Jakarta, TeropongJakarta.com – Di tengah derasnya arus informasi dan budaya serba cepat, praktik mendengar perlahan kehilangan ruangnya. Pesan disampaikan dengan cepat, dikonsumsi sepintas, lalu segera tergantikan. Dalam lanskap semacam itu, suara kerap diposisikan sekadar alat teknis. Namun bagi Laili Fithriyah SIP, M.Ikom dikenal sebagai Vely Syukran suara justru menyimpan tanggung jawab yang lebih dalam: menghadirkan makna.
Vely adalah radio broadcaster senior di Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta. Ia telah menekuni dunia penyiaran lebih dari 25 tahun sejak memulai karier pada 2001. Pada fase awal, ia juga sempat berkiprah sebagai presenter dan news anchor TVRI hingga 2007. Dalam dunia siaran, ia terbiasa memperlakukan suara secara presisi: jelas, terukur, dan informatif.
“Di radio dan televisi, suara itu teknis. Intonasi diatur, tempo dijaga, emosi dikendalikan. Pokoknya pesan sampai,” ujar Vely saat diwawancarai, Sabtu, 24 Januari 2026.

Pandangan itu mulai bergeser ketika ia mendalami saritilawah seni membacakan terjemahan Al-Qur’an secara lisan. Sejak 2008, Vely dipercaya menjadi pembaca saritilawah dalam berbagai acara keagamaan tingkat kenegaraan, termasuk agenda resmi di Istana Negara, Masjid Istiqlal, dan Kementerian Agama. Dari pengalaman itulah ia menemukan dimensi lain dari suara.
“Ada momen ketika saya membaca ayat, lalu audiens terdiam. Bahkan ada yang menangis,” kata Vely. Menurutnya, reaksi itu bukan karena kualitas vokal, melainkan karena pesan ayat yang tersampaikan. “Di situ saya sadar, suara bukan cuma bunyi. Ia bisa menjadi ruang menghadirkan makna.”
Kesadaran tersebut berkelindan dengan kegelisahan yang lebih luas. Di Indonesia, saritilawah hampir selalu hadir dalam acara keagamaan resmi dan menjadi salah satu cabang lomba Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). Namun, literasi tentang saritilawah relatif minim. “Ia sering tampil, tapi jarang dibahas secara serius. Hadir, tetapi seolah tidak pernah diajak duduk dan dijelaskan,” ujar Vely.

Ia menilai kondisi ini diperparah oleh perubahan perilaku audiens. Tradisi mendengar kian terpinggirkan oleh budaya visual dan konten viral. Padahal, Al-Qur’an sejak awal hadir melalui lisan. “Tidak semua orang memahami bahasa Arab. Di situlah saritilawah bisa menjadi jembatan, agar pesan ayat tetap sampai ke hati,” katanya.
Dari kegelisahan itu, Vely menulis buku Saritilawah: Seni Menyuarakan Pesan Ilahi, yang kini memasuki tahap akhir penyelesaian dan direncanakan terbit dalam waktu dekat, termasuk dalam format buku elektronik. Buku ini memuat refleksi praktik, asal-usul saritilawah, hingga panduan latihan. Namun ia menegaskan, karyanya bukan sekadar buku teknik.
“Saritilawah itu bukan hanya keterampilan, tapi laku. Teknik penting, tapi teknik hanyalah alat,” ujarnya. Ia mengaku selalu memulai saritilawah dengan memahami konteks ayat, membaca tafsir, dan menangkap pesan utamanya. “Saya bertanya ke diri sendiri: pesan apa yang sedang disampaikan ayat ini, dan bagaimana suara saya bisa menjadi jembatan, bukan sekadar bunyi.”

Di luar aktivitas tersebut, Vely juga tercatat sebagai dosen tetap Ilmu Komunikasi di Universitas Dian Nusantara. Ia aktif sebagai pelatih public speaking di berbagai kementerian, lembaga pemerintah, dan institusi pendidikan. Selain itu, ia juga tercatat sebagai pengajar dan trainer Master of Ceremony (MC) kehumasan pemerintah di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Pusdiklat Kominfo), yang kini bernama Puspa Komdigi, dengan cakupan pelatihan nasional. Di ranah profesional, ia juga dikenal sebagai MC protokoler, voice over talent, serta pelaku UMKM melalui brand kuliner Rendang Sentosa.
Namun di tengah seluruh kesibukan itu, saritilawah justru menjadi ruang pulang ruang untuk melambat dan berefleksi. “Di sini saya diingatkan bahwa tujuan suara bukan agar kita terdengar, tetapi agar pesan sampai ke hati,” kata Vely.
Agustus 2025 lalu, bertepatan dengan usia ke-50, Vely menggelar pre-launching bukunya. Ia memandang fase ini sebagai momentum untuk lebih banyak berbagi. Jika melalui saritilawah dan buku tersebut orang menjadi lebih memahami pesan Al-Qur’an, ia berharap itu menjadi bagian dari ibadah dan amal jariah.
Pada akhirnya, upaya untuk terus memberi manfaat sering kali bekerja dengan caranya sendiri: semakin seseorang berusaha menghadirkan kebaikan bagi orang lain, semakin banyak pula hal baik yang diam-diam menemukan jalan untuk kembali.
