Close Menu
Teropong Jakarta
    What's Hot

    Gagal Berkali-kali, Serda Zahra Kini Bawa Nama Indonesia dalam Misi Perdamaian PBB

    Tak Pernah Berhenti Mencoba, Gita Octaviani Mengubah Kemampuan Menjadi Peluang

    Bukan Sekadar Mama Anak Bulu, Hanatahikaru Ajak Masyarakat Peduli Satwa di Tengah Karhutla

    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Teropong Jakarta
    • News
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Health
    • Sport
    • Lifestyle
      • Entertaiment
      • Fashion
      • Food & Travel
    Subscribe
    Teropong Jakarta
    Beranda » Blog » Saat Data Tak Cukup, Nardina Memilih Mengajar di Pinggiran Jakarta
    Education

    Saat Data Tak Cukup, Nardina Memilih Mengajar di Pinggiran Jakarta

    AdminBy AdminMarch 22, 2026No Comments3 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest Telegram LinkedIn Tumblr Email Copy Link
    Follow Us
    Google News Flipboard
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email Copy Link

    Serang, TeropongJakarta.com – Di Kota Serang, Nardina Salsabila Begum menapaki dua dunia yang berjalan beriringan namun jarang bersinggungan. Sebagai Research Analyst, ia terbiasa mengurai persoalan melalui data mencari pola, membaca kecenderungan, dan menyusun kesimpulan. Namun di luar ruang kerja, ia memilih hadir sebagai relawan pengajar bagi anak-anak di kawasan pinggiran Jakarta.

    Bagi Nardina, data kerap memberi jawaban yang presisi, tetapi tidak selalu menghadirkan makna. “Data bisa menjelaskan apa yang terjadi, tapi tidak selalu menjawab kenapa itu terjadi,” ujarnya dalam wawancara, pekan ini.

    Kesadaran itu tumbuh dari pengalaman personalnya menempuh pendidikan hingga meraih gelar MBA sebuah capaian yang ia nilai sebagai privilese di tengah akses pendidikan yang belum merata. Ia melihat, tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk sampai di titik tersebut.

    “Pendidikan bagi saya bukan sekadar alat untuk naik kelas sosial, tapi jembatan agar orang lain tidak tertinggal,” kata Nardina.

    Pilihan untuk mengajar, menurut dia, bukan semata aktivitas sukarela, melainkan bagian dari tanggung jawab sosial. Ia menyebutnya sebagai upaya mengembalikan kesempatan kepada mereka yang tidak seberuntung dirinya.

    Pengalaman di lapangan memperlihatkan realitas yang kontras. Ia mendapati anak-anak yang mampu menghafal gerakan media sosial dengan cepat, tetapi kesulitan menjawab soal matematika dasar. Bagi Nardina, fenomena ini mencerminkan bagaimana lingkungan membentuk cara belajar anak.

    “Otak anak-anak itu adaptif. Mereka cepat menangkap hal yang memberi rasa senang dan diterima secara sosial. Masalahnya, pendidikan formal sering terasa jauh dari dunia mereka,” ujarnya.

    Ia menilai persoalan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kondisi keluarga. Dalam banyak kasus, orang tua menghadapi tekanan ekonomi yang membuat pendampingan belajar menjadi terbatas. Pendidikan, dalam situasi itu, sering kali kalah prioritas dari kebutuhan dasar.

    Di titik inilah, Nardina melihat pentingnya kehadiran pendidikan yang berkelanjutan untuk mengisi celah yang tidak mampu dijangkau keluarga.

    Sebagai peneliti, ia membawa pendekatan berbasis riset ke dalam aktivitas sosialnya. Ia tidak berhenti pada empati, tetapi berupaya merumuskan metode pembelajaran yang lebih relevan bagi anak-anak di kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas dan mereka yang hidup di ruang-ruang terpinggirkan.

    “Saya tidak ingin hanya merasa iba. Saya ingin mencari formula yang tepat agar pendidikan tidak lagi terasa sebagai beban,” kata dia.

    Baginya, keresahan adalah titik berangkat. Setiap ketimpangan yang ia temui tidak hanya memantik simpati, tetapi juga dorongan intelektual untuk mencari solusi yang dapat diterapkan.

    Di ruang belajar sederhana, ia menanamkan satu keyakinan yang terus diulang kepada anak-anak didiknya: pendidikan adalah jalan keluar dari keterbatasan.

    “Saya selalu bilang ke mereka, latar belakang bukan akhir cerita. Mereka punya hak yang sama untuk melampaui batas yang ada,” ujar Nardina.

    Ia menekankan bahwa pendidikan bukan sekadar tentang ijazah, melainkan keberanian untuk membuka kemungkinan baru. Harapannya, anak-anak yang ia dampingi tidak hanya belajar untuk bertahan, tetapi juga memiliki daya untuk memutus lingkaran keterbatasan.

    Di antara angka-angka dan realitas lapangan, Nardina memilih berdiri di keduanya. Ia membaca data untuk memahami dunia, sekaligus hadir di tengah masyarakat untuk mengubahnya pelan, namun pasti.

    Banten Berita Jakarta ketimpangan pendidikan Indonesia kisah inspiratif pengajar Nardina Salsabila Begum news pendidikan anak marginal pendidikan inklusif pengajar relawan pinggiran Jakarta relawan pengajar Jakarta Research Analyst Indonesia TeropongJakarta.com
    Add as Preferred on Google Follow on Google News Follow on Flipboard
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email Copy Link
    Previous ArticleMudik Minim Sampah: Aktivis Dorong Penegakan Hukum dan Perubahan Perilaku Warga
    Next Article Menjadikan Olahraga sebagai Identitas: Konsistensi Niken di Tengah Tren Gaya Hidup Sehat
    Admin
    • Website

    Related Posts

    Gagal Berkali-kali, Serda Zahra Kini Bawa Nama Indonesia dalam Misi Perdamaian PBB

    September 28, 2026

    Bukan Sekadar Mama Anak Bulu, Hanatahikaru Ajak Masyarakat Peduli Satwa di Tengah Karhutla

    September 25, 2026

    Evelyn Imeldinata Comeback ke Industri Kreatif, Bawa Misi Buka Peluang Talent

    September 17, 2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Teropong

    Hello, We’re content writer who is fascinated by content fashion, culture, food, culture and lifestyle. We helps clients bring the right content to the right people.

    Explore Topics
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Entertaiment
    • Fashion
    • Food & Travel
    • Health
    • Lifestyle
    • News
    • Sport
    Meta
    • Log in
    • Entries feed
    • Comments feed
    • WordPress.org
    Tentang

    TeropongJakarta.com

    Melihat Lebih Jauh, Menginspirasi Lebih Besar!

    Pedoman Media Siber - Kontak Kami - Susunan Redaksi - Tentang Kami

    Useful Links
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Entertaiment
    • Fashion
    • Food & Travel
    • Health
    • Lifestyle
    • News
    • Sport
    Tag Clouds

    atlit Bali Bandung Bekasi Berita BeritaBaru Berita Utama Bogor Conten Creator culture Diana Dewi education enterpreneur Entertainment fashion Food Gaya hidup sehat Health Health Lifestyle Hongkong Influencer Inspirasi Inspirasi perempuan Indonesia Jakarta jambi Kesehatan Kisah inspiratif Kisah inspiratif perempuan Lampung Lari Lifestyle malang media model news olahraga perempuan inspiratif Perempuan inspiratif Indonesia PMI Sport Surabaya TeropongJakarta Teropong Jakarta TeropongJakarta.com Travelling

    Latest Posts

    Gagal Berkali-kali, Serda Zahra Kini Bawa Nama Indonesia dalam Misi Perdamaian PBB

    Tak Pernah Berhenti Mencoba, Gita Octaviani Mengubah Kemampuan Menjadi Peluang

    Bukan Sekadar Mama Anak Bulu, Hanatahikaru Ajak Masyarakat Peduli Satwa di Tengah Karhutla

    Agata Selia Keylani, dari Catwalk hingga Panggung Seni: Remaja 16 Tahun yang Berani Mengejar Mimpi

    Trending Posts

    Subscribe to News

    Get the latest sports news from NewsSite about world, sports and politics.

    Facebook Instagram LinkedIn WhatsApp TikTok Threads
    • Tentang Kami
    • Susunan Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kontak
    © 2023 TeropongJakarta.com by PT Arunika Media Nusantara

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.