Blitar, TeropongJakarta.com – Bagi Sofiatul Istiqomah, guru olahraga asal Blitar, Jawa Timur, pendidikan jasmani bukan sekadar mata pelajaran di sekolah. Ia memandang olahraga sebagai kebiasaan hidup yang perlu ditanamkan sejak dini agar masyarakat memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
Sebagai guru olahraga, Sofiatul berupaya menanamkan kesadaran bahwa aktivitas fisik bukan hanya untuk menjaga kebugaran, tetapi juga mencegah berbagai penyakit dan membangun kehidupan sosial yang positif. Ia berusaha mengajak siswa dan lingkungan sekitar untuk menjadikan olahraga sebagai bagian dari rutinitas harian.
“Sebagai guru olahraga, saya tidak hanya ingin mengajarkan gerakan atau teknik olahraga, tetapi juga mempromosikan pentingnya bergerak. Harapannya, siswa dan masyarakat tidak hanya tergerak, tapi bergerak bahkan menggerakkan orang lain untuk hidup lebih sehat,” kata Sofiatul.

Menurut dia, aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur juga berpengaruh terhadap kesehatan mental. Olahraga membantu tubuh memproduksi hormon endorfin yang membuat seseorang merasa lebih rileks dan tenang sekaligus mengurangi stres dalam kehidupan sehari-hari.
“Dengan berolahraga atau melakukan aktivitas fisik, mood akan meningkat dan stres bisa berkurang. Tubuh akan mengeluarkan hormon endorfin yang membuat kita lebih bahagia dan lebih tenang, apalagi kalau dilakukan secara konsisten,” ujarnya.
Sofiatul menilai kebiasaan berolahraga dapat dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara bertahap. Ia mendorong masyarakat untuk memilih aktivitas yang disukai agar lebih mudah dilakukan secara berkelanjutan.

“Bergerak selangkah demi selangkah nantinya akan menjadi banyak langkah. Tidak perlu langsung berat, yang penting dimulai dulu dan dilakukan dengan konsisten,” kata dia.
Ia juga melihat tren olahraga yang berkembang di masyarakat sebagai peluang untuk meningkatkan kesadaran hidup sehat. Menurutnya, mengikuti tren olahraga dapat menjadi hal positif selama dilakukan dengan tujuan menjaga kesehatan.
“FOMO olahraga itu bagus, karena orang jadi mau mulai bergerak. Mulailah dari aktivitas yang disukai, kemudian ditekuni dan dilakukan secara konsisten,” ujarnya.

Sofiatul berharap masyarakat dapat menikmati proses berolahraga tanpa merasa terbebani. Ia menekankan bahwa waktu singkat untuk bergerak tetap memiliki manfaat besar bagi kesehatan.
“Olahraga itu bukan soal ada waktu atau tidak, tetapi bagaimana kita menyempatkannya. Bergerak 15 menit lebih baik daripada tidak sama sekali,” kata Sofiatul.
Ia berharap kebiasaan bergerak dapat menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Dengan pembiasaan yang dilakukan secara terus-menerus, aktivitas fisik diharapkan tidak lagi menjadi kewajiban, melainkan kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari.
