Close Menu
Teropong Jakarta
    What's Hot

    Gagal Berkali-kali, Serda Zahra Kini Bawa Nama Indonesia dalam Misi Perdamaian PBB

    Tak Pernah Berhenti Mencoba, Gita Octaviani Mengubah Kemampuan Menjadi Peluang

    Bukan Sekadar Mama Anak Bulu, Hanatahikaru Ajak Masyarakat Peduli Satwa di Tengah Karhutla

    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Teropong Jakarta
    • News
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Health
    • Sport
    • Lifestyle
      • Entertaiment
      • Fashion
      • Food & Travel
    Subscribe
    Teropong Jakarta
    Beranda » Blog » Kisah Jennyfer, Psikolog di Jakarta: Pernah Kehilangan Diri Sendiri di Tengah Tuntutan Profesi
    Education

    Kisah Jennyfer, Psikolog di Jakarta: Pernah Kehilangan Diri Sendiri di Tengah Tuntutan Profesi

    AdminBy AdminMay 7, 2026No Comments3 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest Telegram LinkedIn Tumblr Email Copy Link
    Follow Us
    Google News Flipboard
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email Copy Link

    Jakarta, TeropongJakarta.com – Profesi psikolog sering kali dipandang sebagai sosok yang stabil, bijaksana, dan selalu mampu memahami orang lain. Namun di balik citra tersebut, tersimpan sisi manusiawi yang jarang terlihat. Hal ini diungkapkan oleh Jennyfer, M.Psi., Psikolog di Jakarta, yang mengaku sempat mengalami krisis identitas dalam perjalanan kariernya.

    Selama hampir delapan tahun berpraktik, Jennyfer memulai kariernya dengan penuh idealisme. Ia merasa antusias karena akhirnya bisa membantu banyak orang secara profesional mendengarkan, memahami, dan mendampingi klien menemukan arah hidup. Namun, seiring waktu, ia menyadari bahwa peran tersebut perlahan mengubah cara ia memandang dirinya sendiri.

    Memasuki tahun keempat, Jennyfer mulai merasa hidupnya berjalan dalam mode “berfungsi”. Ia tidak lagi benar-benar hadir sebagai individu, melainkan sebagai peran yang terus dituntut untuk kuat dan terkendali.

    “Dalam kehidupan personal pun, saya terus berpikir, ‘sebagai psikolog harusnya saya begini, harusnya saya kuat.’ Dari situ saya sadar, saya tidak lagi hidup sebagai diri sendiri, tapi sebagai peran,” ujarnya.

    Batas antara kehidupan profesional dan pribadi pun mulai kabur. Jennyfer pernah berada di fase ketika ia merasa harus selalu tersedia bagi klien, bahkan di luar jam kerja. Ia mengaku pernah merespons pesan hingga dini hari, karena merasa itu bagian dari tanggung jawabnya.

    Namun, kondisi tersebut justru berdampak pada kualitas hidupnya. Menurut Jennyfer, empati yang menjadi inti profesi psikolog bisa menjadi “pisau bermata dua” jika tidak diimbangi dengan batas yang sehat. Tanpa disadari, ia membawa terlalu banyak emosi orang lain ke dalam dirinya.

    Selain itu, tekanan juga datang dari ekspektasi sosial. Psikolog kerap dianggap harus selalu tenang, dewasa, dan memiliki jawaban atas berbagai persoalan. Padahal, pada kenyataannya, mereka tetap manusia yang bisa mengalami kebingungan, kelelahan, hingga konflik batin.

    “Kadang ada anggapan, ‘tanya saja ke psikolog, pasti tahu jawabannya.’ Padahal belum tentu itu ranah kita, dan belum tentu kita selalu punya kapasitas untuk menjawab,” jelasnya.

    Titik balik Jennyfer terjadi saat ia mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa selama ini ia sering mendorong klien untuk meningkatkan kesadaran diri (self-awareness), namun belum sepenuhnya menerapkannya dalam kehidupan pribadi.

    Dari refleksi tersebut, Jennyfer mulai belajar membangun batas yang lebih sehat antara dirinya sebagai individu dan profesinya sebagai psikolog. Ia memberi ruang untuk menjadi manusia biasa yang boleh lelah, boleh rapuh, dan tidak harus selalu kuat.

    Pengalaman itu kemudian ia tuangkan dalam bukunya berjudul Sebenarnya Hidupku Tidak Semulus Itu…. Melalui tulisan tersebut, ia ingin menyampaikan bahwa di balik tampilan luar yang terlihat baik-baik saja, banyak orang yang diam-diam sedang berjuang menemukan dirinya kembali.

    Kini, Jennyfer memandang kerentanan bukan sebagai kelemahan, melainkan bagian penting dari kemanusiaan. Baginya, psikolog yang sehat bukanlah mereka yang selalu terlihat sempurna, tetapi yang mampu mengenali batas dan merawat dirinya sendiri.

    “Menjadi psikolog bukan berarti kebal terhadap luka, tapi berani memahami luka itu tanpa menyangkalnya,” tuturnya.

    Jennyfer juga menegaskan bahwa pengalaman kehilangan diri tidak hanya dialami oleh psikolog. Siapa pun, dari profesi apa pun, bisa mengalaminya. Karena itu, ia mengajak setiap orang untuk mulai lebih jujur pada diri sendiri dan membangun kesadaran diri secara utuh.

    Pada akhirnya, menurut Jennyfer, yang paling dibutuhkan manusia bukanlah sosok yang sempurna, melainkan kehadiran yang autentik seseorang yang mampu memahami, karena ia sendiri pernah berjuang untuk memahami dirinya.

    Berita buku Sebenarnya Hidupku Tidak Semulus Itu burnout psikolog cerita kesehatan mental Health Jakarta Jennyfer kehidupan di balik profesi psikolog kesehatan mental profesional kisah inspiratif psikolog krisis identitas dalam profesi menjaga mental health mental health Indonesia news perjalanan menemukan jati diri psikolog psikolog Jakarta viral psikolog juga manusia empati dalam profesi psikolog psikolog kehilangan diri sendiri psikolog perempuan Jakarta refleksi kehidupan psikolog self awareness dan kesehatan mental tekanan profesi psikolog TeropongJakarta.com
    Add as Preferred on Google Follow on Google News Follow on Flipboard
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email Copy Link
    Previous ArticleGak Kehilangan Jati Diri, Cara Brigina Adtrina Putri Berkembang di Dunia Militer
    Next Article Tak takut Mulai dari Nol, Dilla Ainun Tata Percaya Networking Jadi Kunci Utama Untuk Peluang Bisnis
    Admin
    • Website

    Related Posts

    Evelyn Imeldinata Comeback ke Industri Kreatif, Bawa Misi Buka Peluang Talent

    September 17, 2026

    Gak Harus Jago Main, Ini Deretan Profesi di Balik Industri Game dan Esports

    September 16, 2026

    Dari Bekal Rp20 Ribu hingga Jadi Kandidat Doktor, Kisah Perjuangan Indah Trie

    September 14, 2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Teropong

    Hello, We’re content writer who is fascinated by content fashion, culture, food, culture and lifestyle. We helps clients bring the right content to the right people.

    Explore Topics
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Entertaiment
    • Fashion
    • Food & Travel
    • Health
    • Lifestyle
    • News
    • Sport
    Meta
    • Log in
    • Entries feed
    • Comments feed
    • WordPress.org
    Tentang

    TeropongJakarta.com

    Melihat Lebih Jauh, Menginspirasi Lebih Besar!

    Pedoman Media Siber - Kontak Kami - Susunan Redaksi - Tentang Kami

    Useful Links
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Entertaiment
    • Fashion
    • Food & Travel
    • Health
    • Lifestyle
    • News
    • Sport
    Tag Clouds

    atlit Bali Bandung Bekasi Berita BeritaBaru Berita Utama Bogor Conten Creator culture Diana Dewi education enterpreneur Entertainment fashion Food Gaya hidup sehat Health Health Lifestyle Hongkong Influencer Inspirasi Inspirasi perempuan Indonesia Jakarta jambi Kesehatan Kisah inspiratif Kisah inspiratif perempuan Lampung Lari Lifestyle malang media model news olahraga perempuan inspiratif Perempuan inspiratif Indonesia PMI Sport Surabaya TeropongJakarta Teropong Jakarta TeropongJakarta.com Travelling

    Latest Posts

    Gagal Berkali-kali, Serda Zahra Kini Bawa Nama Indonesia dalam Misi Perdamaian PBB

    Tak Pernah Berhenti Mencoba, Gita Octaviani Mengubah Kemampuan Menjadi Peluang

    Bukan Sekadar Mama Anak Bulu, Hanatahikaru Ajak Masyarakat Peduli Satwa di Tengah Karhutla

    Agata Selia Keylani, dari Catwalk hingga Panggung Seni: Remaja 16 Tahun yang Berani Mengejar Mimpi

    Trending Posts

    Subscribe to News

    Get the latest sports news from NewsSite about world, sports and politics.

    Facebook Instagram LinkedIn WhatsApp TikTok Threads
    • Tentang Kami
    • Susunan Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kontak
    © 2023 TeropongJakarta.com by PT Arunika Media Nusantara

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.