Jakarta, TeropongJakarta.com – Merantau sering kali menjadi titik balik bagi seseorang untuk mengenali dirinya sendiri. Bagi Nadya Azhari, perempuan asal Kota Pariaman, Sumatra Barat, perjalanan hidup di perantauan justru menjadi ruang refleksi tentang makna bertumbuh tanpa harus kehilangan jati diri. Kini menetap di Ibu kota DKI Jakarta, Nadya menjalani proses pendewasaan yang membawanya pada satu kesimpulan: penerimaan diri adalah fondasi utama untuk tumbuh.
“Bagi aku, bertumbuh tanpa harus menjadi orang lain berarti berproses menjadi versi terbaik dari diri sendiri, tanpa kehilangan jati diri,” kata Nadya saat diwawancarai, Minggu 25/01/2025. Kesadaran itu, menurutnya, tidak datang secara tiba-tiba. Ada fase di mana ia merasa harus menyesuaikan diri dengan standar tertentu demi diterima oleh lingkungan.
Tekanan tersebut kian terasa ketika Nadya mulai banyak berinteraksi di ruang publik. Penilaian orang datang dari berbagai arah mulai dari cara bersikap, berpenampilan, hingga pilihan hidup yang diambil. “Ada ekspektasi tentang bagaimana seharusnya aku bersikap, bahkan menentukan jalan hidup,” ujarnya.

Namun, tekanan itu justru menjadi pemicu refleksi. Nadya mengaku berada di titik lelah ketika terus berusaha terlihat kuat dan sempurna. “Aku sadar, aku capek berpura-pura. Dari situ aku mulai berdamai dengan kekurangan yang aku punya,” kata dia. Momen tersebut menjadi awal baginya untuk menerima diri sendiri secara utuh. “Menerima diri sendiri itu ternyata bentuk keberanian,” tambahnya.
Dalam prosesnya, Nadya belajar untuk memilah suara-suara dari luar. Ia tidak lagi menjadikan semua opini sebagai rujukan. “Tidak semua pendapat harus diikuti. Aku belajar memilih mana masukan yang membangun dan mana yang justru menjauhkan aku dari nilai yang aku pegang,” ujarnya.
Menjaga identitas di tengah tuntutan lingkungan, menurut Nadya, membutuhkan kesadaran akan nilai dan tujuan hidup. Ia selalu mengingat alasan awal mengapa melangkah sejauh ini. “Kalau kita tahu apa yang kita pegang dan tujuan kita apa, tuntutan dari luar tidak mudah menggoyahkan,” kata Nadya. Baik dalam kehidupan personal maupun profesional, ia berusaha tetap jujur pada diri sendiri dan tidak memaksakan diri menjadi sesuatu yang bukan dirinya.

Nadya juga tak menampik pernah berada pada fase merasa tertinggal. Membandingkan diri dengan orang lain yang tampak lebih cepat berhasil sempat membuatnya ragu. “Aku sering merasa kurang dan tertinggal,” tuturnya. Namun perasaan itu perlahan ia atasi dengan mengubah cara pandang. “Setiap orang punya waktunya masing-masing. Aku memilih fokus pada prosesku sendiri dan menghargai setiap langkah kecil,” katanya.
Kepada perempuan muda dan generasi sekarang yang sedang mencari jati diri, Nadya berpesan agar tidak takut menjadi diri sendiri. “Kamu tidak harus menjadi orang lain untuk layak diterima,” ujarnya. Ia menilai proses menemukan jati diri memang tidak mudah, tetapi penting untuk dijalani dengan jujur.
“Bertumbuhlah dengan caramu sendiri,” kata Nadya. “Karena versi dirimu yang paling jujur adalah hal paling berharga yang bisa kamu miliki.”
