Bekasi, TeropongJakarta.com – Bagi Halimaocith atau yang akrab disapa Ocit, Vespa bukan sekadar kendaraan. Skuter tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan hidup, pertemanan, hingga cara dirinya mengekspresikan gaya dan karakter.
Kecintaan Ocit terhadap dunia Vespa bermula sejak masih mengenakan seragam SMP. Saat itu, ia kerap nongkrong bersama anak-anak Vespa ekstrem di kawasan Komsen, Bekasi. Ketertarikannya semakin tumbuh ketika memasuki masa SMA karena ia mulai sering menghabiskan waktu di bengkel-bengkel Vespa dan chopper.
Meski aktif bergaul di lingkungan tersebut, Ocit mengaku tetap memiliki batasan dalam memilih pertemanan. Baginya, lingkungan pergaulan tetap harus memberikan pengaruh positif.
“Walaupun aku suka nongkrong, aku tetap punya batasan pergaulan, mana yang baik dan mana yang buruk,” ujar Ocit.

Justru dari dunia Vespa, Ocit menemukan arti pertemanan yang menurutnya begitu kuat. Ia bertemu dengan orang-orang yang memiliki solidaritas tinggi dan saling memperhatikan satu sama lain.
“Awal aku jatuh cinta karena aku menemukan teman yang benar-benar solidaritasnya tinggi. Teman seperti keluarga, saling berbagi, saling menjaga dalam keadaan apa pun,” tuturnya.
Kecintaannya terhadap Vespa kemudian membawanya menjelajahi berbagai daerah. Ocit pernah melakukan touring dari Lombok-Bali, Bekasi-Solo, Bekasi-Lampung, Bekasi-Yogyakarta, hingga Bekasi-Bandung.
Meski mengakui jam terbangnya belum setinggi para senior scooteris, Ocit tetap bangga dengan perjalanan yang sudah dilaluinya. Baginya, setiap perjalanan memberikan pengalaman dan cerita baru.
“Walaupun jam terbangku belum setinggi senior scooteris di luar sana, aku bangga sama diriku sendiri,” kata Ocit.
Saat ini, Ocit menggunakan Vespa PTS yang diberi nama OMEN, yang ia artikan sebagai “Oldman”. Ia memilih PTS karena memiliki desain smallframe dengan bodi mungil yang menurutnya cocok dengan dirinya.

“PTS punya body mungil seperti tubuhku. Smallframe, kayaknya aku merasa cocok saja sama desainnya. Aku rasa sebagian besar wanita juga cocok pakai PTS,” ujarnya.
Meski memiliki komunitas Vespa tahun muda atau matic, kecintaan Ocit terhadap Vespa tua tidak pernah hilang. Ia menilai Vespa klasik memiliki nilai historis yang membuatnya berbeda.
“Walaupun aku memiliki komunitas Vespa tahun muda atau matic, Vespa tua tetap selalu di hati karena Vespa tahun tua lebih punya banyak historis,” tuturnya.
Hubungan Ocit dengan OMEN bahkan terasa sangat personal. Ia mengaku sering mengajak Vespa kesayangannya berbicara. Baginya, kebiasaan tersebut mungkin terdengar unik, tetapi OMEN sudah menjadi bagian penting dalam kehidupannya.

“Memang terdengar agak sedikit aneh, tapi OMEN segalanya buat aku. Selalu nemenin aku ke mana pun,” ungkapnya.
Selain perjalanan dan komunitas, Vespa juga menjadi media bagi Ocit untuk mengekspresikan fashion. Pengalamannya di dunia fashion membuatnya melihat Vespa dan gaya berpakaian sebagai dua hal yang sulit dipisahkan.
“Dari Vespa aku bisa mengekspresikan fashion-ku. Aku suka bersolek karena kebetulan pernah kerja di dunia fashion. Fashion dan Vespa menurutku kolaborasi yang nggak bisa dipisahkan,” kata Ocit.

Ke depan, Ocit ingin kembali touring bersama OMEN. Ia tidak harus mengejar perjalanan dengan jarak yang sangat jauh. Baginya, menikmati perjalanan dengan santai bersama Vespa kesayangan sudah menjadi kebahagiaan tersendiri.
Ia juga berharap suatu saat bisa menambah koleksi Vespa impiannya. Namun, lebih dari sekadar memiliki kendaraan, Ocit ingin terus menjaga persahabatan dan solidaritas yang selama ini menjadi alasan utama dirinya jatuh cinta pada dunia Vespa.
