Jakarta, TeropongJakarta.com – Ketika dua anak sudah terlelap, sebagian orang mungkin memilih beristirahat. Namun, bagi Ayu, waktu tersebut justru menjadi kesempatan untuk kembali produktif. Di tengah kesibukannya mengurus keluarga, ia memanfaatkan waktu yang tersisa untuk membuat konten dan menjalankan pekerjaan dari rumah.
Ayu kini tinggal di Sragen, Jawa Tengah. Meski begitu, ia memilih Solo sebagai bagian dari branding dirinya sebagai content creator. Keputusan tersebut tidak terlepas dari perjalanan hidupnya yang cukup lama tinggal di Kota Solo sebelum akhirnya kembali ke Sragen setelah memiliki anak.
Perjalanan Ayu di dunia konten bermula ketika anak pertamanya lahir. Saat itu, ia mulai membagikan konten seputar parenting dan berbagai produk yang berkaitan dengan kebutuhan anak. Awalnya, aktivitas tersebut dilakukan secara sederhana tanpa target untuk menjadikannya sebagai sumber penghasilan.
Namun, peluang datang dari arah yang tidak disangka. Salah satu brand melihat konten Ayu dan kemudian mengajaknya bekerja sama. Dari kolaborasi pertama tersebut, ia mulai menyadari bahwa aktivitas berbagi pengalaman di media sosial ternyata dapat membuka peluang ekonomi.

“Awalnya cuma iseng-iseng sharing produk. Ternyata ada salah satu brand yang melirik dan mengajak kerja sama. Dari situ malah jadi cuan dan semakin banyak yang menawarkan kerja sama,” ungkap Ayu.
Seiring konsistensinya membuat konten, hubungan dengan audiens juga semakin terbangun. Para pengikut Ayu tidak hanya melihat kontennya sebagai hiburan, tetapi juga menjadikannya tempat untuk mencari referensi.
Ia cukup sering menerima pesan langsung dari followers yang menanyakan rekomendasi berbagai produk, baik kebutuhan anak maupun barang untuk orang dewasa. Respons tersebut menjadi dorongan tersendiri bagi Ayu untuk terus membuat konten yang bermanfaat.
“Followers sering tanya rekomendasi barang anak atau barang dewasa lewat DM. Dari situ saya jadi semakin semangat untuk terus ngonten,” tuturnya.

Di balik konsistensi tersebut, ada proses yang tidak selalu mudah. Ayu harus membagi waktu antara mengurus dua anak, menjalankan pekerjaan kantor dari rumah, dan menyelesaikan berbagai kebutuhan konten.
Sebagai ibu yang mengurus anak-anaknya sendiri secara penuh, ia tidak memiliki banyak waktu khusus untuk bekerja. Karena itu, momen ketika anak-anak tidur menjadi waktu yang dimanfaatkan Ayu untuk mengerjakan konten maupun pekerjaan lainnya.
Baginya, produktif bukan berarti harus meninggalkan peran sebagai ibu. Justru dari rumah, ia menemukan cara untuk tetap berkembang sekaligus menghasilkan sesuatu.

Melalui pengalamannya, Ayu ingin para ibu rumah tangga tidak merasa bahwa berada di rumah menjadi batas untuk berkarya.
“Untuk mama-mama IRT, jangan patah semangat. Walaupun di rumah, kalian juga bisa berkarya dan menghasilkan uang,” pesannya.
Kisah Ayu menunjukkan bahwa peluang terkadang muncul dari hal sederhana. Berawal dari kebiasaan berbagi pengalaman sebagai seorang ibu, ia perlahan menemukan ruang untuk berkembang, membangun personal branding, dan menghasilkan dari aktivitas yang dijalani dari rumah.
