Jakarta, TeropongJakarta.com – Menjelang akhir tahun 2025, Hj. Diana Dewi, S.E., pengusaha dan filantropis asal Jakarta, merenungi perjalanan setahun terakhir. Bagi Diana, 2025 bukan hanya tentang pencapaian bisnis, tetapi juga tentang bagaimana dampak sosial dari setiap keputusan yang diambil bisa dirasakan oleh masyarakat luas.
“Tahun ini penuh dengan ujian, tetapi juga banyak pelajaran berharga. Saya belajar bahwa inovasi dan empati harus berjalan seiring. Tanpa itu, bisnis tidak akan mampu berdampak maksimal bagi masyarakat,” ujar Diana Dewi
Sepanjang tahun, Diana Dewi mencatat pertumbuhan signifikan pada portofolio bisnisnya. Namun, perhatian utamanya tetap pada pemberdayaan UMKM. Lebih dari 500 pelaku usaha kecil menerima pendampingan, pelatihan, dan akses ke pasar yang lebih luas. “Memberdayakan pelaku usaha lokal bukan sekadar strategi bisnis. Ini tanggung jawab sosial yang harus dijalankan secara konsisten,” jelas Diana.
Menurut Diana, pandemi yang telah berlalu dan dinamika ekonomi global memberikan banyak pelajaran tentang ketahanan dan fleksibilitas. Banyak pelaku usaha menghadapi kesulitan, dan dukungan dari sektor swasta menjadi krusial untuk membantu mereka bertahan dan berkembang. “Kami ingin memastikan mereka tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dengan peluang baru yang muncul,” tambahnya.
Selain fokus pada bisnis, Diana Dewi juga aktif menjalankan berbagai program sosial. Pelatihan kewirausahaan untuk perempuan dan kaum muda menjadi prioritas utama, disertai dengan kegiatan bantuan langsung bagi komunitas kurang mampu. Diana menekankan bahwa keberhasilan bisnis sejati tidak hanya diukur dari keuntungan, tetapi dari sejauh mana dampak positifnya dirasakan masyarakat. “Setiap langkah bisnis harus diimbangi dengan kontribusi sosial. Keberhasilan yang hanya menguntungkan diri sendiri tidak ada artinya,” ujarnya.
Refleksi akhir tahun juga menjadi momen introspeksi. Diana menilai setiap keberhasilan dan kegagalan sebagai pelajaran berharga untuk menyusun strategi tahun berikutnya. “Setiap akhir tahun adalah waktu yang tepat untuk introspeksi. Kita belajar dari keberhasilan dan kegagalan, dan yang paling penting adalah terus bergerak maju dengan visi yang jelas,” katanya.
Diana juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara sektor bisnis, pemerintah, dan lembaga nirlaba. Menurutnya, sinergi ini menjadi kunci untuk memperluas dampak pemberdayaan masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, kolaborasi semacam ini telah membantu pelaku UMKM mengakses teknologi baru, pelatihan manajemen, dan jaringan pasar yang lebih luas.
Menyambut 2026, Diana Dewi berkomitmen untuk memperkuat kolaborasi tersebut. Fokusnya tidak hanya pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada pembangunan ekosistem yang inklusif, berkelanjutan, dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Ia menegaskan bahwa inovasi bisnis yang tidak diiringi dengan tanggung jawab sosial akan kehilangan makna.
Selain kegiatan bisnis dan sosial, Diana juga menekankan pentingnya membangun kesadaran generasi muda akan kewirausahaan dan kontribusi sosial. Program mentorship yang dijalankannya tahun ini, menurut Diana, membuka peluang bagi banyak pemuda dan perempuan untuk mengembangkan kemampuan dan berani mengambil inisiatif dalam berbisnis. “Kami ingin menanamkan mindset bahwa sukses bukan hanya soal materi, tetapi tentang bagaimana bisa memberi manfaat bagi banyak orang,” ujarnya.
Dengan gaya kepemimpinan yang menekankan inovasi, empati, dan tanggung jawab sosial, Diana Dewi menutup 2025 dengan catatan positif. Kisahnya menjadi inspirasi bagi banyak pihak bahwa kesuksesan sejati tidak hanya soal pencapaian pribadi, tetapi juga kemampuan untuk memberdayakan masyarakat dan menciptakan perubahan nyata.
“Tahun 2025 mungkin penuh tantangan, tetapi saya bersyukur karena setiap langkah yang kami ambil memberikan pelajaran dan dampak nyata. 2026 adalah kesempatan untuk melangkah lebih jauh, memperluas dampak, dan memastikan bahwa bisnis dan sosial bisa berjalan beriringan,” tutup Diana Dewi.
