Jakarta, TeropongJakarta.com – Menjadi seorang prajurit TNI sekaligus tenaga kesehatan bukanlah pekerjaan yang mudah. Namun, bagi Shelly Wahyu Handayani, pengabdian kepada bangsa justru menjadi panggilan hidup yang dijalani dengan penuh dedikasi. Perempuan yang kini bertugas di Kesdam XII/Tanjungpura itu pernah dipercaya menjalankan misi perdamaian dunia di Lebanon pada 2020 hingga 2021, tepat ketika pandemi COVID-19 melanda dunia.
Lulusan D3 Kebidanan ini mengawali kariernya sebagai tenaga medis yang memiliki keinginan besar untuk membantu sesama. Kesempatan bergabung di lingkungan TNI AD menjadi jalan baginya untuk menggabungkan dua panggilan sekaligus, yakni mengabdi sebagai prajurit dan memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Pengalaman bertugas dalam misi perdamaian PBB menjadi salah satu babak paling berkesan dalam hidupnya. Saat sebagian besar negara sedang berjuang menghadapi pandemi, Shelly harus menjalankan tugas jauh dari keluarga dengan berbagai keterbatasan yang ada di daerah penugasan.
“Ketika berada di daerah misi, kami harus lebih disiplin menjaga kesehatan. Situasinya tidak mudah karena dunia sedang menghadapi pandemi. Bahkan saya menerima vaksin COVID-19 pertama kali saat berada di daerah misi,” ungkapnya.

Menurut Shelly, tantangan terbesar bukan hanya menjaga kondisi fisik tetap prima, tetapi juga memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan dengan baik bagi masyarakat yang membutuhkan. Dalam berbagai situasi, tenaga medis dituntut tetap hadir memberikan bantuan tanpa mengabaikan faktor keselamatan.
Selama berada di Lebanon, Shelly melihat langsung bagaimana konflik dan berbagai persoalan kemanusiaan berdampak pada kehidupan masyarakat. Pengalaman itu membuatnya memahami bahwa akses terhadap kesehatan merupakan kebutuhan mendasar yang belum tentu dapat dinikmati semua orang.
Ia menilai perempuan dan anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan dalam situasi konflik maupun krisis kemanusiaan. Karena itu, kehadiran tenaga medis perempuan memiliki peran yang sangat penting.
“Perempuan dan anak-anak membutuhkan perhatian khusus. Selain pelayanan kesehatan, mereka juga membutuhkan dukungan moril. Kehadiran tenaga medis perempuan sering kali membuat mereka merasa lebih nyaman dan aman,” jelasnya.

Sekembalinya ke Indonesia, Shelly kembali menjalankan tugas di Kesdam XII/Tanjungpura. Selain bekerja di lingkungan militer, ia juga aktif memberikan pelayanan kesehatan di poliklinik, khususnya untuk ibu dan anak.
Bagi Shelly, setiap tugas yang dijalani selalu menghadirkan pelajaran berharga. Salah satu yang paling membekas adalah pentingnya rasa syukur. Melihat kehidupan masyarakat di daerah misi membuatnya semakin menghargai kondisi Indonesia yang relatif aman dan damai.
“Kita harus lebih bersyukur dengan negeri tempat tinggal kita. Tidak semua orang memiliki kesempatan hidup dengan aman dan mendapatkan fasilitas yang layak,” katanya.

Melalui perjalanan kariernya, Shelly ingin menginspirasi generasi muda untuk tidak takut bermimpi besar. Ia percaya bahwa kerja keras, pendidikan, dan semangat belajar dapat membuka banyak peluang untuk berkontribusi bagi bangsa.
“Teruslah belajar dan berjuang demi menggapai cita-cita. Jangan mudah menyerah karena setiap proses akan membawa kita pada pengalaman yang berharga,” tutupnya.
Kisah Shelly Wahyu Handayani menunjukkan bahwa pengabdian dapat dilakukan dalam banyak cara. Sebagai Kowad, tenaga medis, dan mantan personel misi perdamaian PBB, ia membuktikan bahwa perempuan Indonesia mampu hadir di garis depan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat, baik di dalam negeri maupun di panggung dunia.
