Surabaya, TeropongJakarta.com – Menjadi Mama dari anak-anak bulu membuat Rahmawati Setyaningtias atau yang akrab menggunakan nickname hanatahikaru di media sosial, semakin memahami bahwa satwa juga memiliki rasa takut, nyaman, sakit, hingga kehilangan.
Perempuan yang tinggal di Surabaya tersebut sehari-hari berkarier sebagai banker di Bank Jatim, tepatnya di Divisi Human Capital pada Group Corporate Culture. Meski sibuk dengan pekerjaan, kepeduliannya terhadap satwa tetap diwujudkan melalui aksi nyata. Salah satunya dengan menjadi donatur tetap di sejumlah shelter anjing dan kucing.
Rahmawati sendiri berasal dari kawasan lereng Gunung Lawu, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Kedekatannya dengan alam dan kecintaannya terhadap hewan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kepeduliannya terhadap lingkungan.

“Awalnya mungkin sederhana, karena saya memang seorang Mama dari anak-anak bulu. Hidup bersama mereka membuat saya belajar bahwa satwa juga punya rasa takut, rasa nyaman, rasa sakit, bahkan rasa kehilangan,” ujar Rahmawati.
Menurutnya, satwa tidak dapat menyampaikan apa yang mereka rasakan melalui kata-kata. Karena itu, manusia memiliki tanggung jawab untuk lebih peka dan memperhatikan keberlangsungan hidup mereka.
Perhatian Rahmawati terhadap satwa semakin kuat ketika melihat berbagai pemberitaan mengenai kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang berdampak terhadap kehidupan satwa.
Sebagai pencinta hewan, ia mengaku sedih membayangkan satwa harus menghadapi kebakaran yang mengancam habitat dan kehidupannya. Tidak sedikit satwa yang harus kehilangan tempat tinggal, sumber makanan, hingga nyawa akibat kerusakan habitat.
“Jujur, sebagai seorang Mama dari anak bulu, melihat berita karhutla dan satwa yang terjebak di dalamnya itu sangat menyakitkan,” tuturnya.

Meski diliputi kesedihan, Rahmawati mengingatkan agar kepedulian tidak berhenti pada rasa iba. Menurutnya, perhatian masyarakat justru perlu diarahkan pada upaya penyelamatan serta pemulihan satwa yang masih dapat diselamatkan.
“Jangan sampai rasa sedih hanya berhenti sebagai rasa iba. Saya percaya selalu ada sesuatu yang bisa kita lakukan. Sekecil apa pun kontribusi kita, kalau dilakukan bersama-sama, dampaknya bisa menjadi jauh lebih besar,” katanya.
Rahmawati menyadari tidak semua orang memiliki kesempatan untuk turun langsung ke lokasi bencana atau terlibat dalam proses penyelamatan satwa. Namun, kondisi tersebut bukan alasan untuk tidak berbuat sesuatu.
Ia mengajak masyarakat memulai kepedulian dari hal-hal sederhana, seperti mengurangi sampah, menjaga lingkungan, tidak membeli atau memelihara satwa liar secara sembarangan, serta tidak merusak habitat alami.
Selain itu, masyarakat juga dapat memberikan dukungan kepada organisasi atau komunitas yang memiliki program nyata untuk konservasi dan kesejahteraan satwa.
“Tidak semua orang punya kesempatan untuk turun langsung ke lokasi bencana, tetapi kita bisa membantu orang-orang yang berada di sana melalui dukungan yang kita berikan,” jelasnya.

Bagi Rahmawati, nilai sebuah bantuan bukan hanya ditentukan oleh jumlahnya. Hal terpenting adalah kemauan untuk berbagi dan memastikan bantuan diberikan melalui wadah yang dipercaya serta memiliki program yang jelas.
Menariknya, kepedulian Rahmawati terhadap satwa juga akan diwujudkan melalui momentum ulang tahunnya yang jatuh pada bulan ini.
Alih-alih menjadikan pertambahan usia hanya sebagai momen menerima hadiah, ia ingin menggunakannya sebagai kesempatan untuk bersyukur sekaligus berbagi kepada satwa yang membutuhkan.
Salah satu rencananya adalah memberikan dukungan untuk monyet-monyet di Bali yang terdampak kehilangan habitat. Ia ingin bantuan tersebut disalurkan melalui pihak atau organisasi yang bergerak di bidang konservasi dan kesejahteraan satwa.
“Saya memilih satwa primata di Bali karena saya melihat isu kehilangan habitat sebagai sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan satwa. Ketika habitat mereka terganggu atau hilang, dampaknya bukan hanya mereka kehilangan tempat tinggal, tetapi juga sumber makanan dan ruang untuk hidup secara alami,” ujarnya.
Bagi Rahmawati, bertambahnya usia seharusnya juga diiringi dengan bertambahnya rasa syukur dan kepedulian terhadap sesama makhluk hidup.
“Hadiah ulang tahun terbaik bukan selalu sesuatu yang bisa kita bawa pulang, tetapi sesuatu yang bisa membuat kehidupan makhluk lain menjadi sedikit lebih baik,” katanya.
Rahmawati berharap semakin banyak orang memahami bahwa menjaga satwa bukan sekadar bentuk kasih sayang kepada hewan, melainkan bagian dari menjaga keseimbangan lingkungan.
“Kita tidak harus menjadi aktivis lingkungan atau harus selalu berada di lokasi bencana untuk menunjukkan kepedulian. Kalau belum mampu menyelamatkan banyak satwa, mungkin kita bisa membantu satu. Kalau belum mampu turun ke lapangan, mungkin kita bisa berdonasi. Kalau belum mampu berdonasi besar, kita bisa menyebarkan informasi dan mengajak orang lain untuk peduli,” pungkasnya.
“Karena pada akhirnya, bumi ini bukan hanya milik manusia. Kita hidup berdampingan dengan mereka. Dan menjaga mereka berarti menjaga bagian dari ciptaan Tuhan yang juga dititipkan kepada kita,” tutup Rahmawati.
