Bali, TeropongJakarta.com – Tato masih kerap dipandang dengan stigma negatif oleh sebagian masyarakat. Namun, bagi Putu Ayu Eka D., perempuan kelahiran Mayong, 29 Juni 1995, tato justru menjadi bagian dari perjalanan hidup sekaligus media untuk mengekspresikan diri.
Perempuan yang akrab disapa Mocca itu mengaku keputusan memiliki tato berawal dari kecintaannya terhadap seni tato. Baginya, setiap gambar yang terukir di tubuh bukan sekadar hiasan, tetapi menyimpan cerita dan makna personal.
“Buat aku, tato itu ibarat buku harian yang menjadi bagian dari perjalanan hidup. Hampir semua tato di badan aku memiliki cerita yang menandai siklus hidup yang sudah aku lewati, baik saat bahagia maupun ketika sedang tidak baik-baik saja,” ujar Mocca.
Mocca mengatakan, sebagian besar tato yang dimilikinya memiliki makna doa yang ia tujukan untuk dirinya sendiri. Karena itu, tato menjadi salah satu cara baginya untuk mengingat berbagai fase kehidupan sekaligus menunjukkan identitas personal.

“Tato di badanku lebih banyak mengandung makna doa yang aku tujukan untuk diriku sendiri. Itu yang menjadikan aku autentik,” katanya.
Mocca memahami bahwa tato memiliki sejarah panjang dan pada masa tertentu kerap dikaitkan dengan hukuman, identitas kelompok, hingga dunia kriminal. Namun, menurutnya, perkembangan industri tato membuat persepsi tersebut perlahan berubah.
Kehadiran seniman tato dengan kemampuan artistik tinggi turut menempatkan tato sebagai bagian dari karya seni. Bahkan, terdapat karya tato yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi.
“Sekarang semakin banyak seniman tato yang mengedepankan nilai seni tinggi. Jadi, menurut aku, memiliki tato di zaman ini bukan lagi sekadar bentuk kriminalitas, tetapi lebih kepada lifestyle, otonomi, dan klaim atas tubuh sendiri,” ujarnya.

Bagi Mocca, perempuan yang memiliki tato juga menunjukkan bentuk keberanian dalam menentukan pilihan atas tubuhnya. Ia menilai tubuh dapat menjadi jurnal visual yang merekam perjalanan, nilai hidup, kreativitas, dan pengalaman seseorang.
Mocca mengaku pernah menghadapi pandangan negatif karena penampilannya. Namun, ia memilih menjawab stigma tersebut melalui sikap dan karya.
“Buktikan kepada mereka bahwa orang yang bertato bisa melakukan apa pun dan bisa menjadi apa pun,” tuturnya.
Menurutnya, karakter autentik justru membuat sejumlah brand tertarik bekerja sama dengannya. Ia percaya penampilan bukan satu-satunya ukuran untuk menilai seseorang.

“Intinya kembali kepada attitude diri sendiri. Semakin bagus attitude-mu, semakin layak kamu dihargai walaupun badan penuh tato sekalipun,” katanya.
Mocca juga melihat Bali sebagai wilayah yang memiliki ruang besar bagi ekspresi seni. Menurutnya, budaya Bali yang lekat dengan seni membuat tato lebih mudah diterima sebagai karya visual.
Ia pun berpesan agar setiap orang berani menjalani pilihan hidupnya tanpa terlalu terikat penilaian orang lain.
“Penilaian masyarakat akan selalu ada. Hidup ini terlalu berharga jika hanya dijalani untuk memenuhi ekspektasi orang lain,” ujar Mocca.
