Tangerang, TeropongJakarta.com – Pagi bagi Iis Amin bukan sekadar pergantian waktu. Ia adalah ruang sunyi untuk menata diri. Saat sebagian orang masih bergulat dengan sisa kantuk, Iis telah lebih dulu berlari menyusuri jalanan Tangerang, membiarkan langkahnya menyatu dengan napas yang teratur. Dari kebiasaan itulah, ia menemukan satu bentuk ketenangan yang tak ia dapatkan di tempat lain.
“Lari sangat membantu kesehatan mental saya,” kata Iis. Hampir setiap pagi sebelum bekerja, ia menyempatkan diri berlari. Rutinitas itu, menurutnya, memberi dampak nyata sepanjang hari. “Pikiran jadi lebih segar, badan lebih fresh, dan fokus bekerja. Mood juga jauh lebih baik.”
Di tengah tekanan pekerjaan dan tuntutan hidup yang datang silih berganti, lari menjadi pilihan sadar. Iis mengaku tak jarang merasa lelah oleh ekspektasi orang sekitar. Namun alih-alih meluapkan penat dengan keluhan, ia memilih menggerakkan tubuh. “Saat tekanan datang, saya lebih memilih lari, pagi atau sore. Setelah itu rasanya beban berkurang,” ujarnya.

Bagi Iis, lari bukan sekadar olahraga. Ia adalah hiburan sekaligus hobi. Aktivitas yang membebaskan pikiran tanpa harus banyak bicara. Dari langkah-langkah yang berulang, ia belajar satu nilai penting: kesabaran. “Lari mengajarkan saya untuk tidak terburu-buru. Tidak harus cepat, yang penting konsisten,” katanya.
Perubahan itu tak berhenti pada kondisi mental. Secara fisik, tubuhnya ikut bertransformasi. Berat badan lebih terjaga, stamina meningkat, dan penampilan terasa lebih segar. Iis bahkan mengaku ada rasa bersalah jika dalam sepekan ia tidak berlari. “Sudah seperti candu, tapi candu yang sehat,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Seiring konsistensi itu, media sosial menjadi ruang lain yang ikut berubah. Lari dan konten kini menyatu dalam kesehariannya. Hampir setiap momen berlari ia bagikan, bukan untuk pamer, melainkan berbagi pengalaman. “Saya ingin teman-teman saya tahu bahwa hidup sehat itu bisa dimulai dari hal sederhana,” tuturnya.

Ada kepuasan tersendiri saat membagikan konten lari. Entah karena pencapaian jarak tempuh yang meningkat, atau sekadar karena respons positif dari orang-orang di sekitarnya. Iis melihat, satu per satu temannya mulai mencoba berlari. “Mungkin karena sekarang lari terlihat sebagai gaya hidup sehat yang relevan dan mudah diikuti,” katanya.
Namun bagi Iis, lari bukan sekadar mengikuti tren. Ia adalah cara bertahan. Cara menghadapi masalah hidup yang datang dengan porsinya masing-masing. “Semua orang punya masalah. Ada yang memilih menghadapinya dengan olahraga, seperti lari,” ujarnya.
Prinsipnya sederhana dan berulang ia tekankan: lari tidak harus kencang, tapi jangan berhenti. Konsistensi, menurut Iis Amin, adalah kunci dari perubahan baik bagi tubuh, pikiran, maupun cara memaknai hidup.
