Jakarta, TeropongJakarta.com – Tidak semua perjalanan hidup berjalan sesuai rencana. Ada kalanya seseorang harus meninggalkan zona nyaman untuk menghadapi tantangan baru yang jauh lebih besar. Hal itu dialami Wulandari Harmadi, sosok perempuan tangguh yang berani meninggalkan karier di dunia perbankan dan memilih terjun ke industri pertambangan, batu bara, hingga konstruksi yang selama ini identik dengan kaum laki-laki.
Sebelum dikenal sebagai seorang womanpreneur, Wulandari menjalani karier profesional di sektor perbankan. Bertahun-tahun ia terbiasa bekerja di balik meja, menghadapi target, mengolah strategi, serta mengandalkan kemampuan berpikir dan analisis.
Namun, perjalanan hidup membawanya mengambil keputusan besar. Ia memilih meninggalkan pekerjaannya demi mempertahankan rumah tangga yang saat itu sedang ia jalani.
“Keputusan saya waktu itu dari dunia perbankan yang hanya duduk dengan komputer dan target, beralih ke bidang yang membutuhkan tenaga ekstra, berada di lapangan dari pagi hingga malam. Saat itu saya masih berkeluarga dan memilih resign demi mempertahankan rumah tangga,” ujar Wulandari.

Meski sudah berusaha mempertahankan kehidupan rumah tangga, takdir berkata lain. Wulandari akhirnya harus menghadapi fase perceraian yang mengubah arah hidupnya.
Namun, alih-alih larut dalam keadaan, ia memilih menjadikan pengalaman tersebut sebagai titik balik untuk bangkit dan mencari peluang baru.
“Saya percaya manusia hanya bisa berusaha, tetapi Allah yang menentukan jalan kita. Dari situ saya melihat peluang yang sebelumnya sedikit demi sedikit saya pelajari dari mantan suami tentang dunia tambang, persewaan kapal tongkang, dan batu bara,” tuturnya.
Memasuki dunia pertambangan bukan perkara mudah. Lingkungan kerja yang keras, tuntutan tinggi, serta karakter industri yang penuh risiko menjadi tantangan tersendiri bagi Wulandari.
Namun, ia percaya bahwa setiap peluang sekecil apa pun dapat menjadi jalan menuju kesuksesan selama seseorang memiliki kemauan untuk belajar.
“Di mana ada peluang, walaupun itu kecil, selama kita mau terus belajar pasti bisa. Akhirnya saya geluti dan saya terjun ke dunia ini selama beberapa tahun,” katanya.

Bagi Wulandari, proses belajar tidak selalu harus berasal dari pendidikan formal. Justru pengalaman langsung di lapangan menjadi guru yang membentuk mental dan kemampuannya.
“Belajar tidak harus di dalam ruangan, tidak harus dengan buku. Dengan pengalaman, ketekunan, dan kegagalan selama di lapangan, justru itu belajar yang paling susah tetapi mahal ilmunya,” ungkapnya.
Berada di industri yang mayoritas pekerjanya laki-laki membuat Wulandari harus membuktikan kemampuan melalui tindakan nyata. Ia tidak ingin keberadaannya dinilai hanya berdasarkan gender.
Menurutnya, perempuan memiliki kekuatan tersendiri yang dapat menjadi nilai tambah dalam dunia profesional.
“Dunia sekeras ini bisa kok kita sebagai perempuan berada di tengahnya. Dengan kelebihan kita sebagai perempuan yang lebih teliti, tekun, dan sabar, ternyata kita bisa menguasai lapangan di tengah para laki-laki,” jelasnya.
Bagi Wulandari, kunci utama dalam membangun kepercayaan bukanlah kekuatan fisik, melainkan sikap tegas, kemampuan mengambil keputusan, dan menjaga profesionalitas.
“Saya sebagai perempuan tidak mau dianggap rendahan. Dengan sikap dan cara bekerja, ternyata isi pikiran dan sikap tegas kita bisa membuat orang sekitar menghormati kita,” ujarnya.
Selama menjalankan bisnis, Wulandari tidak hanya membangun relasi dengan para pelaku usaha, tetapi juga dengan pekerja lapangan hingga berbagai kalangan profesional.
Ia percaya bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan bisnis, tetapi juga bagaimana seseorang memperlakukan orang lain.

“Saya punya banyak teman, mulai dari para kuli sampai pejabat tinggi. Kuncinya hanya satu, rendah hati dan menjaga attitude kita. Hormati siapa pun seperti kita ingin dihormati,” katanya.
Menurutnya, dunia bisnis bukan hanya tentang persaingan, melainkan juga tentang kemampuan membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.
Dalam perjalanan bisnisnya, Wulandari mengakui bahwa kegagalan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses menuju keberhasilan.
Baginya, seorang pengusaha bukan dinilai dari apakah pernah gagal atau tidak, tetapi dari keberanian untuk kembali bangkit.
“Kegagalan dalam dunia bisnis pasti dialami semua pebisnis. Kuncinya hanya mau bangkit kembali atau tidak,” ucapnya.
Ia meyakini bahwa setiap proses memiliki pelajaran berharga. Dari kegagalan, seseorang dapat belajar mengambil keputusan lebih matang dan memahami arti perjuangan.

“Dari 10 proses bisnis, tidak mungkin semuanya gagal. Pasti masih ada satu, dua, atau lebih yang membuat kita berhasil. Saat berhasil, banyak pelajaran yang sudah saya dapat dari kegagalan sebelumnya,” tambahnya.
Kini, Wulandari terus melangkah dengan keyakinan bahwa kesuksesan bukan hanya tentang pencapaian materi. Baginya, arti sukses adalah ketika seseorang mampu memberi manfaat, membantu orang lain, serta dikelilingi keluarga dan orang-orang yang memberikan dukungan.
“Sukses buat saya bukan hanya harta. Bisa menolong orang lain, dikelilingi orang-orang yang sayang dengan kita, dan bermanfaat untuk banyak orang, itu juga sebuah kesuksesan,” pungkasnya.
Perjalanan Wulandari Harmadi menjadi gambaran bahwa keberanian mengambil langkah baru, kemauan belajar, serta keteguhan hati mampu membawa seseorang melewati berbagai tantangan. Kisahnya menjadi inspirasi bahwa perempuan dapat berdiri sejajar dan menciptakan keberhasilan di bidang apa pun yang dipilihnya.
