Jakarta, TeropongJakarta.com – Di tengah perubahan dunia kerja yang semakin inklusif, industri pertambangan perlahan menunjukkan wajah baru. Semakin banyak perempuan mengambil peran strategis di sektor yang selama ini identik dengan laki-laki. Namun, bagi Tutie Amaliah, S.Si., MBA, perjalanan itu bukan tentang membuktikan bahwa perempuan mampu bersaing. Baginya, karier adalah ruang untuk terus bertumbuh, belajar, dan menjaga integritas.
Cara pandang itulah yang menemani lebih dari 15 tahun perjalanan Tutie di bidang supply chain. Ia mengaku tidak pernah merancang kariernya secara sempurna, apalagi bercita-cita menjadi seorang pemimpin di industri tambang. Setiap kesempatan yang datang justru ia maknai sebagai amanah yang harus dijalankan dengan sepenuh hati.
“Perjalanan saya tidak pernah direncanakan secara sempurna. Saya percaya setiap kesempatan yang datang adalah amanah yang harus dijalani dengan sungguh-sungguh,” ujarnya.
Berbagai pengalaman, mulai dari menghadapi tantangan operasional, berpindah tanggung jawab, hingga mengambil keputusan penting, perlahan membentuk cara pandangnya tentang kepemimpinan. Menurut Tutie, karier bukanlah perlombaan mengejar jabatan, melainkan proses panjang membangun kepercayaan.

“Ada satu prinsip yang selalu saya pegang, yaitu bertumbuh, bukan berlomba. Saya tidak pernah menjadikan perjalanan orang lain sebagai tolok ukur keberhasilan saya. Fokus saya adalah terus belajar, memperbaiki diri, dan memberikan manfaat yang lebih besar dari hari ke hari,” katanya.
Baginya, kompetensi memang membuka peluang, tetapi integritaslah yang membuat seseorang dipercaya memegang tanggung jawab yang lebih besar. Nilai tersebut menjadi fondasi yang selalu ia bawa dalam setiap langkah kariernya.
Bekerja di industri yang masih didominasi laki-laki tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Namun, Tutie memilih untuk tidak menjadikan perbedaan gender sebagai hambatan. Ia lebih percaya bahwa hasil kerja yang konsisten akan berbicara lebih kuat daripada berbagai stereotip.
Menurutnya, tantangan terbesar justru datang dari ekspektasi bahwa perempuan sering kali harus bekerja lebih keras untuk memperoleh tingkat kepercayaan yang sama. Pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa kepercayaan dibangun melalui kompetensi, konsistensi, dan integritas yang dijaga dari waktu ke waktu.

Ia juga memiliki definisi kepemimpinan yang berbeda. Bagi Tutie, seorang pemimpin bukanlah orang yang paling keras menyampaikan pendapat, melainkan mereka yang mampu mendengarkan, membangun kolaborasi, mengambil keputusan dengan bijaksana, dan tetap rendah hati untuk terus belajar.
Perspektif itu pula yang membuatnya percaya bahwa perempuan membawa kekuatan tersendiri dalam membangun tim, terutama dalam menciptakan komunikasi yang terbuka dan budaya kerja yang saling mendukung.
Di balik tanggung jawab profesionalnya, keluarga tetap menjadi tempat Tutie kembali. Ia tidak percaya kehidupan harus selalu berada dalam kondisi yang benar-benar seimbang setiap saat. Ada masa ketika pekerjaan membutuhkan perhatian lebih besar, tetapi ada pula fase ketika keluarga menjadi prioritas utama.
“Kuncinya adalah hadir sepenuhnya dalam setiap peran yang sedang kita jalani,” ungkapnya.
Bagi Tutie, keluarga adalah sumber energi, sementara pekerjaan merupakan ruang untuk berkarya dan memberi manfaat yang lebih luas. Karena itu, ia terus membiasakan diri untuk belajar melalui membaca, menulis, berdiskusi, mengikuti perkembangan teknologi, dan menyerap pengalaman dari banyak orang. Menurutnya, semakin besar tanggung jawab yang dimiliki seseorang, semakin besar pula kewajibannya untuk terus mengembangkan diri.

Melalui perjalanan kariernya, Tutie berharap perempuan muda tidak ragu memasuki bidang apa pun, termasuk industri yang selama ini dianggap bukan ruang bagi perempuan. Dunia kerja saat ini, menurutnya, lebih membutuhkan pribadi yang mampu beradaptasi, berpikir kritis, berkolaborasi, dan menjaga integritas daripada sekadar memenuhi stereotip.
Di tengah budaya yang sering mendorong orang membandingkan pencapaiannya dengan orang lain, Tutie memilih jalan yang berbeda. Ia percaya kesuksesan bukan diukur dari seberapa cepat seseorang mencapai puncak karier, melainkan dari seberapa besar manfaat yang diberikan, seberapa banyak orang yang ikut bertumbuh bersama, serta seberapa baik kepercayaan tetap dijaga.
Sebab, pada akhirnya, hidup bukanlah perlombaan untuk menjadi yang paling depan. Hidup adalah perjalanan untuk terus bertumbuh, menjalani setiap proses dengan integritas, dan meninggalkan jejak yang bermakna bagi orang lain.
