Jakarta, TeropongJakarta.com – Profesi psikolog sering kali dipandang sebagai sosok yang stabil, bijaksana, dan selalu mampu memahami orang lain. Namun di balik citra tersebut, tersimpan sisi manusiawi yang jarang terlihat. Hal ini diungkapkan oleh Jennyfer, M.Psi., Psikolog di Jakarta, yang mengaku sempat mengalami krisis identitas dalam perjalanan kariernya.
Selama hampir delapan tahun berpraktik, Jennyfer memulai kariernya dengan penuh idealisme. Ia merasa antusias karena akhirnya bisa membantu banyak orang secara profesional mendengarkan, memahami, dan mendampingi klien menemukan arah hidup. Namun, seiring waktu, ia menyadari bahwa peran tersebut perlahan mengubah cara ia memandang dirinya sendiri.
Memasuki tahun keempat, Jennyfer mulai merasa hidupnya berjalan dalam mode “berfungsi”. Ia tidak lagi benar-benar hadir sebagai individu, melainkan sebagai peran yang terus dituntut untuk kuat dan terkendali.

“Dalam kehidupan personal pun, saya terus berpikir, ‘sebagai psikolog harusnya saya begini, harusnya saya kuat.’ Dari situ saya sadar, saya tidak lagi hidup sebagai diri sendiri, tapi sebagai peran,” ujarnya.
Batas antara kehidupan profesional dan pribadi pun mulai kabur. Jennyfer pernah berada di fase ketika ia merasa harus selalu tersedia bagi klien, bahkan di luar jam kerja. Ia mengaku pernah merespons pesan hingga dini hari, karena merasa itu bagian dari tanggung jawabnya.
Namun, kondisi tersebut justru berdampak pada kualitas hidupnya. Menurut Jennyfer, empati yang menjadi inti profesi psikolog bisa menjadi “pisau bermata dua” jika tidak diimbangi dengan batas yang sehat. Tanpa disadari, ia membawa terlalu banyak emosi orang lain ke dalam dirinya.
Selain itu, tekanan juga datang dari ekspektasi sosial. Psikolog kerap dianggap harus selalu tenang, dewasa, dan memiliki jawaban atas berbagai persoalan. Padahal, pada kenyataannya, mereka tetap manusia yang bisa mengalami kebingungan, kelelahan, hingga konflik batin.
“Kadang ada anggapan, ‘tanya saja ke psikolog, pasti tahu jawabannya.’ Padahal belum tentu itu ranah kita, dan belum tentu kita selalu punya kapasitas untuk menjawab,” jelasnya.

Titik balik Jennyfer terjadi saat ia mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa selama ini ia sering mendorong klien untuk meningkatkan kesadaran diri (self-awareness), namun belum sepenuhnya menerapkannya dalam kehidupan pribadi.
Dari refleksi tersebut, Jennyfer mulai belajar membangun batas yang lebih sehat antara dirinya sebagai individu dan profesinya sebagai psikolog. Ia memberi ruang untuk menjadi manusia biasa yang boleh lelah, boleh rapuh, dan tidak harus selalu kuat.
Pengalaman itu kemudian ia tuangkan dalam bukunya berjudul Sebenarnya Hidupku Tidak Semulus Itu…. Melalui tulisan tersebut, ia ingin menyampaikan bahwa di balik tampilan luar yang terlihat baik-baik saja, banyak orang yang diam-diam sedang berjuang menemukan dirinya kembali.
Kini, Jennyfer memandang kerentanan bukan sebagai kelemahan, melainkan bagian penting dari kemanusiaan. Baginya, psikolog yang sehat bukanlah mereka yang selalu terlihat sempurna, tetapi yang mampu mengenali batas dan merawat dirinya sendiri.

“Menjadi psikolog bukan berarti kebal terhadap luka, tapi berani memahami luka itu tanpa menyangkalnya,” tuturnya.
Jennyfer juga menegaskan bahwa pengalaman kehilangan diri tidak hanya dialami oleh psikolog. Siapa pun, dari profesi apa pun, bisa mengalaminya. Karena itu, ia mengajak setiap orang untuk mulai lebih jujur pada diri sendiri dan membangun kesadaran diri secara utuh.
Pada akhirnya, menurut Jennyfer, yang paling dibutuhkan manusia bukanlah sosok yang sempurna, melainkan kehadiran yang autentik seseorang yang mampu memahami, karena ia sendiri pernah berjuang untuk memahami dirinya.
