Oplus_131072
Kudus, TeropongJakarta.com – Di tengah citra polisi yang kerap dianggap tegas dan kaku, Bripda Marita Dwi Santoso justru hadir dengan pendekatan berbeda. Sebagai anggota Satlantas Polres Kudus, ia percaya bahwa tugas polisi bukan hanya menegakkan hukum, tetapi juga membangun rasa aman lewat sentuhan humanis.
Bagi Marita, hal-hal sederhana justru menjadi kunci kedekatan dengan masyarakat. Mulai dari menyapa pengguna jalan, membantu menyeberangkan pejalan kaki, hingga berinteraksi langsung dengan warga saat bertugas di lapangan.
“Ketika masyarakat merasa dihargai dan didengar, di situlah rasa aman dan nyaman mulai terbentuk secara alami,” ujarnya.
Pendekatan ini ia terapkan dalam keseharian, baik saat patroli maupun pengaturan lalu lintas. Ia ingin kehadiran polisi tidak hanya dilihat sebagai aparat penegak hukum, tetapi juga sebagai sosok yang ramah dan bisa didekati.

Namun, Marita juga menyadari bahwa tidak semua situasi bisa diselesaikan dengan cara humanis. Dalam kondisi tertentu, tindakan tegas tetap diperlukan demi menjaga ketertiban.
“Masih ada anggapan polisi harus keras agar dihormati. Padahal, menurut saya, dihormati karena kebaikan, ketulusan, dan keadilan justru lebih kuat dampaknya,” jelasnya.
Di balik tugasnya, ada banyak momen yang membekas dan memperkuat alasan Marita memilih pendekatan ini. Salah satunya saat ia mengunjungi anak-anak disabilitas di panti asuhan. Meski hidup dengan keterbatasan, semangat dan senyum tulus mereka justru menjadi pengingat untuk selalu bersyukur.

“Mereka menyambut dengan hangat. Itu yang bikin saya terus ingat untuk bekerja dengan hati,” katanya.
Momen lain yang tak kalah berkesan adalah ketika ia membantu seorang anak yang sedang sakit dan ingin dijemput menggunakan mobil polisi dari rumah sakit. Permintaan sederhana itu ia wujudkan, dan baginya, hal kecil tersebut bisa memberi dampak besar bagi kepercayaan masyarakat.
Tak hanya itu, Marita juga pernah diminta orang tua untuk menegur anaknya yang kecanduan bermain ponsel. Alih-alih menakut-nakuti, ia memilih pendekatan santai dengan mengajak anak tersebut berbincang dan bercanda.

“Saya tidak ingin anak-anak takut pada polisi. Justru saya ingin mereka merasa nyaman dan bisa belajar mengatur waktu dengan baik,” ungkapnya.
Melalui langkah-langkah kecil yang konsisten, Bripda Marita Dwi Santoso menunjukkan bahwa pendekatan humanis bukan sekadar konsep, melainkan cara nyata membangun hubungan antara polisi dan masyarakat. Dari senyum, sapaan, hingga kepedulian, ia membuktikan bahwa rasa aman bisa tumbuh dari hal-hal sederhana yang dilakukan dengan tulus.
