Tangerang, TeropongJakarta.com – Di tengah maraknya tren gaya hidup aktif di perkotaan, Niken, warga Cirendeu, memilih jalan yang tidak berhenti pada euforia sesaat. Ia membangun relasi yang lebih dalam dengan olahraga menjadikannya bagian dari ritme hidup sekaligus ruang untuk mengenali diri.
Perjalanannya dimulai sekitar lima tahun lalu, ketika ia menekuni gym sebagai rutinitas awal. Dari sana, ia mulai merasakan bahwa olahraga tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga mental. “Di awal mungkin aku cuma fokus ke fisik. Tapi makin ke sini, aku ngerasa olahraga itu sangat berpengaruh ke mental dan energi sehari-hari,” ujar Niken dalam wawancara, belum lama ini.
Kesadaran itu menjadi titik balik. Olahraga tidak lagi ditempatkan sebagai aktivitas tambahan, melainkan kebutuhan yang setara dengan aspek hidup lainnya.

Berbeda dengan gym, pengalaman Niken dengan lari justru dimulai dari keterpaksaan. Ketertarikannya pada kompetisi hybrid seperti HYROX membuatnya harus beradaptasi dengan disiplin baru. “Jujur, aku dulu nggak suka lari. Tapi karena ada tujuan yang ingin aku capai, aku belajar untuk tetap menjalaninya. Dari situ aku mulai memahami proses,” katanya.
Sementara itu, padel hadir sebagai warna baru dalam rutinitasnya sejak Oktober 2025. Awalnya sekadar mengikuti tren, namun justru berkembang menjadi aktivitas yang paling ia nikmati. “Padel itu fun dan social. Jadi bukan cuma olahraga, tapi juga jadi cara untuk recharge. Itu yang bikin aku bisa konsisten balik lagi,” ujar dia.
Konsistensi menjadi kata kunci dalam perjalanan Niken. Ia menyadari, tren bisa menjadi pintu masuk, tetapi tidak cukup untuk mempertahankan kebiasaan. Setiap jenis olahraga, menurutnya, memiliki peran yang berbeda: gym sebagai fondasi disiplin, lari sebagai tantangan personal, dan padel sebagai ruang interaksi sosial.

Sebagai entrepreneur, Niken memiliki fleksibilitas dalam mengatur waktu. Namun, ia menegaskan bahwa keseimbangan tidak datang dengan sendirinya. “Aku selalu berusaha intentional soal waktu. Olahraga itu bukan sesuatu yang aku lakukan kalau sempat, tapi memang aku jadwalkan,” tuturnya.
Bagi Niken, keseimbangan bukan soal membagi waktu secara ideal, melainkan menjaga konsistensi dalam jangka panjang. Ia percaya, setiap fase memiliki prioritasnya sendiri, namun olahraga tetap menjadi salah satu pilar yang tidak ditinggalkan.
Kini, olahraga telah melampaui fungsi awalnya. Ia menjadi bagian dari identitas. “Kalau dulu olahraga itu cuma kegiatan, sekarang sudah jadi bagian dari hidup aku. Bahkan bisa dibilang, itu juga membentuk cara aku melihat diri sendiri,” kata Niken.
