampaikan kepada Pak Arif Rahman selaku Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Barat (Kasudin) serta Pak Bayu selaku Kepala Seksi Pembinaan, yang turut memberikan dukungan terhadap proses pembelajaran dan pelaksanaan program.


    Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam menghadirkan ruang bagi peserta untuk belajar, berekspresi, dan mengenal sastra tidak hanya sebagai teks, tetapi sebagai pengalaman yang dekat dengan kehidupan.


    Setelah pelatihan pada 2 – 11 September, rangkaian kemudian berlanjut melalui Festival Sastra Jakarta Barat pada 12 – 13 September 2026.

    Bagi Pengurus Kosakata, proses tersebut meninggalkan bekal yang lebih panjang daripada durasi kegiatan.

    Panggung memang akhirnya dibongkar. Kursi kembali kosong dan ruang belajar kembali sunyi.

    Namun kata-kata yang telah ditulis, suara yang telah dilatih, keberanian yang telah tumbuh, dan pengalaman yang telah dibagikan akan dibawa pulang oleh masing-masing peserta.

    Sebab sepuluh hari boleh selesai.

    Tetapi perjalanan dari teks menuju panggung, dari gagasan menuju karya, dan dari keraguan menuju keberanian, baru saja dimulai.

    Arif Rahman Bayu Kepala Seksi Pembinaan budaya Jakarta Barat Dari Teks ke Panggung festival sastra 2026 Festival Sastra Jakarta Barat 2026 kegiatan sastra Jakarta komunitas sastra Jakarta Laboratorium Artistik Penciptaan Sastra monolog sastra pelatihan monolog pelatihan sastra Jakarta Barat pendidikan sastra Pengurus Kosakata sastra dan monolog Sastra Jakarta Barat seni pertunjukan Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Barat
    Add as Preferred on Google Follow on Google News Follow on Flipboard
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email Copy Link
    Previous ArticleEvelyn Imeldinata Comeback ke Industri Kreatif, Bawa Misi Buka Peluang Talent
    Next Article Sepuluh Hari dari Teks ke Panggung Berakhir Haru, Tangis Peserta Warnai Perpisahan
    Admin
    • Website

    Related Posts

    Devrin Cahyanto Pratama, Dari Event Esports hingga Menggerakkan Piala Sedulur Purworejo

    September 30, 2026

    Tak Pernah Berhenti Mencoba, Gita Octaviani Mengubah Kemampuan Menjadi Peluang

    September 25, 2026

    Agata Selia Keylani, dari Catwalk hingga Panggung Seni: Remaja 16 Tahun yang Berani Mengejar Mimpi

    September 23, 2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Teropong

    Hello, We’re content writer who is fascinated by content fashion, culture, food, culture and lifestyle. We helps clients bring the right content to the right people.

    Explore Topics
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Entertaiment
    • Fashion
    • Food & Travel
    • Health
    • Lifestyle
    • News
    • Sport
    Meta
    • Log in
    • Entries feed
    • Comments feed
    • WordPress.org
    Tentang

    TeropongJakarta.com

    Melihat Lebih Jauh, Menginspirasi Lebih Besar!

    Pedoman Media Siber - Kontak Kami - Susunan Redaksi - Tentang Kami

    Useful Links
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Entertaiment
    • Fashion
    • Food & Travel
    • Health
    • Lifestyle
    • News
    • Sport
    Tag Clouds

    atlit Bali Bandung Bekasi Berita BeritaBaru Berita Utama Bogor Conten Creator culture Diana Dewi education enterpreneur Entertainment fashion Food Gaya hidup sehat Health Health Lifestyle Hongkong Influencer Inspirasi Inspirasi perempuan Indonesia Jakarta jambi Kesehatan Kisah inspiratif Kisah inspiratif perempuan Lampung Lari Lifestyle malang media model news olahraga perempuan inspiratif Perempuan inspiratif Indonesia PMI Sport Surabaya TeropongJakarta Teropong Jakarta TeropongJakarta.com Travelling

    Latest Posts

    Devrin Cahyanto Pratama, Dari Event Esports hingga Menggerakkan Piala Sedulur Purworejo

    Lima Kali Gagal Seleksi, Serda (K) Kevin Akhirnya Jadi Kowad: Berangkat dari Keluarga Sederhana

    Gagal Berkali-kali, Serda Zahra Kini Bawa Nama Indonesia dalam Misi Perdamaian PBB

    Tak Pernah Berhenti Mencoba, Gita Octaviani Mengubah Kemampuan Menjadi Peluang

    Trending Posts

    Subscribe to News

    Get the latest sports news from NewsSite about world, sports and politics.

    Facebook Instagram LinkedIn WhatsApp TikTok Threads
    • Tentang Kami
    • Susunan Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kontak
    © 2023 TeropongJakarta.com by PT Arunika Media Nusantara

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.