Mataram, TeropongJakarta.com – Kurangnya pemahaman mengenai prosedur rekrutmen kepolisian masih menjadi hambatan bagi banyak generasi muda yang bercita-cita menjadi anggota Polri. Ketidaktahuan itu kerap berujung pada kesalahan administratif, rendahnya kepercayaan diri, hingga munculnya praktik percaloan. IPDA Dona Puspa Ningrat S.H, Paur Subbagrenminops Biro Operasi Polda Nusa Tenggara Barat, menilai edukasi sejak dini menjadi kunci untuk memperbaiki kondisi tersebut.
Dona mengatakan, keterlibatannya dalam kegiatan edukasi jalur masuk kepolisian berangkat dari latar belakang personal. Ia lahir dari keluarga anggota Polri dan telah mengenal ritme dunia kepolisian sejak kecil. “Kebetulan saya anggota dan lahir dari keluarga anggota juga, jadi saya paham bagaimana proses dan tahapan di kepolisian sering disalahartikan oleh masyarakat,” ujar Dona saat diwawancarai.
Berdasarkan pengalamannya, masalah paling sering ditemui calon pendaftar justru muncul pada tahap awal seleksi, yakni kelengkapan berkas. Banyak calon peserta belum memahami pentingnya persiapan administratif. “Sering kali berkas tidak lengkap, terutama terkait ijazah dan SKCK. Padahal ini menjadi pintu awal untuk bisa mengikuti tahapan selanjutnya,” kata Dona.

Ia menambahkan, persoalan lain yang tak kalah penting adalah rendahnya rasa percaya diri calon peserta. Ketidakpercayaan pada kemampuan diri sendiri membuat sebagian orang tergoda menempuh jalan pintas yang bertentangan dengan prosedur resmi. “Mereka merasa tidak mampu, lalu mencari cara instan yang sebenarnya salah dan tidak sesuai dengan mekanisme penerimaan kepolisian,” ujarnya.
Dalam kegiatan edukasi, Dona berupaya menyampaikan tahapan seleksi kepolisian dengan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami pelajar dan masyarakat awam. Ia menjelaskan bahwa proses seleksi dimulai dari pengumpulan dan verifikasi berkas, dilanjutkan pemeriksaan kesehatan menyeluruh. Pemeriksaan tersebut meliputi kondisi mata, hidung, gigi, tinggi dan berat badan, struktur tulang belakang, pemeriksaan darah, serta kesehatan jiwa.
Setelah itu, peserta mengikuti tes jasmani yang mencakup lari, push up, sit up, pull up, shuttle run, berenang, dan bela diri. Tahapan berikutnya adalah tes akademik, yang meliputi ilmu kepolisian, bahasa Inggris, serta pengetahuan umum lainnya. “Sistem penilaian bersifat gugur dan hasilnya bisa langsung diketahui setelah pelaksanaan tes,” kata Dona.

Dona juga menekankan pentingnya meluruskan stigma “orang dalam” yang masih melekat di masyarakat. Menurut dia, edukasi yang benar dapat mencegah calon pendaftar terjebak praktik percaloan. “Jangan mudah percaya calo yang mengatasnamakan anggota atau menjanjikan kelulusan. Mereka bukan bagian dari panitia penerimaan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa rekrutmen Polri menuntut kesiapan fisik, mental, dan integritas personal. Karena itu, edukasi diarahkan agar calon pendaftar mampu mempersiapkan diri secara mandiri dan bertanggung jawab. “Lebih baik berjuang dengan kemampuan sendiri daripada berharap pada jalan yang salah,” katanya.
Kepada generasi muda, Dona berpesan agar mulai membangun kebiasaan hidup sehat dan disiplin sejak dini. “Jaga kesehatan, atur pola hidup, rajin berolahraga, makan bergizi, rajin membaca, dan belajar dari pengalaman orang lain. Dengan persiapan yang benar, peluang itu terbuka untuk siapa pun,” ujarnya.
