Jakarta, TeropongJakarta.com – Tumbuh di wilayah perbatasan Indonesia dan Timor-Leste membuat Serda (K) ClaristHa Delaros Mau memahami bahwa menjaga keutuhan negara bukan sekadar slogan. Sejak kecil, ia melihat bagaimana kehidupan masyarakat perbatasan berjalan berdampingan dengan persoalan kedaulatan, keterbatasan fasilitas, dan kebutuhan akan kehadiran negara.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan ClaristHa memilih jalan pengabdian sebagai Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad). Kini, ia menjalankan tugas sebagai Tur Arsip Urtu Situud Ajendam XXIV/Mandala Trikora di Papua.
Bagi ClaristHa, perjalanan dari wilayah perbatasan RI–RDTL menuju Papua memiliki benang merah yang sama. Keduanya membuatnya semakin memahami bahwa pengabdian kepada Indonesia dapat dilakukan di mana pun seorang prajurit ditempatkan.
“Dari perbatasan RI–RDTL sampai Papua, semangat pengabdiannya tetap sama,” ujar ClaristHa.
Bertugas di Papua menjadi pengalaman yang memberikan banyak pelajaran bagi ClaristHa. Ia harus beradaptasi dengan kondisi geografis, karakter masyarakat, perubahan cuaca, jarak yang jauh, hingga akses di sejumlah wilayah yang tidak selalu mudah.

Tantangan tersebut menuntut ketahanan fisik dan mental. Namun, bukan hanya kondisi medan yang menjadi proses pembelajaran. Berinteraksi dengan masyarakat setempat juga mengajarkannya pentingnya memahami adat dan budaya.
Menurut ClaristHa, seorang prajurit tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan militer ketika berada di tengah masyarakat. Sikap rendah hati, kesabaran, kemampuan mendengarkan, serta menghormati kebiasaan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun hubungan.
“Seorang prajurit harus mampu beradaptasi. Kita tidak bisa memaksakan cara kita sendiri, tetapi harus mampu memahami lingkungan tempat kita bertugas,” katanya.
Bagi ClaristHa, menjadi Kowad di Papua bukan semata menjalankan tugas kedinasan. Menjaga keamanan dan membantu mempertahankan keutuhan wilayah NKRI memang menjadi bagian dari pengabdian, tetapi hubungan dengan masyarakat juga memiliki peran penting.

Ia berusaha membangun komunikasi dan kepercayaan dengan masyarakat di lingkungan tempatnya bertugas. Baginya, ketika masyarakat merasa aman, dihargai, dan dapat berkomunikasi dengan prajurit, kehadiran TNI akan memiliki makna yang lebih luas.
Pengalaman tersebut juga memperkuat pandangannya bahwa kekuatan prajurit perempuan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan fisik. Keteguhan hati, disiplin, empati, dan kemauan untuk terus belajar menjadi modal yang tidak kalah penting.
ClaristHa berpesan kepada generasi muda, khususnya perempuan yang ingin menjadi prajurit TNI, agar tidak menjadikan keterbatasan daerah asal atau kondisi keluarga sebagai penghalang untuk mengejar cita-cita.
Ia meyakini perjalanan menuju cita-cita membutuhkan keberanian untuk memulai, disiplin dalam menjalani proses, dan keteguhan ketika menghadapi tantangan.
“Jangan tanyakan seberapa jauh tempat tugas kita dari rumah, tetapi tanyakan seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan untuk negeri,” tuturnya.
Bagi ClaristHa, jarak dari rumah bukan ukuran besar kecilnya pengabdian. Selama Merah Putih berkibar, di sanalah seorang prajurit memiliki kesempatan untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara.
