Karawang, TeropongJakarta.com – Delapan tahun bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Hong Kong membuat Yati Nurhayati akrab dengan dapur. Perempuan asal Karawang, Jawa Barat, itu tak hanya memasak untuk memenuhi kewajiban kerja, tetapi menjadikan aktivitas tersebut sebagai ruang belajar budaya, empati, dan perawatan.
“Saya ke Hong Kong awalnya untuk bekerja menjaga kakek,” kata Yati saat diwawancarai. Setelah sang kakek meninggal dunia, Yati melanjutkan pekerjaannya merawat sang nenek. Dari hubungan kerja itu, tumbuh kedekatan yang berawal dari satu kesamaan: kegemaran memasak.
“Nenek memang hobi masak. Awalnya saya hanya membantu, lama-lama dia mengajarkan langsung. Dari situ saya belajar banyak masakan Cina,” ujar Yati. Proses belajar itu berlangsung perlahan. Pada tahap awal, setiap masakan selalu didampingi. Seiring waktu, kepercayaan pun tumbuh. “Sampai akhirnya urusan dapur diserahkan ke saya sepenuhnya.”
Bagi Yati, masakan Cina bukan sekadar soal teknik. Ia menemukan nilai-nilai budaya yang melekat di setiap hidangan. “Nenek sering bercerita kenapa makanan tertentu dimasak di hari tertentu, atau kenapa bahannya harus itu. Dari situ saya belajar sejarah dan kebiasaan orang Cina,” katanya.
Pengalaman tersebut menjadi fondasi keterampilan memasak Yati. Tanpa pendidikan formal kuliner, ia mengandalkan ingatan, ketelatenan, dan praktik sehari-hari. “Saya selalu berusaha mengingat apa yang diajarkan, lalu mempraktikkan sendiri,” ujarnya.

Perjalanan Yati kemudian membawanya ke kompetisi Master Chef yang diselenggarakan German Pool di Hong Kong. Ajang tersebut menjadi pengalaman pertamanya tampil di depan publik. “Itu tantangan besar buat saya. Saya tidak terbiasa tampil, biasanya masak hanya di rumah,” katanya.
Tema kompetisi saat itu adalah care food, yakni menu untuk orang yang mengalami kesulitan menelan. Tema tersebut menjadi tantangan tersendiri. “Saya belum pernah membuat makanan seperti itu. Jadi harus benar-benar belajar dari nol, bukan hanya soal rasa, tapi tekstur dan keamanannya,” kata Yati.
Kemenangannya dalam kompetisi tersebut ia maknai sebagai pintu pembuka. “Buat saya ini bukan cuma menang lomba, tapi kesempatan untuk menguji kemampuan dan berani tampil,” ujarnya.
Saat ini, Yati juga aktif sebagai konten kreator. Ia membagikan pengalaman memasak, khususnya bagi sesama PMI yang bekerja merawat orang tua. “Saya tahu rasanya bingung menentukan menu setiap hari. Kadang makanannya tidak cocok, kadang lansia susah makan,” katanya.

Melalui kontennya, Yati ingin membantu para pekerja lain agar lebih siap secara mental dan teknis. “Kerja merawat orang tua itu harus dari hati. Kalau tidak, capeknya bukan cuma fisik, tapi juga batin,” ujarnya. Ia kerap menampilkan momen memasak bersama sang nenek sebagai bentuk pesan empati. “Saya anggap nenek seperti orang tua sendiri.”
Di balik aktivitasnya di Hong Kong, Yati menyimpan rencana jangka panjang. Sepulang ke Indonesia, ia ingin membuka rumah makan bertema masakan Cina yang telah dimodifikasi agar lebih sehat dan sesuai selera lokal. “Saya ingin mengenalkan masakan Cina yang lebih sehat,” katanya.
Ia juga bercita-cita membangun merek kue sendiri. “Saya suka bikin roti dan cookies. Mudah-mudahan nanti bisa jadi usaha,” ujarnya.
Bagi Yati, dapur di perantauan telah menjadi ruang pembelajaran yang membentuk dirinya. “Saya belajar banyak hal dari memasak tentang budaya, kesabaran, dan merawat orang lain,” kata dia.
