Bandung, TeropongJakarta.com – Bagi sebagian orang, seni masih sering dipandang sebagai sekadar hobi atau aktivitas hiburan. Namun, pandangan tersebut tidak berlaku bagi Shantiena Biduri Fitrianie, S.T.Sn., M.Pd., yang lebih dikenal sebagai Shantiena Sunarya. Perempuan asal Giriharja, Jelekong, Kabupaten Bandung, Jawa Barat ini telah mengabdikan hidupnya untuk dunia seni dan membuktikan bahwa berkesenian merupakan profesi yang membutuhkan keahlian, pendidikan, serta profesionalisme tinggi.
Lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga seniman, Shantiena sudah akrab dengan dunia seni sejak usia dini. Ayah dan ibunya merupakan lulusan sarjana seni, sementara sang kakek dikenal sebagai maestro wayang golek Sunda yang turut membesarkan nama Giriharja sebagai salah satu pusat kesenian tradisional di Jawa Barat.
“Sejak kecil saya hidup di lingkungan yang sangat dekat dengan seni. Saya belajar menari, menyanyi, modeling, hingga akting. Seni sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujar Shantiena.

Kecintaannya terhadap seni terus berkembang seiring waktu. Ia aktif mengikuti berbagai perlombaan menyanyi dan bahkan pernah mengikuti ajang pencarian bakat di televisi nasional. Tak hanya itu, Shantiena juga terjun ke dunia teater, sinetron, presenter, MC, hingga menjadi talent televisi.
Keseriusannya dalam berkesenian tidak hanya ditunjukkan melalui pengalaman di lapangan, tetapi juga lewat jalur akademik. Ia menempuh pendidikan seni hingga jenjang magister. Setelah menyelesaikan studi seni dan perfilman di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, ia melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar Magister Pendidikan Seni.
Menurut Shantiena, pendidikan menjadi modal penting untuk memahami seni secara lebih luas. Ia menilai masih banyak masyarakat yang belum memahami bahwa seni memiliki peran strategis dalam berbagai bidang kehidupan.

“Seni bukan hanya soal hiburan. Di dalamnya ada aspek sosial, pendidikan, teknologi, hingga ekonomi kreatif yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” katanya.
Shantiena menjelaskan bahwa dunia seni memiliki ekosistem yang luas. Tidak semua pelaku seni harus menjadi seniman yang tampil di atas panggung. Ada yang berperan sebagai akademisi, praktisi, pengelola kegiatan seni, hingga pelaku ekonomi kreatif yang menciptakan nilai ekonomi melalui karya budaya.
Saat ini, ia aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan dan event kesenian tingkat daerah maupun nasional. Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi para pelaku seni untuk menampilkan karya sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada generasi muda.
Dukungan keluarga menjadi salah satu faktor yang membuatnya terus berkembang. Ke depan, Shantiena memiliki cita-cita untuk menjadi tenaga pengajar atau dosen seni agar dapat membagikan ilmu dan pengalamannya kepada generasi berikutnya.

Di tengah perkembangan teknologi dan industri kreatif yang semakin pesat, ia meyakini bahwa pelaku seni harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan identitas budaya yang dimiliki.
Shantiena pun memegang teguh filosofi Sunda yang menjadi pedoman hidupnya, yaitu “ulah tinggaleun jaman, ulah miheulaan jaman, anu hade mah nu bisa ngigelan jaman.” Filosofi tersebut mengajarkan bahwa seorang pelaku seni tidak boleh tertinggal oleh perkembangan zaman, namun juga tidak perlu terburu-buru mendahuluinya. Yang terpenting adalah mampu menyesuaikan diri dengan perubahan, terus belajar, dan tetap menjaga nilai budaya agar tetap hidup di tengah masyarakat modern.
