Purbalingga, TeropongJakarta.com – Zahrotun Khasanah, yang akrab disapa Buza, tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah drastis dalam waktu singkat. Perempuan asal Purbalingga ini harus menghadapi masa sulit setelah kehilangan stabilitas hidup, kepercayaan terhadap orang terdekat, serta aset keluarga yang berdampak pada kondisi ekonomi yang cukup besar. Kerugian yang dialami ditaksir mencapai lebih dari Rp1 miliar dan disebut berkaitan dengan persoalan keuangan yang turut terdampak aktivitas judi online di lingkungan terdekatnya.
Dari kehidupan yang sebelumnya cukup stabil bersama anaknya, Buza kini harus kembali memulai semuanya dari nol.
“Dulu hidup saya dan anak saya cukup nyaman. Sekarang saya harus mulai dari nol lagi,” ujar Buza.
Ia menceritakan, dalam proses tersebut sejumlah aset keluarga ikut terdampak. Salah satunya adalah BPKB kendaraan yang digadaikan tanpa sepengetahuannya. Dampak dari hal tersebut membuat ia tidak lagi leluasa menggunakan kendaraan pribadinya, karena kerap didatangi pihak penagih (debt collector) untuk penelusuran dan penagihan terkait kewajiban yang berjalan.

Peristiwa itu tidak hanya meninggalkan dampak finansial, tetapi juga luka emosional yang mendalam bagi Buza. Ia mengaku kehilangan rasa aman, kepercayaan, serta stabilitas hidup yang selama ini ia bangun.
Bagi Buza, kehilangan terbesar bukan terletak pada materi, melainkan pada runtuhnya kepercayaan terhadap orang yang sebelumnya ia yakini.
“Yang paling berat bukan soal uang. Tapi ketika kepercayaan yang kita bangun lama justru runtuh begitu saja,” katanya.
Situasi tersebut membuat Buza sempat berada di titik terendah dalam hidupnya. Ia harus menghadapi tekanan emosional sekaligus kenyataan bahwa kehidupan yang ia rencanakan bersama anaknya tidak lagi berjalan seperti sebelumnya.
Sebagai seorang ibu, Buza mengaku anak menjadi alasan terbesarnya untuk bertahan dan kembali bangkit. Di tengah kondisi sulit, ia menyadari bahwa dirinya tidak boleh larut terlalu lama dalam keterpurukan.
“Anak saya yang membuat saya harus tetap berdiri. Saya tidak boleh menyerah,” ujarnya.

Di tengah proses pemulihan hidupnya, Buza tetap melanjutkan bisnis yang telah ia bangun sejak sebelum menikah, yakni usaha distribusi berbagai produk di bidang kesehatan, kecantikan, dan kebutuhan rumah tangga (homecare). Bisnis tersebut menjadi salah satu penopang utama dalam prosesnya membangun kembali kehidupan.
“Saya sudah membangun usaha ini sejak sebelum menikah. Sekarang saya hanya berusaha melanjutkan dan mengembangkannya kembali,” jelasnya.
Dari pengalaman tersebut, Buza belajar banyak hal tentang arti kemandirian dan pentingnya kehati-hatian dalam mengambil keputusan hidup, terutama yang berkaitan dengan kepercayaan dan pengelolaan keuangan.
Ia kini lebih fokus pada hal-hal yang bisa ia kendalikan, seperti kesehatan diri, hubungan dengan anak, serta pengembangan usaha yang menjadi sumber penghidupannya.
Perjalanan bangkit itu tidak terjadi dalam waktu singkat. Buza mengaku melalui fase panjang untuk menerima kenyataan dan berdamai dengan keadaan yang terjadi dalam hidupnya.
Namun perlahan, ia mulai mengubah cara pandang. Jika sebelumnya ia mempertanyakan alasan di balik kejadian yang menimpanya, kini ia lebih fokus pada langkah ke depan.

“Sekarang saya lebih berpikir apa yang bisa saya lakukan setelah ini, bukan lagi kenapa ini terjadi,” ujarnya.
Melalui kisahnya, Buza berharap dapat memberikan semangat bagi perempuan lain yang sedang menghadapi situasi sulit. Ia memahami bahwa banyak perempuan yang menjalani perjuangan hidup secara diam-diam.
Menurutnya, proses bangkit tidak harus cepat, tetapi harus tetap berjalan.
“Tidak apa-apa kalau harus mulai dari nol. Tidak apa-apa kalau harus menangis dan beristirahat. Yang penting jangan berhenti melangkah,” tuturnya.
Kini, Buza perlahan kembali membangun kehidupannya. Dari keterpurukan yang pernah ia alami, ia membuktikan bahwa perempuan tetap memiliki kekuatan untuk bangkit, melanjutkan hidup, dan menciptakan masa depan yang lebih baik bersama anak yang menjadi sumber kekuatannya.
