Kulon Progo, TeropongJakarta.com – Pagi di Kulon Progo kerap dimulai dengan suara langkah kecil di lantai ruang latihan. Siti Puspa Kumala Purbasari. Mala membiasakan tubuhnya bergerak sebelum hari benar-benar berjalan. Gerak, baginya, bukan sekadar hafalan koreografi, melainkan cara memahami waktu dan kesabaran.
Mala mengenal seni tari sejak duduk di bangku sekolah menengah kejuruan. Dari kegiatan sekolah, ia mulai rutin mengikuti lomba dan tampil dalam berbagai acara. Panggung-panggung kecil itu menjadi ruang belajar: tentang ritme, ketahanan tubuh, dan kepercayaan diri. Honor yang ia terima tak besar, tetapi cukup untuk menegaskan satu hal seni bisa berdiri sebagai kerja.
“Dari situ saya sadar, kalau dijalani serius, seni bisa menjadi sumber penghidupan,” kata Mala, Rabu, 21 Januari 2026.

Pengalaman tampil kemudian membawanya ke ruang yang lebih sunyi: mengajar. Ia dipercaya menjadi pengajar ekstrakurikuler seni tari di sekolah dasar. Di sana, ia tak hanya mengajarkan gerak, tetapi juga ketekunan. Anak-anak, katanya, belajar bahwa satu tarian membutuhkan latihan berulang, disiplin, dan keberanian tampil di depan orang lain.
Di luar ruang latihan, Mala menekuni bidang kecantikan. Dua dunia yang tampak berbeda itu justru ia anggap saling melengkapi. Seni tari mengajarkannya presisi dan kepekaan, sementara kecantikan menuntut ketelitian, pelayanan, dan komunikasi. “Keduanya sama-sama soal kepercayaan,” ujarnya.
Dalam dunia kecantikan, ia belajar bahwa kualitas bukan hanya hasil akhir, melainkan proses. Ketepatan waktu, etika kerja, dan cara berbicara dengan klien menjadi bagian dari pekerjaan itu sendiri. Kepercayaan, bagi Mala, adalah hasil dari konsistensi yang dijaga setiap hari.
Perubahan lanskap digital turut mengubah caranya bekerja. Media sosial menjadi ruang baru untuk memperlihatkan karya, proses, dan identitas. Namun Mala berhati-hati. Ia memilih membangun personal branding secara perlahan, tanpa memisahkan diri dari realitas kerja. “Karya yang jujur lebih bertahan lama,” katanya.

Menjadikan hobi sebagai profesi, menurut Mala, bukan perkara romantik. Tekanan pasar, target pendapatan, dan persaingan kerap hadir bersamaan. Tantangan terberat justru menjaga agar passion tidak terkikis oleh tuntutan ekonomi. Ia mengatur waktu dengan disiplin, terus belajar, dan memberi batas yang jelas antara ruang pribadi dan profesional.
“Kalau semua diukur dengan uang, lama-lama lelah,” ujarnya.
Bagi generasi muda, Mala melihat peluang besar di bidang seni dan kecantikan. Namun ia menekankan pentingnya sikap profesional sejak awal. Kreativitas perlu diasah, tetapi disiplin dan etika kerja tak kalah penting. Media sosial bisa menjadi jembatan, tetapi kualitas tetap penentu.
Di Kulon Progo, Mala memilih berjalan pelan. Ia merawat pilihannya dengan kerja yang tenang di antara gerak dan rias, di antara passion dan tanggung jawab. Bukan untuk menjadi yang paling terlihat, melainkan untuk tetap bertahan.

Cantik bagus