Oplus_131072
PALANGKA RAYA, TeropongJakarta.com – Bagi Sofia Qolbu Ghena, literasi bukan sekadar aktivitas membaca buku. Di lingkungan sekolah, literasi menjadi ruang bagi siswa untuk menemukan gagasan, mengenali potensi diri, dan berani menghasilkan karya.
Guru Bahasa Arab di SMA Muhammadiyah 1 Palangka Raya, Kalimantan Tengah, itu juga aktif sebagai staf perpustakaan sekolah. Kedekatannya dengan dunia pendidikan dan perpustakaan membuat Sofia semakin memahami pentingnya membangun budaya membaca dan menulis di kalangan pelajar.
Menurut Sofia, bahasa memiliki hubungan erat dengan literasi karena menjadi sarana untuk membaca, memahami, berpikir, sekaligus menyampaikan gagasan.

“Bahasa pada dasarnya adalah sarana untuk membaca, memahami, berpikir, dan menyampaikan gagasan. Karena itu, saya merasa budaya literasi perlu terus dikembangkan di lingkungan sekolah,” ujarnya.
Sebagai staf perpustakaan, Sofia melihat bahwa perpustakaan seharusnya tidak hanya menjadi tempat menyimpan dan membaca buku. Ruang tersebut juga dapat menjadi tempat siswa menemukan inspirasi dan mengembangkan kreativitas.
Ia percaya setiap siswa memiliki cerita dan potensi untuk menghasilkan karya. Namun, sebagian dari mereka terkadang membutuhkan dorongan agar berani memulai.
Karena itu, Sofia berusaha membangun pemahaman bahwa membaca dan menulis tidak harus selalu terasa seperti tugas sekolah. Keduanya dapat menjadi aktivitas yang menyenangkan sekaligus sarana bagi siswa untuk menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya.
Sofia tidak hanya mengajak siswa menulis. Ia juga berusaha memberikan contoh dengan menghasilkan karya.

Salah satunya melalui puisi yang kemudian menjadi bagian dari buku karya sekolah. Melalui puisi tersebut, Sofia menuangkan gagasan tentang perjalanan, harapan, pendidikan, dan makna dari proses kehidupan.
Baginya, pengalaman tersebut menjadi semakin berkesan karena karya guru dapat hadir berdampingan dengan karya siswa.
“Budaya literasi dapat tumbuh ketika guru dan siswa sama-sama terlibat,” katanya.
Aktivitas Sofia di bidang literasi juga mendapat apresiasi melalui piagam sebagai Guru Aktif Literasi Sekolah dalam Gerakan Sekolah Menulis Buku Nasional (GSMB Nasional) yang diselenggarakan Nyalanesia.
Namun, penghargaan tersebut bukan menjadi tujuan utama. Sofia justru menganggap keberanian siswa menghasilkan tulisan sebagai pencapaian yang lebih berarti.
“Ketika melihat siswa berani menulis, menuangkan ide, dan melihat hasil karyanya menjadi sesuatu yang bisa dibaca dan diapresiasi orang lain, itu menjadi kebahagiaan tersendiri,” tuturnya.
Di luar aktivitas sebagai guru dan pegiat literasi, Sofia juga menjalani sejumlah aktivitas lain. Pada 2025, ia menjadi Putri Hijab Influencer Kalimantan Tengah.

Ia juga baru menyelesaikan pendidikan S2 serta turut membantu mengelola usaha keluarga, Sola Grafika dan Majesticartcraft.
Beragam aktivitas tersebut membuatnya belajar mengatur prioritas dan waktu. Baginya, setiap peran justru saling melengkapi.
Dunia pendidikan mengajarkannya tentang tanggung jawab dan komunikasi. Aktivitas sebagai influencer membuatnya belajar menyampaikan pesan secara kreatif, sedangkan dunia usaha mengajarkan pentingnya konsistensi, pelayanan, kreativitas, dan inovasi.
Pengalaman tersebut turut memengaruhi pandangannya terhadap siswa. Menurut Sofia, kemampuan anak tidak seharusnya hanya dilihat dari nilai akademik.
Ada siswa yang memiliki kemampuan di bidang seni, komunikasi, desain, teknologi, maupun kewirausahaan.
Karena itu, ia berharap sekolah dapat menjadi ruang yang memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan mengembangkan potensi masing-masing.

Kepada para pelajar, Sofia berpesan agar tidak takut mencoba dan tidak menunggu sampai merasa sempurna untuk mulai berkarya.
Sementara kepada para guru, ia mengingatkan bahwa menjadi pendidik bukan berarti berhenti belajar.
“Dari Kalimantan Tengah pun kita bisa menghasilkan karya, membangun usaha, mengembangkan pendidikan, dan memberikan dampak positif,” ujarnya.
Bagi Sofia, perubahan besar dapat dimulai dari langkah sederhana. Salah satunya dengan membuka ruang bagi siswa untuk membaca, menulis, mencoba, dan percaya bahwa setiap gagasan memiliki kesempatan untuk menjadi sebuah karya.
