Bekasi, TeropongJakarta.com – Di balik keseharian yang dipenuhi peran sebagai ibu, pendidik, dan content creator, Fauziah Eka Risna Puspita, yang dikenal di media sosial sebagai ferisnapuspita, memilih satu benang merah yang terus ia jaga: berbagi dan memberi makna. Perempuan yang tinggal di Bekasi ini memaknai proses berkaryanya bukan sebagai upaya mengejar sorotan, melainkan ikhtiar untuk tetap hadir secara utuh dalam berbagai ruang kehidupan.
Fauziah memulai perjalanan profesionalnya sebagai pendidik kimia. Bertahun-tahun berada di ruang kelas membuatnya memahami bahwa pendidikan tidak berhenti pada transfer pengetahuan. “Saya menyadari pendidikan itu bukan hanya soal materi pelajaran, tapi soal memahami manusia cara berpikir, emosi, dan proses tumbuhnya,” kata Fauziah saat diwawancarai, Minggu, 25 Januari 2026.
Pengalaman itu membentuk cara pandangnya dalam mendidik, sekaligus menjadi fondasi ketika ia mulai memasuki dunia content creator. Awalnya, kehadiran Fauziah di ruang digital tidak dirancang sebagai profesi. Ia hanya ingin memperluas ruang berbagi yang sebelumnya terbatas di kelas. “Ketika mulai membuat konten, saya tidak berpikir harus selalu bicara tentang kimia. Tapi semangatnya tetap sama, yaitu mendidik dan menemani proses tumbuh, terutama sebagai ibu,” ujarnya.

Seiring waktu, Fauziah menyadari bahwa peran-peran yang ia jalani tidak saling bertentangan. Justru sebaliknya, saling menguatkan. Pengalaman sebagai ibu memberinya kedalaman empati, sementara latar belakang sebagai pendidik membantunya menyusun pesan secara reflektif dan bertanggung jawab. “Di situ saya merasa peran sebagai pendidik, content creator, dan ibu saling memperkaya perspektif saya,” katanya.
Namun, perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar datang dari upaya menyeimbangkan idealisme dengan realitas hidup. Ada tuntutan keluarga, ekspektasi sosial terhadap perempuan, serta dorongan untuk tetap setia pada nilai diri sendiri. Fauziah mengakui, rasa ragu dan lelah kerap muncul. “Perempuan sering dihadapkan pada banyak standar sekaligus. Dari situ saya belajar bahwa tidak semua harus dijalani dengan sempurna,” ujarnya.

Dukungan keluarga menjadi faktor penting dalam proses itu. Fauziah menyebut peran suami sebagai penopang yang membantunya berdamai dengan keterbatasan. Dukungan tersebut memberinya ruang untuk terus bertumbuh tanpa harus melepaskan peran lain yang juga ia jalani.
Bagi Fauziah, makna “hadir” memiliki arti yang lebih dalam dari sekadar ada. Hadir untuk anak berarti membersamai dengan kesadaran dan kasih, tanpa kehilangan diri sendiri. Hadir untuk peserta didik berarti mendidik dengan empati dan harapan, memahami bahwa setiap individu memiliki ritme tumbuh yang berbeda. Sementara hadir untuk perempuan lain, menurutnya, adalah membuka ruang aman melalui cerita dan pengalaman. “Supaya perempuan tahu bahwa bertumbuh, berbahagia, dan tetap memegang nilai diri adalah sesuatu yang mungkin dan layak diperjuangkan,” kata Fauziah.
Di tengah hiruk-pikuk peran yang dijalani, Fauziah Eka Risna Puspita memilih menjaga api kecil itu tetap menyala api berbagi yang pelan, konsisten, dan sarat makna. Sebuah perjalanan sunyi yang justru menemukan gaungnya di banyak hati.
