Oplus_131072
Kebumen, TeropongJakarta.com – Ada harga yang harus dibayar ketika seorang ibu memilih mencari penghidupan jauh dari rumah. Bagi Septiana, perempuan asal Kebumen, Jawa Tengah, harga itu adalah waktu bersama anak. Lebih dari delapan tahun menjalani kehidupan sebagai pekerja migran Indonesia (PMI) di Hong Kong, ia bertahan dengan satu harapan: perjuangannya hari ini bisa menjadi bekal kehidupan yang lebih baik untuk sang buah hati.
Keputusan Septiana bekerja ke luar negeri bukan karena ingin meninggalkan keluarga. Faktor ekonomi menjadi alasan utama. Menurutnya, mencari pekerjaan di Indonesia bukan perkara mudah, terlebih bagi perempuan yang sudah menikah dan memiliki anak.
Situasi tersebut membuat Septiana mencoba mencari peluang di luar negeri. Namun, perjalanan pertamanya tidak berjalan mulus.
Pada 2015, Septiana berangkat ke Singapura untuk bekerja. Ia hanya bertahan sekitar lima bulan. Selama berada di sana, ia mengaku mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari majikan. Ia pernah mengalami kekerasan fisik dan juga menghadapi waktu istirahat yang sangat terbatas.
Pengalaman tersebut menjadi bagian berat dari perjalanan hidupnya sebagai pekerja migran. Namun, Septiana tidak berhenti. Ia kemudian memilih Hong Kong sebagai tempat untuk melanjutkan perjuangan mencari penghasilan.
Hingga kini, sudah lebih dari delapan tahun Septiana bekerja di Hong Kong.
Bertahun-tahun berada di negeri orang tentu bukan sesuatu yang mudah. Terlebih, Septiana harus menjalani hari-hari tanpa selalu bisa berada di dekat anak.
Ia menyadari, tidak ada orang tua yang benar-benar ingin berjauhan dengan buah hatinya. Namun, kebutuhan hidup membuatnya harus mengambil keputusan yang tidak mudah.
“Ga ada yang benar-benar mau jauh dari anak, dari keluarga. Tapi semua ini tentu buat masa depannya juga,” ujar Septiana.
Baginya, kebutuhan anak menjadi salah satu alasan terbesar untuk tetap bertahan. Keinginan sederhana seperti membeli jajanan atau mendapatkan sesuatu yang diinginkan anak mungkin terlihat kecil, tetapi bisa menjadi persoalan ketika kondisi ekonomi keluarga belum memungkinkan.
Sebagai orang tua, melihat anak menginginkan sesuatu tetapi belum mampu memenuhinya tentu menimbulkan rasa sedih. Dari situlah Septiana berusaha menguatkan diri untuk terus bekerja.
Sementara dirinya berada jauh di Hong Kong, sang anak tinggal bersama kakek dan neneknya. Septiana berharap jarak tersebut tidak menghalangi anaknya untuk tumbuh menjadi pribadi yang baik.
Ia juga berharap penghasilan yang diperoleh selama bekerja dapat disisihkan menjadi tabungan untuk masa depan anak.
“Gapapa jauh dulu lah, semoga ada tabungan untuk masa depannya nanti,” katanya.
Bagi Septiana, menjadi PMI bukan hanya tentang mencari penghasilan. Ada mimpi sederhana yang ingin ia wujudkan sebagai seorang ibu: memberikan kesempatan kepada anak untuk memiliki masa depan yang lebih baik daripada kehidupan yang pernah ia jalani.
Delapan tahun lebih di Hong Kong menjadi bukti bahwa perjuangan tersebut tidak selalu mudah. Ada rindu yang harus ditahan, keluarga yang harus ditinggalkan sementara, serta pengalaman pahit yang pernah dilalui.
Namun, Septiana memilih tetap melangkah. Ia percaya, selama perjuangan itu dilakukan untuk keluarga dan masa depan anak, jarak sejauh apa pun layak dijalani.
