Pasuruan, TeropongJakarta.com – Perjalanan hidup Eka Tyanta tumbuh dari panggung hiburan rakyat. Dari kampung ke kampung di wilayah Pasuruan, dunia dangdut bukan hanya menjadi ruang mencari nafkah, tetapi juga membentuk kemandirian hidup hingga mempertemukannya dengan jodoh. Dalam ungkapan Jawa, jodoh jalaran seko kulino jodoh datang dari kebiasaan yang dijalani kalimat itu menggambarkan kisah Eka.
Ketertarikan Eka pada dunia seni bermula sejak remaja. Ia pernah menjadi mayoret marching band di kampung halamannya. Dari posisi itu, ia terbiasa berdiri di depan banyak orang sekaligus bernyanyi. “Saya nyanyi itu berawal dari mayoret marching band di kampung,” kata Eka saat diwawancarai. Pengalaman tersebut menjadi titik awal tumbuhnya rasa percaya diri sebelum ia mengenal panggung dangdut.
Selepas lulus SMA, Eka mulai menerima tawaran bernyanyi dari panggung ke panggung. Awalnya, ia mengaku hanya iseng mencoba. “Lulus SMA baru nyanyi dari panggung ke panggung, awalnya cuma coba-coba,” ujarnya. Namun langkah itu tak langsung mendapat restu keluarga. Ayahnya sempat melarang karena profesi biduan dangdut masih kerap dipandang negatif. “Biduan kan cap-nya begitu,” kata Eka menirukan alasan ayahnya kala itu.

Dukungan justru datang dari sang ibu. Eka memilih berjalan, mengikuti kesempatan yang ada. Hasilnya perlahan terlihat. Dari honor manggung, ia mampu membeli sepeda motor sendiri dan memenuhi kebutuhan tanpa bergantung pada orang tua. “Waktu ayah tahu dari nyanyi saya bisa beli motor sendiri dan punya uang jajan sendiri, akhirnya dibolehin,” tutur Eka. Syaratnya jelas: tetap menjaga sopan santun dalam berpakaian dan sikap di atas panggung.
Dalam bermusik, Eka menempuh jalur otodidak. Ia tak pernah mengikuti sekolah atau kursus vokal. “Saya enggak pernah sekolah atau les nyanyi, semua otodidak,” ujarnya. Gaya bernyanyinya terbentuk dari pengalaman manggung, mengamati rekan sesama penyanyi, serta belajar dari musisi senior. Sebelum mantap di dunia dangdut, Eka sempat bekerja di toko dan pabrik. Namun pekerjaan itu tak memberinya kenyamanan. “Kerja di toko atau pabrik kurang cocok. Cuma bernyanyi yang bikin saya nyaman,” katanya.
Dunia panggung, menurut Eka, memiliki dua sisi. Di satu sisi, ia mendapatkan banyak teman dan saudara baru. “Sukanya, dari panggung ke panggung bisa dapat teman baru, dikenal banyak orang, dan rezeki makin luas,” ujarnya. Namun ada pula pengalaman tak menyenangkan. “Dukanya kalau ketemu penonton yang enggak sopan, sama jadwal full job bikin jarang ketemu keluarga,” kata Eka.

Dari kebiasaan tampil di panggung itulah Eka bertemu jodohnya. Pasangannya berasal dari lingkungan yang sama, sesama musisi. “Lulus SMA itu selang satu tahun saya langsung nikah. Jodohnya juga teman sesama musisi,” ujarnya sambil tersenyum. Bagi Eka, pepatah jodoh jalaran seko kulino bukan sekadar kata-kata, melainkan pengalaman hidup yang ia jalani sendiri.
Kini, Eka Tyanta terus menapaki dunia dangdut Pasuruan dengan keyakinan sederhana. Bernyanyi bukan hanya profesi, melainkan jalan hidup untuk membantu perekonomian keluarga, menjaga nilai, dan merawat pilihan yang lahir dari kebiasaan panggung yang ia jalani sejak muda.
