Close Menu
Teropong Jakarta
    What's Hot

    Sepuluh Hari dari Teks ke Panggung Berakhir Haru, Tangis Peserta Warnai Perpisahan

    Evelyn Imeldinata Comeback ke Industri Kreatif, Bawa Misi Buka Peluang Talent

    Gak Harus Jago Main, Ini Deretan Profesi di Balik Industri Game dan Esports

    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Teropong Jakarta
    • News
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Health
    • Sport
    • Lifestyle
      • Entertaiment
      • Fashion
      • Food & Travel
    Subscribe
    Teropong Jakarta
    Beranda » Blog » No Viral, No Justice: Novi Lestari Bicara Realitas Hukum untuk Warga Miskin
    News

    No Viral, No Justice: Novi Lestari Bicara Realitas Hukum untuk Warga Miskin

    AdminBy AdminDecember 31, 2025No Comments4 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest Telegram LinkedIn Tumblr Email Copy Link
    Follow Us
    Google News Flipboard
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email Copy Link

    Jakarta, TeropongJakarta.com – Bagi banyak warga miskin, hukum belum sepenuhnya hadir sebagai pelindung. Ia lebih sering tampil sebagai ruang asing yang dipenuhi istilah teknis, prosedur panjang, dan relasi kuasa yang timpang. Ketika persoalan hukum muncul, pilihan yang kerap diambil masyarakat kecil bukanlah melawan, melainkan diam. Diam yang lahir bukan dari kepasrahan, tetapi dari rasa takut dan ketidaktahuan yang berlapis.

    Pengalaman itu berulang kali ditemui Novi Lestari, S.H., advokat sekaligus pendiri Innovis & Partners, dalam praktik pendampingan hukum di tingkat akar rumput. Menurut Novi, minimnya akses keadilan tidak bisa disederhanakan sebagai persoalan ekonomi semata. “Yang paling terasa justru jarak antara masyarakat dan sistem hukum,” ujarnya. Jarak itu tercipta dari bahasa hukum yang elitis, prosedur yang kaku, serta pengalaman kolektif bahwa hukum kerap lebih ramah kepada mereka yang memiliki kuasa.

    Dalam praktik sehari-hari, hukum sering dipersepsikan “tajam ke bawah dan tumpul ke atas”. Persepsi itu tidak muncul dari ruang hampa. Ia terbentuk dari pengalaman konkret: laporan yang lambat ditindaklanjuti, aparat yang sulit diakses, dan proses yang terasa berputar-putar tanpa kejelasan. Situasi tersebut menciptakan jarak psikologis yang membuat masyarakat kecil enggan berhadapan dengan institusi negara.

    Novi mengidentifikasi tiga hambatan utama yang membuat warga miskin tersingkir dari sistem keadilan. Pertama, hambatan informasi. Banyak masyarakat tidak mengetahui hak-hak dasarnya, apalagi memahami mekanisme hukum untuk menegakkannya. Kedua, hambatan struktural, mulai dari birokrasi berbelit, keterbatasan sumber daya aparat, hingga praktik diskriminatif yang masih terjadi di lapangan. Ketiga, hambatan psikologis berupa rasa inferior dan asumsi bahwa berurusan dengan negara selalu berujung merugikan.

    Dari berbagai perkara yang pernah ia tangani kekerasan dalam rumah tangga, sengketa perdata, hingga buruh yang tidak dibayar Novi menyebut satu jenis kasus yang paling telanjang memperlihatkan rapuhnya akses keadilan: pendampingan pro bono dalam perkara pembunuhan dengan korban dari keluarga sangat miskin. Di titik inilah sistem peradilan sering kali kehilangan wajahnya sebagai pelindung warga.

    Dalam kasus semacam itu, proses hukum kerap berjalan lambat. Komunikasi dari aparat minim. Keluarga korban tidak mengetahui tahapan penyidikan, tidak paham hak-haknya, dan tidak tahu kepada siapa harus menanyakan perkembangan perkara. “Sistem seolah menunggu perkara menjadi viral terlebih dahulu untuk bergerak,” kata Novi. Ungkapan no viral, no justice pun menjadi kesimpulan getir yang sering terdengar di lapangan.

    Pendampingan dalam perkara pembunuhan pro bono membuka realitas pahit tentang ketimpangan daya tawar sosial. Ketika korban berasal dari keluarga miskin, suara mereka nyaris tak terdengar. Negara, dalam banyak kasus, justru absen pada fase paling krusial. Layanan bantuan hukum formal sering kali tidak hadir atau tidak menjangkau situasi yang paling darurat. Tanpa pendampingan, keluarga korban sepenuhnya bergantung pada sensitivitas aparat penegak hukum.

    Bagi Novi, kondisi tersebut menunjukkan bahwa keadilan bukan semata persoalan hukum acara. Ia juga soal keberpihakan. Ketika daya tawar sosial nyaris nol, hukum tidak bekerja secara otomatis. Di sinilah peran pendampingan menjadi penting bukan hanya untuk mengurus dokumen dan prosedur, tetapi untuk menjadi jembatan antara warga kecil dan negara yang seharusnya melindungi mereka.

    Menjaga idealisme dalam kerja advokasi bukan perkara mudah. Dunia hukum sarat tekanan, mulai dari tenggat waktu, dinamika relasi kuasa, hingga godaan kompromi yang menggerus kepentingan publik. Novi memilih membangun keseimbangan melalui disiplin profesional, penataan batas emosional, dan kemandirian moral. Idealisme, baginya, harus diterjemahkan ke dalam kerja hukum yang presisi dan beretika. Tanpa itu, niat baik justru berisiko merugikan pihak yang dibela.

    Di luar ruang advokasi, Novi juga menjalankan usaha akomodasi Embarcadero Suite. Dunia bisnis, yang kerap dipandang berseberangan dengan kerja kemanusiaan, justru memberinya fondasi kemandirian. Stabilitas finansial memungkinkan advokasi dijalankan tanpa ketergantungan atau kompromi nilai. Pengalaman bisnis juga melatih ketelitian, manajemen risiko, dan pengambilan keputusan strategis keterampilan yang relevan dalam praktik hukum.

    Jika berbicara tentang masa depan hukum Indonesia, Novi menilai perubahan paling mendesak terletak pada penguatan akses keadilan substantif, bukan sekadar penambahan aturan. Bantuan hukum harus benar-benar menjangkau wilayah pinggiran, pengawasan terhadap aparat penegak hukum perlu diperkuat, dan prosedur hukum harus disederhanakan tanpa menciptakan diskriminasi baru.

    Selama keadilan masih bergantung pada viralitas dan daya tawar, hukum akan terus terasa jauh bagi orang kecil. Reformasi hukum, pada akhirnya, hanya bermakna jika dimulai dari mereka yang paling sedikit memiliki suara.

    advokat Akses keadilan warga miskin Hukum tajam ke bawah tumpul ke atas news No Viral No Justice Novi Lestari Pendampingan hukum pro bono Reformasi hukum Indonesia TeropongJakarta.com
    Add as Preferred on Google Follow on Google News Follow on Flipboard
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email Copy Link
    Previous ArticleKetika Doa Orang Tua Mengantar Adira Aulia Menjadi Polwan
    Next Article Diana Dewi: Kesuksesan Sejati diukur dari Dampak bagi Masyarakat
    Admin
    • Website

    Related Posts

    Gak Harus Jago Main, Ini Deretan Profesi di Balik Industri Game dan Esports

    September 16, 2026

    Shine Management Perluas Ruang Kreatif, dari Dance Crew hingga Kelola Event

    September 15, 2026

    Nana Yusnita Ungkap Perjuangan Bangkit Usai Alami KDRT dalam Rumah Tangga

    September 14, 2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Teropong

    Hello, We’re content writer who is fascinated by content fashion, culture, food, culture and lifestyle. We helps clients bring the right content to the right people.

    Explore Topics
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Entertaiment
    • Fashion
    • Food & Travel
    • Health
    • Lifestyle
    • News
    • Sport
    Meta
    • Log in
    • Entries feed
    • Comments feed
    • WordPress.org
    Tentang

    TeropongJakarta.com

    Melihat Lebih Jauh, Menginspirasi Lebih Besar!

    Pedoman Media Siber - Kontak Kami - Susunan Redaksi - Tentang Kami

    Useful Links
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Entertaiment
    • Fashion
    • Food & Travel
    • Health
    • Lifestyle
    • News
    • Sport
    Tag Clouds

    atlit Bali Bandung Bekasi Berita BeritaBaru Berita Utama Bogor Conten Creator culture Diana Dewi education enterpreneur Entertainment fashion Food Gaya hidup sehat Health Health Lifestyle Hongkong Influencer Inspirasi Inspirasi perempuan Indonesia Jakarta jambi Kesehatan Kisah inspiratif Kisah inspiratif perempuan Lampung Lari Lifestyle malang media model news olahraga perempuan inspiratif Perempuan inspiratif Indonesia PMI Sport Surabaya TeropongJakarta Teropong Jakarta TeropongJakarta.com Travelling

    Latest Posts

    Sepuluh Hari dari Teks ke Panggung Berakhir Haru, Tangis Peserta Warnai Perpisahan

    Evelyn Imeldinata Comeback ke Industri Kreatif, Bawa Misi Buka Peluang Talent

    Gak Harus Jago Main, Ini Deretan Profesi di Balik Industri Game dan Esports

    Shine Management Perluas Ruang Kreatif, dari Dance Crew hingga Kelola Event

    Trending Posts

    Subscribe to News

    Get the latest sports news from NewsSite about world, sports and politics.

    Facebook Instagram LinkedIn WhatsApp TikTok Threads
    • Tentang Kami
    • Susunan Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kontak
    © 2023 TeropongJakarta.com by PT Arunika Media Nusantara

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.