Semarang, TeropongJakarta.com – Menjalani peran sebagai pekerja kantoran sekaligus ibu dari empat anak sering kali identik dengan kelelahan tanpa jeda. Tuntutan pekerjaan, urusan rumah tangga, hingga kebutuhan anak bisa datang bersamaan dan memicu stres. Namun bagi Artha Avia Ajeng P, perempuan asal Semarang, kondisi tersebut justru menjadi alasan untuk semakin menjaga work life balance.
Alih-alih mengejar kesempurnaan di semua peran, Ajeng memilih fokus pada keseimbangan hidup. Baginya, menjadi produktif di kantor dan hadir untuk keluarga tetap bisa berjalan beriringan, selama ia tidak melupakan kebutuhan dirinya sendiri.
“Aku selalu nyempetin me time, walaupun cuma satu jam sehari. Itu penting banget biar gak stres dan tetap happy,” ujarnya.
Di tengah kesibukan, Ajeng rutin melakukan berbagai aktivitas yang membantunya tetap waras. Mulai dari olahraga seperti gym dan tenis hingga melakukan self-care, semua ia lakukan sebagai bentuk investasi jangka panjang bagi kesehatan fisik dan mentalnya. Ia percaya, tubuh yang sehat dan pikiran yang tenang adalah modal utama untuk menjalani peran yang kompleks setiap hari.

Menurut Ajeng, work life balance bukan sekadar istilah populer, melainkan kebutuhan nyata agar seseorang bisa tetap produktif tanpa harus mengalami burnout. Ia pun menyadari bahwa tekanan terbesar sering kali datang dari diri sendiri, terutama ketika terlalu memaksakan standar kesempurnaan.
“Prioritasku bukan kesempurnaan, tapi keseimbangan. Jadi aku gak terlalu keras sama diri sendiri,” katanya.
Untuk menjaga keseimbangan tersebut, Ajeng menerapkan beberapa strategi sederhana namun konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, ia mengatur waktu dan menetapkan batasan yang jelas. Setelah jam kerja selesai, ia berusaha sepenuhnya fokus pada keluarga dan dirinya sendiri. Quality time menjadi hal yang tidak bisa ditawar, meskipun hanya dalam bentuk momen-momen sederhana di rumah.
Kedua, ia selalu menyisipkan me time di sela rutinitas. Baginya, waktu untuk diri sendiri tidak harus panjang. Bahkan satu jam sehari sudah cukup untuk mengembalikan energi dan menjaga suasana hati tetap stabil.
Ketiga, Ajeng mengubah pola pikirnya tentang hidup. Ia tidak lagi menargetkan kesempurnaan, melainkan kebahagiaan. Dengan begitu, ia bisa menjalani perannya sebagai ibu dan pekerja tanpa tekanan berlebih.
Keempat, ia menghindari kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Ajeng percaya setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda, sehingga fokus pada diri sendiri jauh lebih sehat secara mental.
Kelima, ia menjaga lingkungan sosial yang positif. Dukungan dari orang-orang terdekat menjadi salah satu faktor penting yang membantunya tetap kuat menghadapi berbagai tantangan.
Terakhir, Ajeng tidak lupa mengapresiasi dirinya sendiri. Sekecil apa pun pencapaian yang diraih, baik di kantor maupun dalam mengurus keluarga, ia anggap sebagai bentuk progres yang patut disyukuri.
Lebih jauh, Ajeng memandang olahraga dan self-care bukan sekadar tren gaya hidup. Baginya, semua itu adalah bentuk persiapan untuk masa depan. Ia ingin tetap aktif, sehat, dan percaya diri seiring bertambahnya usia.

“Semua yang aku lakukan sekarang itu buat masa depan. Aku pengen tetap aktif, fit, dan bahagia di usia nanti,” ungkapnya.
Kisah Ajeng menjadi gambaran bahwa perempuan dengan banyak peran tetap bisa menjalani hidup secara seimbang tanpa harus kehilangan dirinya sendiri. Di tengah tekanan dan ekspektasi, menjaga kesehatan fisik dan mental justru menjadi kunci utama.
Pada akhirnya, work life balance bukan tentang membagi waktu secara sempurna, melainkan tentang bagaimana seseorang bisa tetap merasa utuh, bahagia, dan tidak kehilangan arah di tengah berbagai tanggung jawab yang dijalani.
