Ponorogo, TeropongJakarta.com – Masa remaja bagi sebagian orang adalah fase mencoba banyak hal: organisasi, pertemanan, hingga merancang masa depan lewat bangku kuliah. Namun bagi Indri, perempuan asal Ponorogo, Jawa Timur, masa putih abu-abu justru menjadi titik awal perjuangan ekonomi. Sejak SMA, ia telah merantau sambil bekerja demi menuntaskan pendidikan menengahnya.
Keputusan itu diambil bukan tanpa alasan. Kondisi ekonomi keluarga membuatnya harus realistis. Ia menyadari, melanjutkan kuliah bukan pilihan yang mudah diwujudkan. Ketika teman-teman seangkatannya mendaftar perguruan tinggi, TNI-Polri, atau sekolah kedinasan dan profesi, Indri memilih jalur berbeda: bekerja.
“Sedih pasti ada. Tapi saya percaya setiap orang punya jalannya masing-masing,” ujar Indri saat dihubungi, baru-baru ini.
Selama SMA, hari-harinya diisi dengan rutinitas sekolah dan pekerjaan. Ia jarang mengikuti kegiatan organisasi di luar jam belajar. Pergaulan pun dibatasi. Bukan karena tak ingin, melainkan karena merasa harus memprioritaskan tanggung jawab. Ia belajar menekan keinginan pribadi dan membangun ketahanan mental sejak dini.

Baginya, menyelesaikan SMA hingga menerima ijazah adalah capaian penting. Di tengah keterbatasan, ia memilih fokus dan bersyukur. “Saya tanamkan dalam diri, mungkin bukan lewat pendidikan tinggi saya bisa sukses. Insyaallah lewat kerja keras,” katanya.
Setelah lulus, tekad memperbaiki ekonomi keluarga semakin menguat. Indri kemudian memutuskan merantau ke luar negeri. Hidup di negeri orang, menurut dia, bukan perkara mudah. Adaptasi budaya, jarak dengan keluarga, hingga tekanan kerja menjadi tantangan sehari-hari. Namun ia memegang satu prinsip: bekerja keras hari ini demi masa depan yang lebih baik.
Hasilnya mulai terlihat. Di usia 25 tahun, Indri mampu membangun rumah sendiri di kampung halaman. Ia juga dapat membantu mencukupi kebutuhan keluarga serta membahagiakan orang tua. Sebagian penghasilannya disisihkan untuk tabungan dan investasi jangka panjang.
Pengalaman hidup dalam keterbatasan membentuk cara pandangnya. Ia tak ingin kelak anak-anaknya kehilangan kesempatan hanya karena alasan ekonomi. “Menjadi orang yang tidak punya itu menyakitkan. Saya tidak ingin anak-anak saya nanti membunuh mimpi mereka karena kekurangan biaya,” ujarnya.

Indri meyakini kesuksesan tidak selalu identik dengan gelar akademik. Niat, konsistensi, dan kerja keras, menurut dia, memiliki peran yang sama besar. Ia berpesan kepada generasi muda yang tidak dapat melanjutkan pendidikan tinggi agar tidak merasa rendah diri. “Kesuksesan itu dibentuk dari usaha. Jalannya banyak,” katanya.
Kepada mereka yang beruntung mendapat dukungan penuh dari orang tua, ia mengingatkan pentingnya bersyukur dan memanfaatkan kesempatan dengan sungguh-sungguh. Sementara bagi para perantau, ia menilai mereka sebagai pribadi-pribadi tangguh yang sedang menempuh jalan sunyi perjuangan.
“Gunakan kesempatan di negeri orang untuk menabung dan menyiapkan masa depan. Dan jangan lupa, sesekali bahagiakan diri sendiri sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan,” ujar Indri.
Di tengah arus cerita sukses yang kerap berangkat dari bangku kuliah, kisah Indri menunjukkan narasi lain: bahwa ketekunan dan keberanian mengambil keputusan bisa menjadi modal yang tak kalah kuat dalam mengubah nasib.
