Jakarta, TeropongJakarta.com – Tidak semua anak muda berani melangkah keluar dari zona nyaman. Namun, hal itulah yang justru menjadi titik balik bagi Riza Saphira, atau yang akrab disapa Icha, dalam membentuk cara pandangnya terhadap dunia dan masa depan.
Saat ini, Icha tengah menempuh studi Magister Kenotariatan di Universitas Indonesia setelah sebelumnya lulus Sarjana Hukum cumlaude dari Universitas Airlangga. Di tahun terakhir masa studi S1 nya, ia menjadi awardee IISMA yang membawanya menjalani program pertukaran pelajar non-degree selama satu semester di Radboud University, Belanda.
Bagi Icha, pengalaman belajar di luar negeri bukan sekadar soal akademik, tetapi juga tentang mengenal dunia lebih luas. Ia mengaku, kesempatan tersebut memberinya banyak pelajaran berharga, mulai dari memahami perbedaan budaya hingga membangun relasi dengan orang-orang dari berbagai negara.

“Ketika kita keluar dari zona nyaman, kita jadi sadar bahwa dunia itu luas dan penuh peluang,” ujarnya.
Menariknya, ketertarikan Icha terhadap dunia hukum tidak datang secara instan. Ia mengaku, minat tersebut berawal dari kegemarannya membaca buku karya Tere Liye. Dari sana, ia mulai tertarik untuk masuk ke jurusan hukum, mendalami ilmunya, hingga akhirnya menemukan minat yang kuat di bidang kenotariatan.
Saat ini, selain menjalani pendidikan S2, Icha juga aktif bekerja di sebuah perusahaan startup. Tak hanya itu, ia juga membangun platform bimbingan belajar bernama OSA World Pathways yang berfokus membantu persiapan studi ke luar negeri.

Melalui OSA World Pathways, Icha ingin mendorong lebih banyak anak muda untuk berani mencoba pengalaman baru, khususnya dalam menempuh pendidikan di luar negeri. Ia percaya, pengalaman tersebut tidak hanya memberikan pengetahuan akademik, tetapi juga memperluas wawasan dan cara berpikir.
“Studying abroad itu bukan cuma soal pendidikan, tapi juga pengalaman hidup dan cara kita melihat dunia,” katanya.
Di tengah berbagai kesibukannya, Icha mengaku cukup menikmati proses dalam membagi waktu. Ia menjalani kuliah secara offline setengah hari, sementara aktivitas kerja dan pengembangan OSA World Pathways ia lakukan secara online/hybrid di waktu yang tersisa.
Tak berhenti di situ, Icha juga memiliki visi sosial dalam perjalanan yang ia bangun. Ke depannya, ia berencana menyalurkan sebagian keuntungan dari OSA World Pathways untuk membantu pembiayaan tes bahasa Inggris maupun proses pendaftaran bagi pelajar berprestasi yang membutuhkan.

Ke depan, Icha juga berencana mengikuti ajang Abang None Jakarta Barat sebagai wadah untuk memperluas kontribusinya. Ia ingin menyampaikan bahwa anak muda memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak perubahan.
“Kita bukan cuma penonton. Anak muda bisa jadi penggerak, mulai dari hal kecil, selama kita mau peduli dan terus berkembang,” tuturnya.
Ia pun menekankan pentingnya tetap menjaga identitas dan budaya di tengah perkembangan zaman. Baginya, kemajuan harus berjalan seiring dengan kemampuan untuk tetap berpegang pada jati diri.
Kisah Icha menjadi pengingat bahwa keberanian untuk melangkah dan konsistensi dalam berkembang dapat membuka banyak peluang, sekaligus memberi dampak bagi orang lain.
