Close Menu
Teropong Jakarta
    What's Hot

    Lima Kali Gagal Seleksi, Serda (K) Kevin Akhirnya Jadi Kowad: Berangkat dari Keluarga Sederhana

    Gagal Berkali-kali, Serda Zahra Kini Bawa Nama Indonesia dalam Misi Perdamaian PBB

    Tak Pernah Berhenti Mencoba, Gita Octaviani Mengubah Kemampuan Menjadi Peluang

    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Teropong Jakarta
    • News
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Health
    • Sport
    • Lifestyle
      • Entertaiment
      • Fashion
      • Food & Travel
    Subscribe
    Teropong Jakarta
    Beranda » Blog » Muktamar Ditunda, Aktivis NU Ingatkan Risiko Kehilangan Arah
    News

    Muktamar Ditunda, Aktivis NU Ingatkan Risiko Kehilangan Arah

    AdminBy AdminDecember 26, 2025Updated:December 26, 2025No Comments3 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest Telegram LinkedIn Tumblr Email Copy Link
    Follow Us
    Google News Flipboard
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email Copy Link

    Jakarta, TeropongJakarta.com -Desakan agar Nahdlatul Ulama (NU) segera mempercepat pelaksanaan Muktamar kembali mengemuka di tengah dinamika internal organisasi. Penundaan forum tertinggi jam’iyyah itu dinilai berisiko memperpanjang ketegangan dan menempatkan NU dalam situasi limbung, tanpa kepastian arah konsolidasi.

    Aktivis NU era 1980-an, Muzayinul Arif, S.Ag. menilai Muktamar merupakan mekanisme konstitusional yang tidak dapat digantikan oleh forum informal maupun keputusan administratif. Menurut dia, semakin lama Muktamar ditunda, semakin besar ruang tafsir dan spekulasi yang berpotensi menggerus kepercayaan jamaah.

    “Dalam tradisi NU, Muktamar adalah ruang penyelesaian paling sah. Ketika ia ditunda, organisasi kehilangan rujukan untuk menutup perbedaan secara bermartabat,” kata Arief, Jumat, (26,12,25).

    Arief mengingatkan bahwa sejarah NU menunjukkan pola berulang: setiap fase tekanan dan konflik selalu menemukan jalan keluar melalui Muktamar. Pada masa Orde Lama dan Orde Baru, NU kerap berada dalam situasi serba sulit. Bahkan Muktamar Situbondo 1984 yang menegaskan Khittah 1926 tidak serta-merta mengakhiri ketegangan internal.

    “Situbondo adalah tonggak penting, tapi setelah itu NU masih diuji. Krapyak 1989 dan Cipasung 1994 menjadi ruang koreksi dan konsolidasi. Artinya, konflik itu normal, yang tidak normal adalah ketika forum penyelesaiannya ditunda,” ujarnya.

    Dalam pandangan Arief, lokasi Muktamar juga memiliki makna strategis. Ia menyinggung Muktamar yang digelar di Pondok Pesantren Lirboyo sebagai simbol kuat kembalinya NU pada basis kulturalnya. Pesantren, kata dia, selama ini berfungsi sebagai ruang penyangga moral yang menjaga NU dari kepentingan jangka pendek.

    “Pesantren bukan hanya tempat, tapi ekosistem nilai. Di sana, keputusan diikat oleh adab, bukan sekadar kalkulasi,” kata Arief.

    Kritik terhadap penyelenggaraan Muktamar NU di Lampung yang digelar di luar pesantren masih bergema. Sejumlah perubahan struktural pasca-Muktamar tersebut memicu perdebatan di kalangan warga NU. Sebagian menilai perubahan itu berjarak dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), serta menggeser tradisi pengambilan keputusan berbasis musyawarah kultural.

    Arief menyebut NU selama ini dirawat oleh keseimbangan antara struktur dan kultur. Ketika keseimbangan itu terganggu, organisasi berisiko kehilangan daya ikatnya.

    “NU hidup dari keselarasan itu. Jika salah satu ditarik terlalu jauh, NU bisa kehilangan pijakan,” ujarnya.

    Ia menegaskan, desakan percepatan Muktamar tidak dimaksudkan untuk memperuncing konflik, melainkan justru sebagai upaya menjaga keutuhan jam’iyyah. Menurut dia, islah hanya akan memiliki legitimasi kuat jika ditempuh melalui forum tertinggi organisasi.

    “Islah tanpa Muktamar akan selalu dipertanyakan. Konsolidasi hanya sah jika dilakukan secara terbuka dan konstitusional,” kata Arief.

    Hingga berita ini diturunkan, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) belum memberikan pernyataan resmi terkait desakan percepatan Muktamar. Sementara itu, wacana di tingkat akar rumput terus berkembang, menandai meningkatnya harapan agar NU segera menuntaskan konsolidasi internal melalui mekanisme yang telah lama menjadi penopang jam’iyyah.

    Muktamar news PBNU TeropongJakarta.com
    Add as Preferred on Google Follow on Google News Follow on Flipboard
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email Copy Link
    Previous ArticleMenjeda untuk Kembali Kuat: Resya Nabila dan Seni Mendengarkan Tubuh
    Next Article Menjaga Dua Ritme: Sania Clarissa Putri di Lapangan Voli dan Pilihan Hidupnya
    Admin
    • Website

    Related Posts

    Lima Kali Gagal Seleksi, Serda (K) Kevin Akhirnya Jadi Kowad: Berangkat dari Keluarga Sederhana

    September 29, 2026

    Gagal Berkali-kali, Serda Zahra Kini Bawa Nama Indonesia dalam Misi Perdamaian PBB

    September 28, 2026

    Bukan Sekadar Mama Anak Bulu, Hanatahikaru Ajak Masyarakat Peduli Satwa di Tengah Karhutla

    September 25, 2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Teropong

    Hello, We’re content writer who is fascinated by content fashion, culture, food, culture and lifestyle. We helps clients bring the right content to the right people.

    Explore Topics
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Entertaiment
    • Fashion
    • Food & Travel
    • Health
    • Lifestyle
    • News
    • Sport
    Meta
    • Log in
    • Entries feed
    • Comments feed
    • WordPress.org
    Tentang

    TeropongJakarta.com

    Melihat Lebih Jauh, Menginspirasi Lebih Besar!

    Pedoman Media Siber - Kontak Kami - Susunan Redaksi - Tentang Kami

    Useful Links
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Entertaiment
    • Fashion
    • Food & Travel
    • Health
    • Lifestyle
    • News
    • Sport
    Tag Clouds

    atlit Bali Bandung Bekasi Berita BeritaBaru Berita Utama Bogor Conten Creator culture Diana Dewi education enterpreneur Entertainment fashion Food Gaya hidup sehat Health Health Lifestyle Hongkong Influencer Inspirasi Inspirasi perempuan Indonesia Jakarta jambi Kesehatan Kisah inspiratif Kisah inspiratif perempuan Lampung Lari Lifestyle malang media model news olahraga perempuan inspiratif Perempuan inspiratif Indonesia PMI Sport Surabaya TeropongJakarta Teropong Jakarta TeropongJakarta.com Travelling

    Latest Posts

    Lima Kali Gagal Seleksi, Serda (K) Kevin Akhirnya Jadi Kowad: Berangkat dari Keluarga Sederhana

    Gagal Berkali-kali, Serda Zahra Kini Bawa Nama Indonesia dalam Misi Perdamaian PBB

    Tak Pernah Berhenti Mencoba, Gita Octaviani Mengubah Kemampuan Menjadi Peluang

    Bukan Sekadar Mama Anak Bulu, Hanatahikaru Ajak Masyarakat Peduli Satwa di Tengah Karhutla

    Trending Posts

    Subscribe to News

    Get the latest sports news from NewsSite about world, sports and politics.

    Facebook Instagram LinkedIn WhatsApp TikTok Threads
    • Tentang Kami
    • Susunan Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kontak
    © 2023 TeropongJakarta.com by PT Arunika Media Nusantara

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.