Jakarta, TeropongJakarta.com – Menjadi seorang pengusaha tidak selalu berarti perjalanan yang penuh dengan keberhasilan. Ada masa ketika usaha belum berjalan sesuai harapan, hasil belum sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan, hingga muncul keraguan terhadap kemampuan diri sendiri. Fase tersebut juga pernah dilalui Fenny Eka Widokarti saat membangun bisnis kecantikan F.E LASH.
Sejak kecil, Fenny memang telah terbiasa melihat perjuangan sang ibu dalam menghadapi berbagai tantangan. Keteguhan, kerja keras, dan semangat pantang menyerah yang ditunjukkan sang ibu kemudian menjadi nilai yang membentuk cara Fenny memandang kehidupan, termasuk ketika mulai memasuki dunia bisnis.
“Sejak kecil, saya terinspirasi oleh perjuangan sang ibu yang menghadapi berbagai tantangan dengan keteguhan, kerja keras, dan semangat pantang menyerah,” ujar Fenny.
Bagi Fenny, keberhasilan tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa besar modal yang dimiliki. Keberanian untuk memulai, konsistensi, serta kemampuan bertahan ketika menghadapi kesulitan menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang entrepreneur.

Nilai tersebut kemudian mendorong Fenny untuk membangun kemandirian sekaligus menciptakan sesuatu yang dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Ketertarikannya terhadap dunia kecantikan akhirnya menjadi pintu masuk untuk mewujudkan keinginan tersebut.
Fenny melihat kecantikan bukan hanya persoalan penampilan. Menurutnya, layanan kecantikan juga dapat menjadi bagian dari proses seseorang membangun rasa nyaman dan percaya diri terhadap dirinya sendiri.
Berangkat dari ketertarikan tersebut, Fenny mulai mempelajari teknik eyelash extension dan memahami kebutuhan pelanggan. Ia kemudian memberanikan diri membangun F.E LASH di Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Bisnis tersebut mulai dirintis pada 2023. Seiring waktu, layanan yang ditawarkan berkembang menjadi one stop beauty solutions, mencakup lash, brow, nail, hingga hair.
Namun, perjalanan membangun bisnis dari nol tidak selalu berjalan mulus. Fenny harus mempelajari banyak hal sekaligus, mulai dari kualitas layanan, pemasaran, operasional, keuangan, hingga membangun tim.

Tantangan terbesar justru muncul ketika usaha belum berjalan sesuai harapan. Ada masa ketika waktu, tenaga, dan pikiran telah diberikan sepenuhnya, tetapi hasil yang diperoleh belum sebanding dengan perjuangan.
Kondisi tersebut sempat membuat Fenny meragukan dirinya sendiri. Ia bahkan pernah mempertanyakan apakah dirinya mampu membawa bisnis tersebut terus berkembang.
“Bagi saya, salah satu pengalaman paling sulit adalah menghadapi masa ketika usaha belum berjalan sesuai harapan. Ada saat ketika saya sudah memberikan waktu, tenaga, dan pikiran sepenuhnya, tetapi hasil yang didapat belum sebanding dengan perjuangan yang dilakukan,” katanya.
Tantangan Fenny tidak berhenti pada persoalan bisnis. Di balik perannya sebagai founder, ia juga menjalankan tanggung jawab sebagai ibu dan istri.
Membangun F.E LASH membutuhkan fokus, tenaga, waktu, dan komitmen. Di sisi lain, Fenny ingin tetap hadir untuk keluarganya, termasuk bagi dua putranya, Franklin dan Farssen.
Membagi energi di antara pekerjaan dan keluarga menjadi tantangan tersendiri. Ada kalanya kebutuhan bisnis datang bersamaan dengan kebutuhan keluarga yang juga membutuhkan perhatian.
Sebagai founder, Fenny harus memikirkan banyak hal, mulai dari pelayanan dan kualitas hingga pemasaran, keuangan, operasional, pengembangan tim, serta menjaga kepercayaan pelanggan.
Situasi tersebut membuat Fenny belajar bahwa membangun bisnis bukan hanya membutuhkan kemampuan secara profesional, tetapi juga kekuatan mental dan kemampuan mengatur prioritas.
“Tidak mudah untuk membagi waktu dan energi di antara semua peran tersebut. Ada kalanya saya harus mengurus kebutuhan bisnis, sementara di saat yang sama keluarga juga membutuhkan perhatian saya,” tuturnya.

Meski demikian, Fenny tidak melihat pengalaman tersebut sebagai alasan untuk berhenti. Justru dari berbagai tekanan yang dihadapi, ia belajar menjadi lebih kuat dan bijak dalam mengambil keputusan.
Bagi Fenny, pencapaian dalam berbisnis tidak selalu dapat diukur dari seberapa besar sebuah usaha berkembang atau berapa banyak pelanggan yang dimiliki.
Ada pencapaian lain yang menurutnya jauh lebih berarti, yakni kemampuan untuk bertahan ketika berada di masa sulit.
“Pencapaian terbesar bukan hanya ketika bisnis mulai dikenal atau ketika jumlah pelanggan bertambah, tetapi ketika saya mampu melewati masa-masa sulit tanpa kehilangan tujuan dan semangat,” ungkap Fenny.
Pengalaman tersebut mengajarinya bahwa perjalanan bisnis tidak selalu bergerak naik. Ada fase ketika usaha berada dalam kondisi sepi, muncul keraguan, bahkan perasaan seolah harus menghadapi semuanya seorang diri.
Namun, setiap fase tersebut memberikan pelajaran. Fenny belajar mengevaluasi diri, mengambil keputusan dengan lebih matang, dan memahami bahwa proses membutuhkan waktu.
Bagi Fenny, membangun bisnis pada akhirnya bukan hanya tentang pencapaian pribadi. Ia ingin perjalanan yang dilaluinya dapat membuka kesempatan bagi perempuan lain untuk berkembang.
Menurutnya, setiap perempuan memiliki potensi. Hanya saja, sebagian orang terkadang membutuhkan kesempatan, dukungan, atau keberanian untuk mengambil langkah pertama.

“Saya ingin menunjukkan bahwa perempuan juga bisa mandiri, berkarya, memiliki mimpi besar, dan membangun jalan kesuksesannya sendiri,” ujar Fenny.
Melalui bisnis yang dibangunnya, Fenny berharap dapat membuka peluang dalam pekerjaan maupun pengembangan keterampilan. Ia juga ingin perempuan lain tidak takut memulai hanya karena merasa belum memiliki semuanya.
Baginya, sebuah mimpi dapat tumbuh dari langkah kecil. Proses belajar, kesalahan, kegagalan, dan konsistensi merupakan bagian yang justru membentuk seseorang menjadi lebih kuat.
Fenny juga ingin F.E LASH tidak hanya dikenal sebagai tempat mendapatkan layanan kecantikan. Ia berharap bisnis tersebut dapat menjadi ruang yang membuat perempuan merasa lebih nyaman, dihargai, dan percaya diri.
Jika suatu saat perjalanannya mampu membuat perempuan lain berani memulai, bangkit dari keterbatasan, atau kembali percaya terhadap mimpinya, hal tersebut menjadi salah satu pencapaian yang paling berarti bagi Fenny.

“Saya mungkin belum mencapai semua tujuan yang saya impikan, tetapi saya bangga karena saya tidak berhenti di tengah jalan,” katanya.
Perjalanan Fenny menjadi pengingat bahwa keberanian bukan berarti tidak pernah merasa takut atau ragu. Keberanian adalah ketika seseorang tetap memilih melangkah meski berbagai tantangan masih menghadang.
Dari keteladanan sang ibu, Fenny belajar tentang keteguhan. Dari perjalanan membangun bisnis, ia belajar tentang konsistensi. Sementara dari perannya sebagai ibu dan istri, ia belajar tentang keseimbangan dan tanggung jawab.
Kini, semua pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan Fenny sebagai seorang womanpreneur. Ia tidak hanya ingin membangun bisnis yang bertumbuh, tetapi juga menjadi perempuan yang mampu bertumbuh bersama dan memberi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.
