Lahat, TeropongJakarta.com – Berasal dari desa yang jauh dari pusat kota bukan berarti harus membatasi seseorang untuk memiliki cita-cita besar. Hal itu dibuktikan Uswatun Hasanah, perempuan asal Desa Cecar, Kecamatan Kikim Timur, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, yang berhasil mewujudkan impiannya menjadi seorang prajurit.
Uswatun tumbuh dalam keluarga sederhana. Ia merupakan anak dari pasangan petani dan memiliki satu saudara perempuan. Sejak duduk di bangku SMA, ia sudah memiliki tekad untuk menjadi tentara.
Keinginan itu muncul ketika orang tuanya menanyakan cita-cita yang ingin ia capai.
“Saya menjawab ingin menjadi tentara. Karena kalau saya kuliah belum tentu mendapatkan pekerjaan di era seperti sekarang, apalagi saya dari desa. Kuliah juga membutuhkan banyak biaya, mulai dari tempat tinggal hingga uang per semester,” ujar Uswatun.
Keinginan tersebut kemudian tidak berhenti sebagai angan-angan. Uswatun mulai mempersiapkan diri dengan cara sederhana. Ia rutin berlari di lapangan sepak bola maupun jalanan sekitar rumah. Karena lokasi latihan cukup jauh dari pemukiman dan relatif sepi, ia biasanya ditemani ibu atau saudara perempuannya.

Setelah lulus SMA pada 2021, Uswatun belum langsung mendaftar. Ia terlebih dahulu membantu orang tua bekerja di kebun. Di sela-sela aktivitas tersebut, ia tetap menjaga kondisi fisik dengan berlari dan berenang.
Kebetulan, terdapat sungai di belakang rumahnya yang dimanfaatkan untuk berolahraga.
Sekitar enam bulan kemudian, Uswatun mendapat anjuran dari keluarga untuk mengikuti pembinaan fisik atau binsik di Ajudan Jenderal Angkatan Darat (Ajendam) Palembang. Ia kemudian menumpang tinggal di rumah saudara dari neneknya di kawasan Kalidoni agar dapat lebih fokus menjalani latihan sekaligus mempersiapkan diri menghadapi tes psikologi.
Perjuangan itu tidak selalu mudah. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Uswatun adalah jarak antara tempat tinggal dan lokasi pengurusan administrasi.
Untuk mengurus berbagai dokumen pendaftaran, ia harus menempuh perjalanan yang panjang. Berbagai persyaratan membutuhkan tanda tangan dan keterangan dari sejumlah pihak, mulai dari sekolah, kepala desa, camat, Koramil hingga Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.
Bahkan, ketika terjadi kesalahan pada salah satu dokumen, Uswatun harus melakukan perjalanan pulang-pergi Palembang-Cecar.
Ia pernah berangkat dari Palembang pada sore hari dan tiba di rumah sekitar pukul 02.00 WIB. Keesokan harinya, ia langsung mengurus dokumen ke kantor camat sebelum kembali lagi ke Palembang.

“Banyak suka dukanya. Ada juga kata-kata dari tetangga dan orang lain yang tidak suka. Tapi itu bukan halangan. Kalau ingin sukses, kita harus berusaha meskipun harus mengorbankan tenaga dan air mata,” tuturnya.
Kerja keras tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada 2022, Uswatun mengikuti tahapan tes dan berhasil melewatinya.
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari latihan yang dilakukan setiap hari, doa orang tua, serta dukungan keluarga.
Sebagai seseorang yang tidak berasal dari keluarga tentara, banyak hal yang sebelumnya tidak ia ketahui. Ia baru mengetahui bahwa setelah pendidikan masih terdapat tahapan kejuruan dan pendidikan lainnya.
Perjalanan tersebut mempertemukannya dengan banyak orang dari berbagai daerah di Indonesia.
Uswatun kemudian mendapatkan kejuruan di bidang Ajen di Lembang, Bandung. Setelah menyelesaikan kejuruan pada 2023, ia mendapatkan penempatan di Akademi Militer (Akmil).
Jauh dari keluarga menjadi salah satu konsekuensi yang harus dijalani. Namun, bagi Uswatun, bertemu dengan orang-orang baru dan mengenal berbagai budaya justru menjadi pengalaman berharga.
“Memang banyak suka dukanya karena jauh dari rumah. Itu risiko menjadi tentara. Tapi saya senang karena bisa mengenal orang-orang baru dan menambah banyak saudara,” katanya.

Satu pengalaman kemudian menjadi pemantik impian baru bagi Uswatun. Pada 2024, ia melihat seniornya berangkat menjalankan tugas sebagai bagian dari misi perdamaian di Kongo. Saat itu, muncul keinginan dalam dirinya untuk suatu hari bisa mendapatkan kesempatan serupa.
Pada 2025, Uswatun berhasil mengikuti seleksi dan berangkat menjalankan tugas dalam Satgas INDO RDB 39-G MONUSCO di Kongo.
Pengalaman tersebut membuka pandangannya tentang kehidupan di luar Indonesia. Ia melihat secara langsung kondisi masyarakat yang memiliki keterbatasan dalam berbagai hal, termasuk akses terhadap makanan dan air.
Bagi Uswatun, pengalaman tersebut justru mengajarkannya satu hal penting: bersyukur.
“Di sini mengajarkan banyak hal untuk bersyukur. Terbilang masih sangat jauh dari kata cukup, bahkan untuk air dan makan saja terbatas. Banyak sekali pelajaran yang didapat, terutama arti bersyukur,” ujarnya.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah ketika dapat berinteraksi dengan anak-anak dan masyarakat setempat.
Ia juga mendapat kesempatan membantu dan memberikan edukasi kepada para ibu, termasuk mengenai kesehatan dan masakan. Selain itu, tugas tersebut membuatnya bisa berkenalan dengan orang-orang dari berbagai negara.
Perjalanan dari Desa Cecar hingga Kongo membuat Uswatun semakin yakin bahwa jarak bukan alasan untuk menyerah pada cita-cita.
Menurutnya, seseorang harus berani mencoba karena hasil tidak akan pernah diketahui jika hanya berhenti pada keinginan.
“Yang membuat saya yakin adalah tekad dan niat. Karena sesuatu yang tidak dicoba, kita tidak akan tahu bagaimana hasilnya. Berhasil itu bonus, kalau gagal bisa dicoba lagi,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar anak muda tidak terlalu memikirkan penilaian lingkungan.
Baginya, manusia akan selalu memiliki penilaian masing-masing. Karena itu, fokus pada tujuan dan proses menjadi hal yang jauh lebih penting.
Untuk mereka yang ingin mengikuti jejaknya, Uswatun menyarankan agar persiapan dilakukan sejak awal, mulai dari menjaga kesehatan, meningkatkan kebugaran fisik, mempersiapkan psikologi, belajar materi akademik, hingga memperluas wawasan.
“Jangan habiskan masa muda dengan hal-hal negatif. Segera cari potensi yang ada dalam diri, dalami dan belajar dengan giat,” pesannya.
Ia percaya, cita-cita yang telah dipilih harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Jika berhasil, keberhasilan tersebut patut disyukuri. Jika gagal, bukan berarti perjalanan harus berakhir.
“Ketika sudah memilih cita-cita, lakukan yang terbaik dan kejar. Kalau berhasil itu yang diharapkan, ketika gagal bangkit dan coba lagi. Karena untuk kehidupan yang lebih layak ke depannya, jarak bukan penghalang untuk mengangkat derajat kedua orang tua dan meraih cita-cita,” tutup Uswatun.
