YALA, TeropongJakarta.com – Delegasi Indonesia tampil menonjol dalam ajang 11th Melayu Day 2026 yang digelar di Sanam Chang Phueak Park, Kota Yala, Thailand Selatan, pada 13–15 Februari 2026. Festival budaya yang mempertemukan peserta dari Thailand, Malaysia, dan Indonesia itu menjadi panggung diplomasi kultural di kawasan serumpun Melayu.
Salah satu perwakilan Indonesia, Anindiya Delia Renata, hadir membawa misi promosi seni dan busana Nusantara sekaligus mengikuti kompetisi budaya tiga negara. Dalam penampilannya, ia membawakan Tari Keser Bojong dari Jawa Barat yang dipadukan dengan unsur taekwondo dalam konsep bertajuk “Nasional Goes Internasional”.
“Konsep ini saya pilih untuk menggambarkan bahwa seni tradisi bisa berdialog dengan budaya global. Tari Jawa Barat melambangkan jiwa Nusantara yang ramah dan berakar kuat, sementara taekwondo merepresentasikan disiplin, kecepatan, dan kekuatan. Keduanya saya satukan sebagai simbol Indonesia yang siap menjembatani dunia,” ujar Anindiya saat dihubungi.

Ia menuturkan persiapan dilakukan secara intensif, mulai dari koreografi hingga penguatan fisik. “Latihannya cukup menantang karena saya harus menjaga keseimbangan antara keluwesan tari dan ketegasan gerak bela diri. Tapi di situ justru letak pesan keberagamannya,” katanya.
Selain pertunjukan tari, Anindiya turut memperkenalkan kebaya dan batik karya desainer Indonesia Fufufafa, Batik Trusmi, dan Arsita Craft. Busana yang dikenakannya menjadi representasi identitas visual budaya Tanah Air di panggung internasional.
“Saya ingin menunjukkan bahwa kebaya dan batik tidak hanya indah, tetapi juga relevan dan bisa tampil percaya diri di forum internasional,” ucapnya.
Penampilan tersebut mendapat apresiasi dari dewan juri. Anindiya dianugerahi penghargaan Most Outstanding Delegate Performance dan meraih posisi 4th Runner Up dalam kompetisi tersebut.

Konsul RI Songkhla, Indah Lucky, menilai partisipasi generasi muda dalam forum budaya lintas negara memiliki dampak strategis. “Kehadiran Anindiya dan delegasi Indonesia menjadi bagian dari diplomasi budaya. Ini bukan sekadar kompetisi, melainkan ruang mempererat hubungan antarbangsa melalui seni,” ujarnya.
Festival yang diselenggarakan oleh KJRI Songkhla ini turut dihadiri sejumlah tokoh, antara lain Wakil Menteri Ketenagakerjaan Lina, perwakilan Kowani Putri, Rini dari Puri Indonesia, Harni dari KEN, serta Sally selaku pemilik Batik Trusmi. Pada penutupan acara dilakukan penyerahan cenderamata dari komunitas BAIK sebagai simbol persahabatan dan kolaborasi.
Bagi Anindiya, pengalaman di Yala menjadi momentum penting. “Saya berharap langkah kecil ini bisa menginspirasi generasi muda lain untuk bangga membawa budaya Indonesia ke tingkat internasional,” tuturnya.
