Jakarta, TeropongJakarta.com – Tidak banyak orang yang berani mengejar mimpi hingga ke benua lain. Namun, bagi Serda (K) Salsyabilla Prameswari Vedhayanto, perjalanan dari Kota Salatiga menuju tanah Afrika menjadi bukti bahwa mimpi besar dapat diwujudkan melalui kerja keras, disiplin, dan doa.
Bertugas dalam misi perdamaian di Democratic Republic of Congo (DRC), Afrika, menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam hidup Salsyabilla. Di balik seragam dan baret kebanggaan yang dikenakannya, tersimpan cerita panjang tentang perjuangan seorang perempuan muda yang sejak SMA sudah memiliki tekad menjadi bagian dari Wanita TNI (Kowad).
Inspirasi itu muncul ketika ia melihat berbagai prestasi wanita TNI melalui media sosial. Ia kagum melihat para Kowad yang mampu berprestasi di berbagai bidang, mengikuti kegiatan internasional, hingga dipercaya menjadi bagian dari pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan baret biru muda yang menjadi simbol kebanggaan.
“Saya melihat Kowad yang berprestasi dalam Sea Games, melihat wanita TNI menjadi anggota PBB dengan baret kebanggaan biru mudanya, serta mengikuti latihan gabungan dengan negara lain. Rasanya seperti ingin mencoba berada di titik itu,” ujar Salsyabilla.

Setelah lulus SMA pada 2022, perempuan asal Salatiga tersebut memberanikan diri mengikuti seleksi TNI. Keputusan itu tidak datang secara instan. Ia mempersiapkan diri dengan penuh perjuangan sambil tetap menjalani aktivitas sebagai pelatih senam.
Saat pandemi Covid-19 masih berlangsung pada 2021-2022, kegiatan sekolah dilakukan secara daring. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya kehilangan semangat. Setelah mengikuti pembelajaran dari pagi hingga siang, sore harinya ia mengajar senam. Jika tidak memiliki jadwal melatih, waktu tersebut digunakan untuk menjalani latihan fisik secara mandiri.
Malam hari menjadi waktu untuk memperkuat persiapan akademik. Ia mempelajari psikologi dan materi Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) sebagai persiapan tambahan apabila mengikuti seleksi sekolah kedinasan STTD.
Rutinitas itu dijalaninya hampir setiap hari. Akhir pekan yang biasanya menjadi waktu istirahat justru dimanfaatkan untuk tetap produktif. Pagi hari melatih senam, sore melakukan penguatan fisik, dan malam kembali belajar.

“Yang saya lakukan saat itu adalah berusaha semaksimal mungkin, terus berdoa dan ikhtiar. Selebihnya saya serahkan kepada Allah SWT,” katanya.
Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada tahun yang sama ketika mengikuti seleksi, Salsyabilla dinyatakan lolos menjadi Kowad. Setelah menjalani masa dinas selama dua tahun, ia kembali mendapat kesempatan untuk mengikuti seleksi Satgas luar negeri.
Kesempatan itu menjadi pintu menuju pengalaman baru ketika ia dipercaya menjalankan penugasan di Congo, Afrika. Baginya, bertugas di luar negeri bukan hanya tentang menjalankan kewajiban sebagai prajurit, tetapi juga kesempatan untuk membawa nama Indonesia dan memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.
Salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika melakukan foot patrol ke desa-desa sekitar Kompi Indo RDB. Dalam kegiatan tersebut, ia dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat Congo, khususnya anak-anak.

Ia bersama tim mengajarkan anak-anak bernyanyi dan berhitung, berbagi makanan, memberikan edukasi kesehatan, hingga membagikan masker karena saat itu wilayah tersebut sedang menghadapi ancaman Ebola. Selain itu, ia juga ikut membantu masyarakat berkebun serta melakukan pengamanan ketika warga Congo menjalankan ibadah di gereja.
Bagi Salsyabilla, momen tersebut menjadi pengalaman yang tidak akan pernah dilupakan. Ia merasa bangga dapat hadir dan memberikan dampak positif bagi masyarakat di negara lain.
“Orang lain lihat kelemahanmu, kamu lihat tujuanmu. Fokus ke tujuan, tetap terus berjalan. Tidak perlu banyak bicara dan mengeluh, terus berproses serta banyak berdoa untuk sampai ke garis finish. Biarkan prestasimu yang berbicara,” tuturnya.
Perjalanan Serda (K) Salsyabilla Prameswari menjadi bukti bahwa mimpi tidak mengenal batas tempat maupun keadaan. Dari seorang pelatih senam di Salatiga, ia berhasil membuktikan diri menjadi prajurit wanita TNI yang mengabdi hingga ke panggung internasional.
