Yogyakarta, TeropongJakarta.com – Perjalanan meraih pekerjaan pertama sering kali menjadi fase paling menantang bagi para fresh graduate, tak terkecuali bagi Annisa Riswandany. Kini dikenal sebagai nurse di RSUP Dr. Sardjito, Annisa harus melalui proses panjang penuh ketidakpastian sebelum akhirnya berhasil berdiri di titik yang ia impikan.
Setelah menyelesaikan pendidikan profesi Ners pada 2017, Annisa dihadapkan pada realita dunia kerja yang tidak mudah. Ia mengirimkan lamaran ke hampir seluruh rumah sakit di Yogyakarta, namun tak kunjung mendapat panggilan. Kondisi tersebut diperparah dengan belum terbitnya Surat Tanda Registrasi (STR), dokumen wajib bagi tenaga kesehatan untuk bisa bekerja secara resmi di rumah sakit.
Situasi sulit sebenarnya sudah ia rasakan sejak sebelum kuliah. Latar belakang ekonomi keluarga yang tidak stabil sempat membuatnya harus mengikhlaskan kemungkinan tidak melanjutkan pendidikan tinggi. Namun, kesempatan datang ketika ia diterima di Universitas Gadjah Mada melalui jalur undangan dengan beasiswa Bidikmisi, yang membebaskan biaya kuliah.

Selama masa kuliah, Annisa tidak hanya fokus pada akademik. Ia juga bekerja di sebuah toko sepatu di kawasan Jalan Urip Sumoharjo, Yogyakarta. Pengalaman tersebut menjadi salah satu momen paling berat dalam hidupnya. Ia harus bekerja dari pagi hingga petang, bahkan mengalami lecet di kaki. Meski demikian, ia tetap menjalaninya dengan penuh keikhlasan.
“Bagi saya, setiap pengalaman adalah proses belajar. Selama itu halal, saya akan jalani,” ujarnya.
Setelah lulus, Annisa sempat mencoba jalur lain dengan menjadi guru di SMK Kesehatan di Yogyakarta. Menariknya, ia langsung dipercaya menjadi kepala program studi keperawatan. Di sisi lain, ia juga pernah mengikuti ajang Duta Bandara yang diselenggarakan oleh Angkasa Pura dan berhasil meraih Juara II Duta Bandara Adisutjipto Yogyakarta pada awal 2018.

Meski memiliki berbagai peluang karier, Annisa tetap teguh pada mimpinya menjadi perawat klinis. Sejak masa kuliah, ia memiliki prinsip kuat untuk bekerja di RSUP Dr. Sardjito. Kesempatan itu akhirnya datang setelah STR-nya terbit. Ia mengikuti proses rekrutmen yang tidak mudah dan berhasil diterima sebagai tenaga kontrak di pertengahan 2018. Tak lama berselang, ia juga lolos seleksi CPNS di akhir tahun yang sama.
Bagi Annisa, profesi perawat bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hati. Ia menyadari bahwa profesi ini sering dipandang sebelah mata, namun justru di situlah letak kemuliaannya. Ia bisa membantu pasien, belajar tentang ketulusan, serta memahami arti kehidupan dari berbagai sudut pandang.
“Di rumah sakit itu bukan hanya tentang siapa yang sakit, tapi siapa yang benar-benar peduli. It’s all about caring,” katanya.
Melalui kisahnya, Annisa ingin mengingatkan generasi muda untuk tidak mudah menyerah. Ia percaya bahwa setiap proses memiliki perannya masing-masing dalam membentuk masa depan.
“Berjuanglah dan bermimpilah setinggi langit. Jika jatuh, kamu akan berada di antara bintang-bintang,” tutupnya.
