Close Menu
Teropong Jakarta
    What's Hot

    Sepuluh Hari dari Teks ke Panggung Berakhir Haru, Tangis Peserta Warnai Perpisahan

    Evelyn Imeldinata Comeback ke Industri Kreatif, Bawa Misi Buka Peluang Talent

    Gak Harus Jago Main, Ini Deretan Profesi di Balik Industri Game dan Esports

    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Teropong Jakarta
    • News
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Health
    • Sport
    • Lifestyle
      • Entertaiment
      • Fashion
      • Food & Travel
    Subscribe
    Teropong Jakarta
    Beranda » Blog » Nabila Sofiarani: Ibu Tunggal dari Jogja yang Menyulam Luka Menjadi Cahaya
    Entertaiment

    Nabila Sofiarani: Ibu Tunggal dari Jogja yang Menyulam Luka Menjadi Cahaya

    AdminBy AdminJuly 6, 2025No Comments4 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest Telegram LinkedIn Tumblr Email Copy Link
    Follow Us
    Google News Flipboard
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email Copy Link

    Jogja, TeropongJakarta.com – Dalam sebuah kamar di sudut kota Jogja, Nabila Sofiarani pernah menghabiskan berhari-hari hanya dengan menatap langit-langit. Di ruang sunyi itu, ia mencoba menjahit kembali hatinya yang koyak oleh pengkhianatan dan kekerasan yang tak pernah ia bayangkan datang dari orang terdekat.

    Titik terendah dalam hidup Nabila bukan sekadar perceraian. Tapi pengkhianatan yang ia saksikan dengan mata kepala sendiri. “Sebenarnya, penggerebekan terjadi bukan hanya sekali. Kejadian pertama terjadi di kos suami dan saya datang bersama polisi. Rasanya hati saya sudah remuk ketika melihat kenyataan yang tak pernah saya bayangkan. Setelah itu, saya memilih untuk pulang ke rumah orangtua dan pisah rumah demi menenangkan diri.” Ujarnya

    Saya pulang bersama kedua anak saya dengan membawa baju seadanya. Tapi entah apa yang mendorong saya waktu itu, saya memberanikan diri pulang ke kontrakan sekadar ingin mengambil baju dan menemani anak-anak bertemu bapaknya barang sebentar. Mereka sudah hampir dua bulan tidak melihat bapaknya sejak kami pisah rumah. Maka dalam hati, saya mencoba memberinya kesempatan. Saya hanya ingin anak-anak tetap bisa merasakan kehadiran seorang ayah.

    Tapi saya sama sekali tidak siap dengan apa yang saya temukan. Mereka masih saja bersama. Di rumah kontrakan kami sendiri. Rumah yang dulu kami bangun dengan susah payah, yang saya kira bisa menjadi tempat aman untuk anak-anak.

    Saat itu rasanya hati saya benar-benar hancur. Karena setelah penggerebekan pertama, kami sudah membuat surat perjanjian di depan polisi. Ada janji yang katanya tidak akan diingkari lagi. Saya sempat mencoba memaafkan, berharap keadaan bisa diperbaiki, meski pelan-pelan. Tapi ternyata, hanya butuh waktu dua bulan untuk mengulang pengkhianatan yang sama.

    Di momen itulah saya sadar, tidak ada lagi yang bisa diselamatkan. Tidak ada lagi alasan untuk bertahan. Semua kepercayaan, semua rasa hormat, semua upaya memaafkan sudah habis. Demi harga diri saya sendiri, demi ketenangan hati, dan demi masa depan anak-anak, saya memutuskan ini saatnya selesai. Saatnya benar-benar pergi.

    “Rasanya mental, psikis, fisik, semua dihajar habis-habisan,” kata Nabila lirih, mengenang masa-masa kelam itu. Tubuhnya susut drastis. Berat badannya turun. Kepalanya penuh pikiran gelap, termasuk keinginan mengakhiri hidup.

    Ia menjalani hipnoterapi untuk menenangkan pikirannya yang kalut. Tapi bahkan setelah sesi terapi, badai tak serta-merta reda. Proses perceraian memakan waktu enam bulan. Setiap jadwal sidang menjadi pengingat luka yang belum sembuh. Energi, waktu, dan harga diri terkuras habis.

    Di usia 28 tahun, Nabila berstatus janda dengan dua balita. Selama pernikahan, ia tak bekerja di luar rumah. Semua waktunya tercurah untuk anak-anak. Ketika rumah tangga runtuh, ia merasa tak punya apa pun: tidak penghasilan, tidak kepercayaan diri, bahkan tidak keberanian untuk keluar kamar.

    Sebulan penuh pascacerai, Nabila mengurung diri. Hanya sahabat-sahabat terdekat yang tahu ia sudah sendiri. “Aku malu, insecure banget. Rasanya nggak sanggup ketemu keluarga lain yang masih lengkap,” ujarnya.

    Namun di sela keputusasaan itu, ada sekelebat kesadaran. Ia ingat anak-anaknya. Ia ingat orang tuanya yang setia menunggui dari jauh. Dan ia ingat bahwa perpisahan itu adalah keputusannya sendiri keputusan yang berat tapi perlu.

    Dengan sepotong keberanian, ia mengunggah sebuah konten yang menceritakan bahwa dirinya kini seorang single mom. Awalnya, ia mengira kabar itu akan memancing cibiran. Tapi yang terjadi justru sebaliknya: ratusan ribu orang menonton dan menyemangati.

    Itulah titik balik. Pelan-pelan, ia mulai menulis lagi. Mulai merekam keseharian. Mulai memulihkan kepercayaan diri yang lama hilang. Tak disangka, banyak warganet jatuh hati pada gaya bercerita dan editing videonya yang jujur dan menyentuh.

    Satu demi satu peluang datang. Brand-brand lokal mulai menawarkan kerja sama. Endorse produk, ulasan toko, hingga jasa editing video. Semuanya ia jalani di sela pekerjaan rumah: mengantar anak sekolah dan menemani bermain si buah hatinya.

    Suatu hari, tanpa ia sadari, namanya mendadak viral. Sebuah video potongan kajian ustad Aa Hilman yang menyinggung kisahnya ditonton hampir tiga juta kali. Ribuan komentar membanjiri akun media sosialnya. Doa-doa tulus datang dari orang yang tak pernah ia temui.

    “Jujur, gemetar bacanya. Terharu banget. Aku pikir cerita ini sudah lewat, tapi ternyata masih banyak orang yang tersentuh,” katanya.

    Nabila meyakini, energi yang kita tanam akan kembali pada kita. Dulu, saat ia masih penuh dendam dan amarah, hidup terasa buntu. Tapi ketika ia mulai memaafkan, melepaskan, dan berdamai, pintu rezeki terbuka satu per satu.

    Kepada perempuan yang sedang berada di jurang gelap, ia berpesan: tak perlu terburu-buru bangkit. Rasakan dulu sedihmu. Nikmati proses sembuh, sepelan apa pun langkahmu. Sebab di luar sana, ada orang-orang yang menunggu senyummu kembali merekah.

    Bagi yang belum menikah atau sedang berumah tangga, Nabila menekankan satu hal: jadilah perempuan berdaya. Jangan jadikan pernikahan sebagai alasan berhenti bermimpi. Tetaplah mengasah kemampuan, sekecil apa pun. Karena masa depan tak pernah bisa ditebak.

    Hari ini, Nabila masih sama: seorang ibu dua anak, seorang perempuan yang pernah terpuruk. Bedanya, kini ia berdiri tegak dengan senyum lebih tulus. Baginya, perceraian bukan kegagalan. Melainkan pintu menuju hidup yang lebih jujur, lebih damai, dan lebih dekat dengan Sang Pemilik Hidup.

    Bangkit setelah dikhianati Berita Cara bangkit dari perceraian Cara move on setelah pengkhianatan Cerita ibu tunggal Jogja Cerita nyata wanita kuat Endorse single mom creator Ibu muda Jogja inspirasi Jogja Kehidupan single mom sukses Kisah inspiratif ibu tunggal Kisah nyata perceraian dan kebangkitan Kisah viral Nabila Sofiarani Menyulam luka menjadi cahaya Motivasi wanita single parent Nabila Sofiarani Nabila Sofiarani Jogja news Pengalaman pahit jadi kekuatan Perempuan berdaya setelah perceraian Perempuan inspiratif Indonesia 2025 Single mom inspirasi Indonesia TeropongJakarta.com Tips memaafkan dan berdamai dengan masa lalu
    Add as Preferred on Google Follow on Google News Follow on Flipboard
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email Copy Link
    Previous ArticleLupita Widyaningrum: Merawat Literasi, Merangkul Wisata, dan Menjalani Peran Ibu Muda
    Next Article Andita Annisa: Padel sebagai ‘Charging Station’ di Tengah Padatnya Pekerjaan
    Admin
    • Website

    Related Posts

    Sepuluh Hari dari Teks ke Panggung Berakhir Haru, Tangis Peserta Warnai Perpisahan

    September 17, 2026

    Evelyn Imeldinata Comeback ke Industri Kreatif, Bawa Misi Buka Peluang Talent

    September 17, 2026

    Gak Harus Jago Main, Ini Deretan Profesi di Balik Industri Game dan Esports

    September 16, 2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Teropong

    Hello, We’re content writer who is fascinated by content fashion, culture, food, culture and lifestyle. We helps clients bring the right content to the right people.

    Explore Topics
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Entertaiment
    • Fashion
    • Food & Travel
    • Health
    • Lifestyle
    • News
    • Sport
    Meta
    • Log in
    • Entries feed
    • Comments feed
    • WordPress.org
    Tentang

    TeropongJakarta.com

    Melihat Lebih Jauh, Menginspirasi Lebih Besar!

    Pedoman Media Siber - Kontak Kami - Susunan Redaksi - Tentang Kami

    Useful Links
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Entertaiment
    • Fashion
    • Food & Travel
    • Health
    • Lifestyle
    • News
    • Sport
    Tag Clouds

    atlit Bali Bandung Bekasi Berita BeritaBaru Berita Utama Bogor Conten Creator culture Diana Dewi education enterpreneur Entertainment fashion Food Gaya hidup sehat Health Health Lifestyle Hongkong Influencer Inspirasi Inspirasi perempuan Indonesia Jakarta jambi Kesehatan Kisah inspiratif Kisah inspiratif perempuan Lampung Lari Lifestyle malang media model news olahraga perempuan inspiratif Perempuan inspiratif Indonesia PMI Sport Surabaya TeropongJakarta Teropong Jakarta TeropongJakarta.com Travelling

    Latest Posts

    Sepuluh Hari dari Teks ke Panggung Berakhir Haru, Tangis Peserta Warnai Perpisahan

    Evelyn Imeldinata Comeback ke Industri Kreatif, Bawa Misi Buka Peluang Talent

    Gak Harus Jago Main, Ini Deretan Profesi di Balik Industri Game dan Esports

    Shine Management Perluas Ruang Kreatif, dari Dance Crew hingga Kelola Event

    Trending Posts

    Subscribe to News

    Get the latest sports news from NewsSite about world, sports and politics.

    Facebook Instagram LinkedIn WhatsApp TikTok Threads
    • Tentang Kami
    • Susunan Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kontak
    © 2023 TeropongJakarta.com by PT Arunika Media Nusantara

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.