Palopo, TeropongJakarta.com – Keputusan meninggalkan pekerjaan yang sudah mapan bukanlah langkah yang mudah. Namun, bagi Risma Hasma Toni, S.Kep.Ns, keberanian mengambil peluang baru justru menjadi pintu menuju pengalaman internasional yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Setelah lebih dari 10 tahun mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), Risma memilih mengundurkan diri secara terhormat dan memulai perjalanan baru sebagai tenaga kesehatan di Arab Saudi.
Keputusan tersebut diambil bukan tanpa pertimbangan. Selain ingin mencoba tantangan baru, Risma melihat adanya peluang besar untuk mengembangkan karier sekaligus meningkatkan kesejahteraan.
“Secara khusus alasan saya karena saya suka dengan tantangan baru. Setelah pengabdian lebih dari 10 tahun sebagai PNS, ada kesempatan untuk mundur secara hormat. Saya juga melihat peluang kerja ke Arab Saudi masih terbuka, termasuk untuk usia saya saat itu, sehingga saya mencoba kesempatan tersebut. Alhamdulillah Allah mudahkan semuanya,” ujar Risma.
Memiliki pekerjaan sebagai PNS sering dianggap sebagai impian banyak orang karena stabilitas dan kepastian masa depan. Karena itu, keputusan Risma untuk resign sempat menimbulkan berbagai respons dari lingkungan sekitar.

Keluarga, teman, hingga rekan kerja memiliki pandangan masing-masing terhadap pilihannya. Namun Risma memilih membuktikan bahwa keputusan tersebut diambil dengan penuh tanggung jawab.
“Pasti ada pro dan kontra dari keluarga, teman, kerabat, maupun kolega. Tapi saya mencoba meyakinkan semuanya bahwa pilihan ini adalah pilihan yang baik dengan menunjukkan keseriusan dan kinerja yang jauh lebih baik dari sebelumnya,” katanya.
Menurutnya, setiap orang yang mencoba bekerja di luar negeri pasti memiliki tekanan dan tantangan tersendiri. Begitu juga dengan dirinya yang harus beradaptasi dengan lingkungan baru.
Perjalanan Risma menuju Arab Saudi ternyata berawal dari hal sederhana. Saat masih berada di Makassar, ia melihat sebuah iklan lowongan kerja dari salah satu perusahaan di Jakarta.
Setelah melihat kualifikasi yang dibutuhkan, Risma merasa memiliki peluang untuk mencoba. Dengan tekad dan doa, ia akhirnya mendaftarkan diri.
Namun, ada satu tantangan besar yang harus ia hadapi, yaitu kemampuan bahasa Inggris.

“Saat itu kemampuan bahasa Inggris saya masih jauh dari kata expert. Saya akhirnya memberanikan diri mengambil kursus bahasa Inggris yang biayanya tidak murah. Tapi karena tekad sudah bulat, saya jalani proses tersebut hingga akhirnya lolos interview dan berangkat ke Arab Saudi,” ungkapnya.
Bekerja di negara baru memberikan pengalaman sekaligus tantangan besar bagi Risma. Salah satu tantangan terbesar yang ia hadapi adalah komunikasi dengan pasien.
Sebagai perawat, ia harus berinteraksi langsung dengan pasien yang mayoritas menggunakan bahasa Arab, sementara dirinya belum mendapatkan persiapan khusus mengenai bahasa tersebut.
“Pasien yang saya hadapi kebanyakan tidak bisa menggunakan bahasa Inggris, mereka lebih banyak menggunakan bahasa Arab. Awal bekerja sangat menguras waktu dan tenaga karena kami tidak dipersiapkan dengan bahasa Arab. Mau tidak mau saya harus belajar secara otodidak,” jelasnya.
Proses tersebut membuat Risma terus belajar dan beradaptasi agar mampu memberikan pelayanan terbaik kepada pasien.
Dalam perjalanannya bekerja di luar negeri, Risma juga mengapresiasi peran pemerintah melalui lembaga yang membantu masyarakat Indonesia mendapatkan akses kerja internasional secara resmi.
Menurutnya, Kementerian Ketenagakerjaan dan BP2MI memiliki peran penting dalam memberikan perlindungan bagi WNI yang ingin bekerja di luar negeri.
“Kementerian Tenaga Kerja dan BP2MI sangat membantu WNI yang ingin mencari nafkah ke luar negeri secara legal dan resmi, sehingga kita memiliki perlindungan dan tidak takut terlantar di negeri orang,” ujarnya.

Bagi Risma, keputusan meninggalkan status PNS bukan berarti kehilangan kesempatan untuk berkontribusi bagi bangsa.
Ia ingin menghapus anggapan bahwa kehidupan setelah resign dari PNS selalu penuh ketakutan atau ketidakpastian.
“Ternyata lepas dari PNS itu tidak semenakutkan yang dibayangkan. Banyak orang takut tidak bisa hidup layak atau takut dianggap gagal ketika memilih jalan berbeda. Tapi Allah menjamin rezeki kita di mana pun berada,” tuturnya.
Menurutnya, seseorang tetap bisa menjadi kebanggaan bangsa meski tidak bekerja sebagai aparatur negara.
Setelah merasakan pengalaman bekerja di luar negeri, Risma mengajak generasi muda Indonesia untuk berani mengembangkan kemampuan dan membuka peluang internasional.
Menurutnya, bekerja di luar negeri bukan hanya tentang penghasilan, tetapi juga kesempatan meningkatkan kualitas diri dan kompetensi profesional.
“Selagi masih muda, ayo kembangkan potensi dan ilmu yang kita punya. Bekerja ke luar negeri bisa membantu perekonomian keluarga sekaligus meningkatkan ilmu keperawatan secara internasional. Ketika kembali ke tanah air, kita memiliki nilai lebih karena membawa pengalaman dan sertifikat kompetensi dari luar negeri,” pungkasnya.
