Yogyakarta, LensaRedaksi.com – Menjelang senja, Malioboro kembali berganti wajah. Keramaian siang hari perlahan mereda, digantikan aktivitas Pasar Sore Malioboro yang mulai hidup. Lapak-lapak dibuka satu per satu, menawarkan beragam oleh-oleh khas Yogyakarta. Di antara deretan pedagang itu, Imam Rofi’i menata tas-tas bermotif batik dan etnik rutinitas yang kini menjadi bagian dari kesehariannya.
Perjalanan Imam Rofi’i sebagai pedagang di Pasar Sore Malioboro bermula dari usaha keluarga. Ia tidak langsung berjualan tas. Bertahun-tahun sebelumnya, Imam membantu mertuanya yang lebih dulu berjualan batik sebagai oleh-oleh di kawasan tersebut. Dari lapak batik keluarga itulah ia mengenal Malioboro lebih dekat, bukan hanya sebagai ruang wisata, tetapi juga sebagai ruang hidup pedagang kecil.
“Awalnya saya ikut mertua. Dari situ belajar banyak, terutama soal menghadapi pembeli dan membaca situasi,” kata Imam Rofi’i saat ditemui di sela waktu berjualan.
Pengalaman berada di balik lapak keluarga membuat Imam memahami denyut Malioboro: kapan wisatawan ramai, kapan pasar lengang, serta bagaimana selera pembeli berubah. Ia belajar bahwa berdagang di kawasan wisata tidak cukup mengandalkan barang, tetapi juga kesabaran dan keuletan.
Keputusan untuk berdiri sendiri baru diambil pada 2023. Tahun itu menjadi penanda penting bagi Imam Rofi’i. Ia membuka lapak sendiri di Pasar Sore Malioboro dan memilih fokus berjualan tas oleh-oleh. Pilihannya jatuh pada tas kain bermotif batik dan corak etnik, produk yang masih memiliki keterkaitan dengan akar usahanya di lapak batik keluarga.
Menurut Imam Rofi’i, wisatawan yang datang ke Malioboro kerap mencari barang yang bukan sekadar fungsional, tetapi juga menyimpan identitas lokal. Tas bermotif khas Yogyakarta dinilai mampu menjawab kebutuhan tersebut.
“Banyak pembeli bilang tasnya mau dipakai, tapi juga buat kenang-kenangan. Jadi harus ada ciri Jogjanya,” ujarnya.
Membuka lapak sendiri di tengah pemulihan pariwisata bukan perkara mudah. Pasar Sore Malioboro perlahan kembali ramai setelah pandemi, meski situasinya belum sepenuhnya stabil. Imam Rofi’i memilih konsisten: membuka lapak setiap sore, menjaga kualitas barang, dan menyesuaikan diri dengan selera pembeli yang terus berubah.
Ia masih mengingat masa pandemi sebagai periode paling berat. Saat itu, Malioboro yang biasanya padat wisatawan mendadak lengang. Sejumlah pedagang memilih berhenti. Imam Rofi’i tetap bertahan, meski pendapatan menurun drastis.
“Saya percaya Malioboro itu punya napas panjang. Dari dulu selalu bisa hidup lagi,” katanya.
Kini, seiring meningkatnya kunjungan wisatawan domestik, Imam Rofi’i mulai merasakan dampak positif. Selain penjualan eceran, ia juga melayani pesanan untuk oleh-oleh rombongan dan kegiatan komunitas. Namun baginya, berdagang di Pasar Sore bukan semata soal angka penjualan.
Lebih dari itu, Imam Rofi’i memandang lapaknya sebagai bagian dari ekosistem ekonomi rakyat yang menjaga Malioboro tetap bernyawa. Keberadaan pedagang kecil, menurutnya, menjadi elemen penting yang mempertahankan identitas Malioboro di tengah perubahan wajah kota.
“Kalau pedagang kecil masih ada, Malioboro masih punya ruh,” ujarnya.
Kisah Imam Rofi’i adalah cerita tentang proses: belajar dari usaha keluarga, berani mandiri, dan bertahan di tengah pasang surut pariwisata. Cerita sederhana yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari Malioboro.
