Bekasi, TeropongJakarta.com – Bagi dr. Wresty Arief, Sp.THT-KL, waktu adalah komoditas yang sangat berharga. Sebagai seorang dokter spesialis THT yang bekerja dari Senin hingga Jumat, ia menghabiskan hari-harinya melayani pasien dengan penuh dedikasi. Namun, di balik rutinitas medis yang padat, ia juga seorang ibu yang hadir sepenuhnya untuk ketiga anaknya yang masih kecil, berusia 10, 6, dan 4 tahun.
“Bagi saya, 24 jam sehari terasa tidak cukup. Saya tipe orang yang tidak bisa diam. Namun, saya berusaha untuk memanfaatkan setiap momen yang ada,” ujar dr. Wresty, menggambarkan bagaimana ia berusaha mengatur waktu antara pekerjaan dan keluarga.
Setelah bekerja sebagai dokter dari pagi hingga sore, dr. Wresty memastikan untuk pulang tepat waktu dan menghabiskan sore hari dengan anak-anaknya. “Saya mengantar jemput anak-anak ke les, memastikan mereka belajar dan beribadah, dan tentu saja bermain bersama mereka. Itu adalah waktu yang saya utamakan,” tambahnya.

Namun, meskipun perannya sebagai ibu dan dokter sangat menyita waktu, dr. Wresty tidak pernah mengabaikan pentingnya menjaga kesehatan pribadi. Dua tahun terakhir, ia mulai serius menekuni olahraga lari. “Lari adalah olahraga yang praktis. Saya bisa berlari kapan saja, di sekitar rumah, tanpa perlu menunggu teman atau pergi jauh,” kata dr. Wresty.
Lari telah memberinya banyak manfaat, baik fisik maupun mental. “Saya merasa lebih sehat dan bugar. Sejak rutin berlari, saya hampir tidak pernah sakit parah. Stamina saya semakin terjaga meskipun saya terus aktif bekerja dan menjaga anak-anak,” ungkapnya. Bagi dr. Wresty, lari juga menjadi sarana untuk menjaga ketenangan pikiran, yang membantunya tetap fokus dan sabar dalam menghadapi berbagai tantangan keluarga dan pekerjaan.
Selain pekerjaan medis dan rutinitas olahraga, pandemi membawa kesempatan baru bagi dr. Wresty untuk mengembangkan hobi lain, yaitu baking. “Selama pandemi, saya ingin memanfaatkan waktu dengan hal yang produktif. Baking menjadi cara saya untuk mengekspresikan kreativitas dan memberi kebahagiaan kepada orang lain,” kenangnya.

Bisnis kecil-kecilan ini berjalan lancar, dengan banyak pelanggan yang kembali memesan. “Respons yang saya terima sangat positif, dan bisnis saya berkembang pesat. Namun, saya menghadapi tantangan besar dalam mengelola semuanya seorang diri,” kata dr. Wresty. Akibatnya, kelelahan fisik dan kesulitan mencari bantuan membuatnya memutuskan untuk menghentikan sementara bisnis tersebut. “Saya merasa harus fokus pada keluarga dan menjaga kesehatan saya terlebih dahulu,” ujarnya.
Meskipun banyak yang mendorongnya untuk kembali melanjutkan bisnis kuliner dan kerajinan tangan, dr. Wresty memilih untuk menunggu waktu yang tepat. “Saya paham bahwa rejeki tidak akan kemana. Jika anak-anak saya sudah lebih mandiri, saya pasti akan kembali melanjutkan bisnis saya. Namun, untuk saat ini, mereka adalah prioritas utama saya,” jelasnya.

Sebagai seorang ibu dan profesional medis, dr. Wresty menyadari bahwa keseimbangan hidup adalah kunci untuk mencapai kebahagiaan dan kesuksesan sejati. “Pekerjaan saya sebagai dokter adalah panggilan hidup, namun keluarga adalah segalanya. Saya ingin hadir sepenuhnya dalam kehidupan anak-anak saya, terutama di masa-masa awal perkembangan mereka,” kata dr. Wresty dengan penuh keyakinan.
Pesan dari dr. Wresty: “Tentukan prioritas hidupmu dengan jelas. Utamakan tanggung jawabmu, karena dunia ini penuh tantangan. Gunakan waktu sebaik-baiknya, dan jangan pernah lelah untuk bermimpi dan berusaha. Insya Allah, jalan akan terbuka.”
Dengan semangat yang kuat untuk terus memberikan yang terbaik bagi pasien, keluarga, dan dirinya sendiri, dr. Wresty Arief menjadi contoh nyata dari seseorang yang mampu menjaga keseimbangan antara karier, keluarga, dan kesehatan pribadi. Ia menginspirasi banyak orang bahwa meskipun hidup penuh dengan kesibukan, kita bisa tetap menjalani hidup yang seimbang dan bermakna.
