BANDA ACEH, TeropongJakarta.com – Menjalani peran sebagai aparatur sipil negara (ASN), ibu dari tiga anak, aktif dalam organisasi Persit, sekaligus terus mengembangkan diri melalui pendidikan bukanlah perkara mudah. Namun, bagi Sri Suryani, Amd., SH., M.AP, semua peran tersebut dapat dijalani secara seimbang dengan disiplin, komitmen, dan manajemen waktu yang baik.
Perempuan yang telah mengabdi selama 21 tahun di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Banda Aceh di bawah Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Aceh, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) ini menjadi contoh bahwa perempuan mampu terus berkembang tanpa mengabaikan keluarga maupun kesehatan.
Di tengah kesibukannya sebagai ASN, Sri tetap menjalankan perannya sebagai ibu bagi tiga anak serta aktif mengikuti berbagai kegiatan Persit. Baginya, keseimbangan hidup bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan hasil dari kemampuan menentukan prioritas.

“Saya percaya bahwa keseimbangan dimulai dari kemampuan menentukan prioritas. Saat bekerja saya memberikan dedikasi penuh, saat bersama keluarga saya hadir sepenuh hati, dan organisasi menjadi ruang untuk terus belajar serta mengabdi. Kuncinya adalah disiplin, komunikasi, dan manajemen waktu,” ujar Sri.
Komitmennya untuk terus belajar juga dibuktikan dengan keberhasilannya menyelesaikan pendidikan Magister Administrasi Publik (M.AP) di tengah padatnya aktivitas. Keputusan melanjutkan studi bukan hanya demi peningkatan kompetensi profesional, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab untuk memberikan teladan kepada anak-anaknya.
Menurut Sri, pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang akan memberikan manfaat besar, baik bagi karier maupun kehidupan pribadi.
“Belajar adalah investasi terbaik. Saya ingin meningkatkan kompetensi sebagai ASN sekaligus menjadi teladan bagi anak-anak bahwa tidak ada kata terlambat untuk menuntut ilmu selama ada kemauan dan komitmen,” katanya.
Tak hanya fokus pada karier dan pendidikan, Sri juga menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup. Ia rutin mengikuti berbagai event lari dan meluangkan waktu untuk berolahraga, termasuk melakukan latihan kebugaran atau gym di rumah.

Bagi Sri, menjaga kesehatan bukan sekadar menjaga penampilan, tetapi menjadi modal utama untuk menjalankan berbagai tanggung jawab setiap hari.
“Olahraga adalah kebutuhan, bukan sekadar hobi. Tubuh yang sehat dan pikiran yang bugar membuat saya lebih produktif, lebih fokus, dan mampu menjalankan berbagai peran dengan optimal,” ungkapnya.
Selama lebih dari dua dekade mengabdi di lingkungan pemasyarakatan anak, Sri mengaku memiliki banyak pengalaman berharga. Namun, satu momen yang paling membekas adalah ketika melihat anak-anak binaan mampu berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Menurutnya, keberhasilan pembinaan bukan hanya diukur dari selesainya masa pembinaan, tetapi dari tumbuhnya harapan baru dalam diri setiap anak untuk membangun masa depan yang lebih baik.
“Momen paling berharga adalah ketika melihat anak binaan mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Itulah makna sesungguhnya dari pengabdian, yaitu memberikan harapan dan kesempatan untuk masa depan yang lebih baik,” tuturnya.

Di akhir perbincangan, Sri menyampaikan pesan bagi perempuan Indonesia agar tidak pernah berhenti bertumbuh. Ia meyakini perempuan memiliki potensi besar untuk meraih pendidikan, membangun karier, sekaligus menjaga keharmonisan keluarga jika mampu mengelola setiap peran dengan bijaksana.
“Jangan pernah berhenti berkembang. Kejar pendidikan, bangun karier, rawat kesehatan, dan cintai keluarga dengan sepenuh hati. Perempuan yang kuat bukan yang mampu melakukan segalanya sendiri, tetapi yang mampu menyeimbangkan setiap perannya dengan bijaksana,” pungkasnya.
Kisah Sri Suryani menjadi bukti bahwa dedikasi, semangat belajar, dan kepedulian terhadap kesehatan dapat berjalan beriringan. Di tengah tuntutan profesi dan keluarga, ia menunjukkan bahwa perempuan Indonesia mampu menjadi sosok inspiratif yang terus memberi manfaat bagi lingkungan sekaligus membangun masa depan yang lebih baik.
